419 Mahasiswa FIK Ikuti Program KKN IPE AIK

Dikirim oleh ridlo pada Rab, 03/28/2018 - 08:14
kkn-fkip-ipe-aik

Sebanyak 419 mahasiswa semester 6 dari empat program studi Fakultas Ilmu Kesehatan (FIK) Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) mengikuti program Kuliah Kerja Nyata-Inter Profesional Education-berbasis Al Islam Kemuhammadiyahan (KKN-IPE-AIK), di Kabupaten Boyolali.

“Pelaksanaan KKN-IPE-AIK kali ini mengkolaborasikan mahasiswa Keperawatan, Fisioterapis, Ilmu Gizi, dan Kesehatan Masyarakat. Mereka ditempatkan di Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Boyolali dan disebar ke tujuh Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM). Dari PCM akan disalurkan ke masing-masing ranting,” ungkap Rektor UMS, Dr. Sofyan Anif kepada wartawan, seusai acara pelepasan, di Halaman Gedung Siti Walidah, Kampus UMS, Senin (26/3).

Dr. Sofyan mengatakan, tujuan KKN-IPE-AIK sebagai wahana pengaplikasian ilmu pengetahuan yang diperoleh di bangku kuliah. Sekaligus menjadi sarana mendapatkan pengalaman terkait pengembangan life skill. “Melalui kegiatan ini para mahasiswa juga menginternalisasi nilai-nilai kemuhammadiyahan. Sehingga terbentuk karakter mahasiswa yang siap menjadi kader muhammadiyah, bangsa, dan Negara,” jawabnya.

Menurut Rektor UMS, ada tiga ranah materi yang mereka pelajari selama KKN. Bidang keilmuan, bidang kemuhammadiyahan, dan life skill. Pada hari awal setiba di lokasi mereka mengindentifikasi masalah di lokasi KKN dengan melakukan survey. Mereka dituntut menyusun program sebagai solusi dari masalah yang ditemukan. “Mereka berada di lokasi KKN selama dua minggu,” ujarnya.

Sebelum dilepas, menurut Sofyan, para mahasiswa sudah mengikuti berbagai pelatihan sebagai bekal menjalani KKN di lapangan. Agar selama dua minggu di lapangan mereka sudah siap memberikan pelayanan kesehatan secara terpadu bagi masyarakat setempat.

Sementara itu, Dekan FIK UMS, Muntalazimah mengatakan, selama mahasiswa melaksanakan KKN mengharapkan hendaknya dapat memotivasi masyarakat untuk mengupayakan konsep hidup sehat melalui kegiatan promotif, preventif, kuratif, dan rehabilitatif.

Muntalazimah menandaskan, mahasiswa harus mampu memberdayakan masyarakat untuk hidup sehat melalui proses AIETA (awareness, interest, evaluation, trial, dan adoption) dengan beberapa kegiatan edukasi dan pemberian kesehatan tingkat dasar sesuai kompetensi mahasiswa. “Sehingga pada akhir kegiatan masyarakat secara mandiri dapat menolong dirinya sendiri,” tandasnya. (Eko)