ICMI dan UMS Kampanyekan Waspadai Maraknya Perilaku LGBT di Kalangan Anak Muda

Dikirim oleh ridlo pada Kam, 09/05/2019 - 18:25
icmi-semnas

Ikatan Cendikiawan Muslim Indonesia (ICMI) bekerjasama dengan Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) menggelar Seminar Nasional bertemakan “Menyelamatkan Generasi Penerus Bangsa dari Malapetaka Moral pada Perilaku Menyimpang Hubungan Seksual Sejenis”, Kamis (5/9/2019).

Seminar yang dilaksanakan di Gedung Auditorium Mohammad Djazman UMS ini, diikuti sekitar 500an peserta yang sebagian besar mahasiswa utusan dari sejumlah Perguruan Tinggi Negeri dan Swasta se-Solo Raya.

Rektor UMS, Prof Dr Sofyan Anif, M.Si menyebut seminar dengan tema ini sangat penting karena menyangkut masa depan anak muda. Mereka para anak muda ini jangan sampai rusak sebelum bersemi karena mereka adalah generasi penerus perjuangan bangsa.

"Perilaku menyimpang seksual sejenis ini juga merupakan salah satu persoalan bangsa kita. Maka kita sebagai sivitas akademika harus membuat usaha-usaha penyelesaian masalah ini. Turut mencarikan solusinya. Mereka yang menyimpang jangan dijauhi tapi dibantu dengan solusi. Perguruan tinggi harus riset mencaro solusi yang tepat," ujarnya.

Masih menurut Anif, perlu perhatian khusus bagi para penderita penyakit seksual untuk tidak dijauhi, tapi justru butuh pendampingan dan penyadaran.

"Para penderita justru harus kita rangkul, jangan malah dijauhi. Kita kasih pengertian dengan pendekatan yang baik supaya sadar. Karena para penderitapun juga sama manusia seperti kita," sambungnya.

Wakil Ketua Umum ICMI, Dr. Sri Astuti Buchari mengatakan kondisi hubungan perilaku seksual sejenis di Indonesia cukup memprihatinkan. Di Amerika dan Eropa sudah 5 persen dari total jumlah penduduk yang terjangkit penyakit seksual akibat perilaku LGBT (Lesbi, Gay, Biseksual dan Transgender), sementara di Indonesia sudah mencapai 1 persen.

Meski angkanya terlihat kecil, tetapi menurut Sri Astuti, ini merupakan masalah yang besar dan darurat. Mengingat bahaya hubungan seksual sejenis, ancamannya tidak hanya menimbulkan penyakit, tetapi juga kematian.

Sri Astuti melanjutkan, solusi yang bisa ditawarkan minimal ada tiga pendekatan yakni pendekatan kesehatan, kedua pendekatan umum dan agama, ketiga pendekatan hukum dan politik.

Kegiatan yang digelar ICMI dengan mengajak sejumlah kampus hukan untuk menghakimi, melainkan ingin memberi edukasi dan pendampingan bagi penjangkit. "Kami dari ICMI bukan mau mengadili, tapi mau menolong siapaun yang sudah terkena penyakit, yaitu pendampingan dari dokter, pendidik, pakar hukum, politisi,” terangnya.

Narasumber pada kegiatan ini adalah Prof. Dr. Aida Vitayala, Guru Besar Komunikasi Gender IPB, dr. Hanny Nilasari, Sp. Kk, dokter spesialis penyakit kelamin dari Universitas Indonesia, Dr. Herawati Tarigan, Anggota DPR-RI Komisi VIII, Dr. Masnasari, Tim Ahli Komisi Perlindungan Anak Republik Indonesia dan Dr. Didin Muhafidin, SIP, M.Si, ahli kebijakan publik.

Masing-masing narasumber membahas topik dari sudut pandang keahlian dan jabatan narasumber untuk menghasilkan pembahasan yang menyeluruh. Yang menarik adalah riset yang dilakukan oleh dr Hanny terhadap pasiennya. Ternyata lebih dari 50 persen pasein yang datang kepadanya pernah melakukan hubungan seksual sebelum nikah dan sebagian besar juga berganti pasangan. (Risqi/Humas)