Ciptakan Semen Berbahan Organik, Mahasiswa Teknik Kimia UMS Sabet Juara 2 dalam 5th IBCEx di Malaysia

Dikirim oleh ridlo pada Sab, 04/13/2019 - 08:38
juara2-ibcex.

Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) kembali menyumbang prestasi di tingkat internasional bagi kampusnya. Kali ini, prestasi tersebut berhasil diraih oleh mahasiswa dari Prodi Teknik Kimia Fakultas Teknik (Tekkim FT) UMS.

Mahasiswa Tekkim FT UMS berhasil meraih juara 2 dalam kompetisi 5th International Biotechnology Competition and Exhibition (IBCEx). Kegiatan yang diselenggarakan oleh Universiti Teknologi Malaysia (UTM) ini berlangsung selama 2 hari, Jumat – Sabtu (5-6/4/2019) lalu.

Dalam forum 5th IBCEx sendiri terdiri dari 3 kategori, di antaranya Bioenergy, Waste Treatment, dan Green Product. Dari tim UMS mengirimkan 3 tim yang disebar dalam ketiga kategori tersebut. Namun, yang berhasil meraih juara dalam kompetisi itu adalah tim yang mengikuti kategori Waste Treatment. Tim ini beranggotakan 3 mahasiswa, di antaranya Sulton Afkhar Nawawil (angkatan 2015), Restu Zulaekha (angkatan 2015), dan Falido Wisnu Guntoro (angkatan 2016).

Falido Wisnu Guntoro, salah satu utusan menjelaskan, kompetisi ini berbeda dengan Lomba Karya Tulis Ilmiah (LKTI) di tingkat nasional. Dalam kompetisi ini terdapat 2 tahap yang harus dilalui peserta hingga berhasil meraih juara.

“Ini beda dengan LKTI di nasional. Jadi exhibition itu semacam kita menampilkan hasil karya dalam sebuah display, kita memasang poster atau banner, di situ kita diwawancara dan ditanya-tanya tentang produk kita. Nanti baru kompetisinya itu ada presentasi di tahap kedua,” jelasnya.

Dalam tahap pertama itu, dia menjelaskan ketika display berlangsung akan ada 4 orang juri yang berkeliling. Keempat juri tersebut berkeliling dengan dibagi menjadi 2 kloter. Selanjutnya, setiap kloter juri yang datang diberikan waktu 8 menit untuk menilai penjelasan dari peserta, dan ditambah 4 menit untuk tanya jawab.

Falido juga menambahkan bahwa di tahap pertama ini di ikuti oleh lebih dari 30 tim dari berbagai perguruan tinggi di tingkat internasional. Selanjutnya, dari masing-masing kategori akan dipilih 3 tim untuk masuk ke tahap 2.

“Total peserta di exhibition semacam ekspo itu ada 30an lebih tim dari perguruan tinggi di tingkat internasional. Tahap kedua itu nanti dari masing-masing kategori itu diambil 3 tim terbaik di masing-masing kategori. Jadi ada 9 tim yang maju ke final,” tambahnya.

Dalam kompetisi ini, Falido mengungkapkan bahwa timnya membuat sebuah karya semen organik. Dimana karya tersebut merupakan salah satu bentuk dari pemanfaatan limbah organik.

“Jadi untuk kategori yang kita ajukan dalam kompetisi ini tu kita membuat semen organik. Jadi semen yang biasanya dibuat pakai batu kapur dan silika, itu kita subtitusi bahan-bahannya dengan menggunakan tulang sapi, cangkang telur, sama sekam padi,” ungkapnya.

Pemilihan bahan tulang sapi dan cangkang telur ini karena kedua bahan tersebut dinilai mengandung batu kapur, sehingga dapat digunakan untuk mengganti batu kapur yang digunakan dalam semen pabrik. Kemudian untuk sekam padi dinilai mengandung silika, sehingga dapat digunakan untuk mengganti pasir silikanya.

Kendala yang ditemui dalam pembuatan semen organik ini berkaitan dengan suhu. Dijelaskan bahwa suhu kalsinasi yang digunakan dalam pembuatan semen di pabrik mencapai 1350 derajat celcius. Dalam penelitian yang dilakukan oleh tim dari Tekkim ini, kesulitan untuk menemukan alat dengan suhu setinggi itu. Sehingga untuk pemecahannya, mereka melakukan pembakaran kalsinasi dengan menggunakan las karena suhu las mencapai 2000 derajat celsius.

Falido juga berharap para mahasiswa UMS ke depan tidak lagi memiliki rasa minder meski kuliah di Perguruan Tinggi Swasta (PTS). Sebab dengan memiliki kepercayaan diri, maka mahasiswa UMS pun tetap dapat berprestasi di tingkat internasional.

“Kita gak usah minder dengan diri kita meski kuliah di swasta. Jadi percaya diri saja pada diri kita. Pokoknya UMS bisa kok ke luar negeri, UMS bisa kok berprestasi. Mungkin gak usah malu dan minder, kemarin saya juga ketemu dari univ lain dari Indonesia dan negara lain, itu sebenernya riset mereka juga tidak terlalu wah-wah amat, bahkan di kita ada yang lebih wah,” ujarnya. (Khairul)