Dahnil Simanjuntak Isi Tabligh Akbar Ramadhan di UMS, Ajak Jadikan Ramadhan sebagai Momentum Kebangkitan Kaum Muda

Dikirim oleh ridlo pada Sen, 05/20/2019 - 08:20
gkr-ta-dahnielanzar

Ketua Umum PP Pemuda Muhammadiyah Periode 2014-2018, Dr. Dahnil Anzar Simanjuntak menjadi pembicara kedua pada Tabligh Akbar Gema Kampus Ramadhan Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) yang dilaksanakan Kamis (16/5/2019).

Kegiatan yang digelar ba’da Sholat Taraweh di Masjid Sudalmiyah Rais itu mengambil tema 'Ramadhan Momentum Kebangkitan Kaum Muda'. Dahnil Anzar Simanjuntak mengawali Tabligh Akbar ini dengan mengatakan bahwa peradaban Islam dan peradaban Indonesia dibangun oleh anak muda.

Dia menerangkan bahwa kemerdekaan Indonesia yang digerakkan oleh anak muda juga bertepatan ketika memasuki Bulan Ramadhan. Sehingga Ramadhan bagi kaum muda tidak hanya dikenal sebagai bulan puasa, namun juga sebagai bulan gerakan.

“Gerakan-gerakan besar digerakkan oleh anak-anak muda. Oleh para bung-bung di Indonesia itu pada saat Ramadhan. Jadi Ramadhan itu bukan hanya kita kenal sebagai syahru siyam, atau syahru quran, tapi Ramadhan juga bisa menjadi bulan gerakan,” terangnya.

Keberhasilan pemuda dapat dilihat dari apa mereka lakukan hari ini untuk masa depannya di hari  esok. Hal ini juga membuat Bulan Ramadhan seperti bulannya anak muda yang mereka gunakan sebagai bulan pelatihan.

Selain itu, diterangkan pula bahwa anak muda harus dapat dekat dengan Al-Quran. Hal ini dikarenakan Al-Quran dapat memandu mereka untuk menjadi anak muda yang baikguna mengukir masa depan di hari esok

Terdapat pesan bahwa dalam Bulan Ramadhan maka umat Islam perlu fokus dalam melaksanakan ibadah, seperti solat fardhu, puasa, ditambah ibadah sunah lainnya. Menurut Dr. Dahnil, hal ini adalah upaya dikotomi dalam pemaknaan ibadah. Namun, pemahaman ibadah bagi umat Islam sebenarnya adalah komprehensif.

“Pemahaman ibadah bagi umat Islam adalah komprehensif. Islam tidak mengenal pembagian ibadah. Ibadah adalah semua tarikan nafas kita adalah ibadah. Puasa, ibadah, semua aktifitas kita sehari-hari itu ibadah. Amar ma’ruf nahi munkar itu ibadah. Mencari keadilan itu ibadah. Jadi jangan disempitkan makna ibadah itu hanya sekedar pemaknaan puasa, solat dan sebagainya,” ungkapnya.

Dahnil juga menjelaskan bahwa yang perlu di asah bagi anak-anak muda itu adalah mengasah tradisi pikir agar menjadi semangat mereka. Tradisi intelektual yang tepat dapat menjadi semangat dalam mendorong perubahan di Indonesia. Apabila tradisi intelektual dan tradisi ilmu mati, maka negara tidak dapat menyongsong kemajuan anak-anak muda.

Beliau juga menambahkan bahwa pusat dari terbentuknya tradisi pikir adalah di kampus. Sehingga pemikiran dalam wilayah kampus tidak boleh dikekang. “Kampus itu seharusnya menjadi pusat tradisi pikir. Kampus tidak boleh dikekang pemikirannya. Kemerdekaan berpikir kampus itu tidak boleh dikekang. Negara itu harus punya tanggung jawab tradisi pikir, tradisi akal itu tetap terjaga,” tambahnya. (Khairul)