Berikan Wawasan Tentang Bahaya Teroris, PSBPS UMS Gelar Kolokium Bedah Buku

Dikirim oleh ridlo pada Jum, 03/09/2018 - 09:55
kolokium-bahaya-teroris

Ancaman mengenai paham teroris kini telah meluas, khususnya di Indonesia yang merupakan negara dengan kompleksitas suku, budaya, ras, dan agama. Melalui kasus yang berkenaan dengan teroris ini kemudian muncul sebuah buku yang membahas mengenai Kehidupan Teroris dan Korbannya. Pandangan buku tersebut tentu menjadi hal yang penting untuk diketahui, khususnya bagi kalangan anak muda. Oleh sebab itu, Pusat Studi budaya dan Perubahan Sosial Universitas Muhammadiyah Surakarta (PSBPS UMS) bersama Aliansi Indonesia Damai (AIDA) menggelar kolokium bedah buku, Selasa (06/03/2018).

Kegiatan yang dihadiri oleh sekitar 200 peserta ini dilaksanakan di Ballroom Lantai 3 Assalam Syari’ah Hotel. Selain itu, kolokium bedah buku ini juga menghadirkan 2 orang tokoh yang ada dalam buku IBROH dari Kehidupan Teroris dan Korbannya, yaitu Nanda Olivia Daniel selaku korban selamat dalam pengeboman di Hotel JW Marriot tahun 2009, dan Ali Fauzi selaku mantan teroris atau kombatan. Kedua tokoh tersebut, masing-masing menceritakan kisah hidupnya yang juga tertulis dalam buku yang dibedah dalam kolokium ini.

Selanjutnya, dalam kolokium ini M. Dian Dafi’ selaku narasumber menjelaskan terdapat 7 perspektif penanggulangan bencana yang ada dalam buku tersebut. “Jadi yang dalam buku ini dapat diambil 7 perspektif dalam penanggulangan bencana, diantaranya kerentanan, bahaya, risiko, mitigasi, kesiapan sosial, agen-agen keberdayaan, dan kearifan yang terprinsipkan,” jelasnya dalam kolokium tersebut.

Ketujuh perspektif tersebut dijelaskan oleh Dian secara gamblang. Salah satu mengenai bahaya dari teroris tersebut. Dijelaskan bahwa bahaya dari kekejaman tersebut akan membuat sebuah rasa ketidakadilan. Hal ini dikarenakan korban tidak bisa memilih untuk menghindar dari ancaman bom yang terjadi didepannya. Hal ini kemudian memicu tumbuhnya perasaan sebagai korban konspirasi, yang selanjutnya memunculkan ideologisasi balas dendam.

Selain itu, jika dibahas mengenai mitigasi bencananya sendiri dari kasus teroris ini, dia menjelaskan terdapat bebrapa poin pokok yang perlu diperhatikan. Pertama, dilihat dari orang tua dan keluarga korban. Dalam hal ini orang tua dan keluarga korban harus memberikan semangat kepada korban bencana agar tetap kuat dalam menjalani cobaan yang dihadapinya. Hal ini kemudian mengarah pada dukungan yang berkelanjutan, sehingga mental dari korban dapat terus dijaga dan dikuatkan kembali melalui dukungan dari lingkungan sekitar.

Dalam kesempatan ini dia juga menegaskan kepada para peserta agar selalu bersama-sama dalam membangun kisah dalam kehidupan di dunia. Sehingga nantinya akan tercipta sebuah narasi kolektif.

“Maka jangan menonjolkan kisah anda sendiri, bangunlah kisah bersama keluarga dan rekan-rekan anda, bangunlah kisah bersama teman hidup anda, bangunlah kisah bersama bangsa Indonesia. Maka ada 1 topik tersendiri di dalam cara untuk mengembangkan kepribadian masyarakat yang disebut dengan membangun narasi kolektif,” tegasnya. (Khairul)