Salurkan Bantuan Alat Produksi, PKW UMS Optimis UMKM Jumantono Berkembang

Dikirim oleh ridlo pada Sen, 10/08/2018 - 08:20
serah-alat-jumantono

Pengembangan Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) menjadi objek yang diperhatikan oleh Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS), khususnya dalam program Pengabdian Kepada Masyarakat. Salah satu upaya pengembangan UMKM tersebut melalui penyaluran bantuan alat produksi yang dilakukan di Jumantono, Karanganyar, Minggu (31/9/2018).

Penyaluran bantuan tersebut langsung dikoordinir oleh Dr. Muhtadi, M.Si selaku ketua tim Program Kemitraan Wilayah (PKW) Pengembangan Produk Olahan Singkong dan Durian Unggul. Alat produksi tersebut di salurkan di dua desa yang berada di Jumantono, yaitu Kebak dan Ngunut.

Terdapat 18 alat yang disalurkan disana, diantaranya mesin parut singkong, oven gas pemantik tipe P-75, mesin pengiris singkong, mesin sealer plastin kemasan, mesin penghemat listrik, dan mesin spinner/peniris minyak kapasitas 5 kg. Disamping penyaluran alat-alat tersebut, Dr. Muhtadi juga memberikan bantuan kemasan berupa 2000 kemasan box/dos serta 2000 kemasan plastik dan stiker label.

Dr. Muhtadi menyampaikan bahwa target dari PKW ini adalah peningkatan dan perbaikan produksi di Jumantono. Hal ini dikarenakan setelah ini akan langsung difokuskan pada pengembangan pemasaran dari produk olahan tersebut.

“Targetnya untuk peningkatan kapasitas dan perbaikan produksi. Kemudian kita juga damping perbaikan kemasan, karena selanjutnya setelah ini kita akan fokus pada pengembangan pemasaran. Kita akan bantu dengan mahasiswa untuk memasarkan produk mereka,” ungkapnya.

Dia juga menambahkan bahwa pemasaran tersebut dikembangkan agar produk olahan disana tidak hanya di jual di Jumantono. Namun cakupan pengembangan pemasaran yang direncanakan nantinya meliputi wilayah Karanganyar, Tawangmangu, dan sebagian di Solo khususnya di toko oleh-oleh.

Produksi olahan yang ada di Jumantono cukup beraneka macam. Di Ngunut sendiri ada 3 macam olahan berupa kipling, tempe sagu, dan rambak kulit. Sedangkan di Kebak terdapat usaha produk olahan ubi berupa tepung mocaf serta olahan singkong basah maupun kering.

Meski budidaya bahan olahan disana termasuk bagus, namun baru terdapat 11 UMKM yang ada disana. Beberapa di antaranya yaitu pengusaha rambak kulit  berjumlah 5, kemudian 2 pengusaha olahan ubi, dan 4 pengusaha olehan tempe.

Dr. Muhtadi juga menambahkan agar penyaluran bantuan tersebut tepat kepada para pengusaha disana, maka penyaluran bantuan dilakukan melalui Kelompok PKK yang ada di 2 desa tersebut. “Jadi untuk penyaluran alat produksinya itu kita serahkan kepada pengurus PKK disana. Itu karena pengusaha yang ada di Jumantono dikoordinir juga oleh PKK,” tambahnya. (Khairul)