Melalui Skema PPTTG Pengelolaan Sampah, UMS Berhasil Manfaatkan Limbah Sampah Sebagai Energi Rumah Tangga

Dikirim oleh ridlo pada Sen, 01/28/2019 - 08:40
pengelolaan-sampah

Persoalan sampah kini menjadi masalah yang cukup penting untuk diperhatikan, khususnya bagi daerah yang terletak di pinggiran sungai. Melihat hal tersebut, Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat Universitas Muhammadiyah Surakarta (LPPM UMS) melalui program pengabdian kepada masyarakat dengan skema Program Penerapan Teknologi Tepat Guna (PPTTG), melakukan kegiatan berupa pemanfaatan limbah di masyarakat.

Kegiatan tersebut dilaksanakan di RW XVII, Desa Jaten, Kecamatan Jaten, Karanganyar, Kamis (24/1/2019). Dalam peresmian PPTTG Pengelolaan Sampah ini turut hadir Bupati Karanganyar, Juliyatmono. Selain itu, program PPTG ini dapat berjalan dengan lancar karena adanya dukungan dari Kemenristekdikti.

Kun Harismah, Ph.D selaku wakil ketua LPPM UMS yang juga menjadi ketua dalam pelaksanaan program ini mengungkapkan bahwa pelaksanaan PPTG ini dengan memanfaatkan sampah rumah tangga untuk dibuat energi.

“Jadi kegiatan ini merupakan penerapan program teknologi tepat guna dimana dalam hal ini kita memanfaatkan sampah rumah tangga untuk dibuat energi, yaitu berupa biogas,” ungkapnya.

Kun Harismah juga menjelaskan bahwa biogas ini disalurkan ke rumah-rumah warga. Sementara ini percontohan dari PPTTG disalurkan ke lima rumah tangga. Selanjutnya limbah lain dari biogas ini dimanfaatkan untuk pupuk cair yang digunakan sebagai pupuk tanaman. 

Selain itu, melalui kegiatan ini tim dari UMS juga membuat sebuah taman edukasi yang isinya berupa tanaman sayuran, herbal, buah-buahan, dan peternakan ikan menggunakan bioflog (peternakan ikan dengan kolam yang bukan semen).

Di lokasi yang dimanfaatkan UMS ini juga dibuat sebuah gazebo. Gazebo tersebut akan dimanfaatkan oleh warga untuk tempat bacaan anak-anak dan disiapkan pula buku untuk mereka. Sehingga dari program penerapan teknologi ini dapat dimanfaatkan oleh anak-anak untuk belajar tentang lingkungan.

Juliyatmono turut menyampaikan bahwa persoalan sampah harus dapat dituntaskan sehingga kedepan orang tidak akan lagi bicara tentang sampah.

“Saya sudah menggagas sampah harus tuntas di desa. Jangan lagi menjadi persoalan ke depan. Orang sudah tidak lagi bicara sampah, karena sudah diatasi,” ucapnya ketika diwawancarai.

Dengan adanya pengelolaan sampah semacam ini, menurutnya dapat menjadi sebuah lapangan kerja baru. Dengan adanya pemanfaatan sampah yang tepat, sungai juga sudah tidak lagi dijadikan sebagai tempat pembuangan akhir. (Khairul)