Tabligh Akbar Gema Ramadhan UMS, Din Syamsudin Ajak Umat Meneguhkan Semangat dalam Membela Kebenaran

Dikirim oleh ridlo pada Rab, 05/15/2019 - 09:15
gkr-ta-diensyamsudin

PABELAN-Selama Bulan Ramadhan 1440 Hijriyah, Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) memiliki kegiatan rutin dalam rangkaian Gema Kampus Ramdahan. Kegiatan ini untuk mendukung ibadah civitas akademika, maupun masyarakat sekitar. Salah satu kegiatan dalam Gema Kampus Ramadhan ini adalah diselenggarakannya Tabligh Akbar di Masjid Sudalmiyah Rais, Kampus 2 UMS.

Tabligh Akbar perdana pada Senin (13/5/2019) malam, mengambil tema “Ramadhan Momentum Peneguhan Semangat Membela Kebenaran” dengan mengundang Prof. Dr. H. Dien Syamsudin, MA, Ketua Dewan Pertimbangan MUI Pusat untuk memberikan ceramah.

Prof. Dien Syamsudin menjelaskan bahwa orang yang memiliki komitmen dalam membela kebenaran maka dia mampu merespon positif terhadap tindakan dalam menjalani ibadah Ramadhan.

“Kaum beriman, maka dia akan sanggup, mau, dan mampu menyambut perintah Allah. Berarti orang mukminin mukminat yang siap sedia mau menjalani ibadah-ibadah Ramadhan adalah orang yang telah memberikan respon positif terhadap perintah Allah. Itulah komitmen kita terhadap kebenaran,” jelasnya.

Beliau juga menambahkan bahwa meskipun bulan ini adalah momentum dalam membawa kebenaran, namun itu semua tergantung kepada diri individu masing-masing.

“Walaupun Ramadhan adalah momentum menumbuhkan komitmen untuk membawa kebenaran, itu tergantung kita. Tidak semua umat islam, tidak semua kaum beriman yang kemudian memberikan komitmen terhadap kebenaran terkait dengan Ramadhan,” tambahnya.

Terdapat beragam paradoks yang terjadi dalam bulan yang suci ini. Meskipun dalam islam mengajarkan ketika Bulan Ramadhan tiba maka umat muslim harus meningkatkan keimanannya, namun hal tersebut terlihat masih susah untuk dilaksanakan.

Hal tersebut terlihat menjelang pertengahan hingga akhir Ramadhan. Ketika sholat tarawih dilakukan, shaf-shaf di masjid mulai maju yang artinya makmum yang hadir untuk melakukan solat berjamaah sudah mulai berkurang.

Selain itu, paradoks yang lain adalah meningkatnya budaya konsumtif di masyarakat. Ramadhan yang seharusnya masyarakat mampu berhemat dan menahan nafsunya, namun menurut Badan Pusat Statistik perilaku konsumtif masyarakat meningkat 2,5 kali lipat. Hal ini juga dapat dilihat dari sahur dan buka puasa para mukmin yang seakan hanya memindah jam makan namun dengan menu yang banyak dan mewah. Padahahal dalam Islam seharusnya para mukmin mampu menahan diri.

Prof. Dien Syasudin juga menceritakan bahwa pernah ada pimpinan pondok pesantren yang diundang untuk berkunjung selama 2 minggu di Jepang. Kemudian ketika ditanya apa hasil yang diperoleh dari kunjungan tersebut, mereka menceritakan bahwa para pimpinan pondok pesantren tersebut menemukan Islam di Jepang. Sedangkan kalau di Indonesia mereka seakan hanya bertemu orang Islam.

Di Jepang diperlihatkan kebersihan kotanya. Kota bersih, jalan bersih, hingga tempat prasarana umum yang bersih. Selain itu, kedisiplinan mereka juga luar biasa, terutama dalam hal waktu. Semua itu adalah nilai-nilai yang diajarkan dalam Islam. Padahal tidak ada satu agama pun yang dalam kitab sucinya berbicara soal waktu secara tegas dan jelas kecuali Islam. Namun mereka yang tidak memiliki iman, tapi mampu mempraktekkan secara nyata.

Di akhir Tabligh Akbar ini, Prof. Dien Syamsudin berharap agar kaum beriman dalam bulan ini mampu berkomitmen secara kuat untuk menegakkan kebenaran sesuai tema dalam kegiatan tersebut, karena apabila kebenaran kalah maka kaum beriman tidak memiliki komitmen yang tegas dalam menjalankan ibadah di bulan ini.

“Saya berharap mari sebagai kaum beriman yang sedang menempuh Ramadhan, untuk tidak bergeming sedikitpun dari komitmen untuk menegakkan kebenaran dan untuk membela kebenaran itu. Kalau sampai kebenaran terkalahkan dan kebathilan yang menang, itu berarti kaum beriman tidak secara tegas memiliki komitmen pada kebenaran,” harapnya. (Khairul)