Fisioterapi UMS Kembangkan Elektromyoneuro Stimulation

Dikirim oleh ridlo pada Jum, 12/29/2017 - 11:17
fioterapi-kembangkan-alat

Program Studi (Prodi) Fisioterapi Fakultas Kesehatan Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) mengembangkan alat Elektromyoneuro Stimulation. Produk yang dikembangkan ini memiliki spesifikasi dalam satu alat mampu menghasilkan berbagai arus listrik untuk kepentingan elektrodiagnosis dan elektroterapi pada kepentingan rehabilitasi. 

“Ada empat peneliti yang berpartisipasi dalam pengengembangan alat kesehatan tersebut, yakni Totok Budi Santoso dari Prodi Fisioterapi UMS, Wahyuni dan Nurgiyatna dari Prodi Teknik Informatika UMS, Moch Djunidi dari Prodi Teknik Industri UMS,” ungkap salah seorang peneliti, Totok Budi Santoso, di Kampus UMS, Solo, Rabu (27/12).

Totok mengemukakan, produk alat kesehatan yang digunakan di pelayanan kesehatan (Rumah sakit, klinik) saat ini masih didominasi oleh produk import termasuk Elektromyoneuro Stimulation harganya diatas Rp 35 juta per unit. Padahal, kebutuhan alat kesehatan kategori elektro medis masih sangat tinggi, sedangkan pelaku ekonomi UKM/perusahaan penghasil alat elektromedis di Indonesia  masih sangat sedikit. Apabila rumah sakit, dokter dan tenaga kesehatan menggunakan alat kesehatan yang buatan dalam negeri, maka biaya pengobatan pasien bisa ditekan 20-30%.

“Oleh karena itu, pengembangan ini sebagai wujud rintisan kemandirian teknologi alat kesehatan di Indonesia, selain itu tentunya bisa digunakan untuk meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan dan juga menghidupkan pelaku industri alat kesehatan di Indonesia,” ungkapnya.

Kegiatan yang dilakukan oleh para peneliti UMS, menurut Totok, merupakan kegiatan Program Pengembangan Usaha Produk Intelektual Kampus (PPUPIK). Kegiatan tersebut telah berhasil melakukan perakitan dan pembuatan  Elektromyoneuro Stimulation dan diberi nama TENSSMART. “Produk ini memiliki spesifikasi dalam satu alat mampu menghasilkan berbagai arus listrik untuk kepentingan elektrodiagnosis dan elektroterapi pada kepentingan rehabilitasi,” jelasnya.

Hingga saat ini, kata Totok, pihaknya masih memfokuskan untuk produksi dan penjualan produk.  Target konsumen yang disasar pada pemasaran produk ini adalah rumah sakit, klinik rehabilitasi/fisioterapi, dokter rehabilitasi medis/fisioterapi praktik mandiri, dokter spesialis saraf. “Hampir semua rumah sakit yang disasar adalah rumah sakit yang memiliki pelayanan rehabilitasi medis/fisioterapi yang saat ini berjumlah 2.044 buah,” ujarnya.

Lebih lanjut ia mengatakan, pihaknya mengharapkan produk ini bisa menjadi salah satu alternatif substitusi peralatan kesehatan khususnya bidang fisioterapi dan rehabilitasi di Indonesia yang selama ini alat kesehatannya didominasi produk import. Alat electromyo-neuro stimulation ini tidak semahal produk import, sehingga tidak membebani konsumen. (Eko)