Tabligh Akbar Ramadhan Bersama Imam Palestina

Dikirim oleh ridlo pada Rab, 05/23/2018 - 09:42
tabligh-akbar-palestine

Telah berlangsung selama 6 hari. Pada hari ke-6 bulan Ramadhan tahun 1439 H, Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) mendapatkan kunjungan oleh salah satu imam dari Palestina, Syekh Jehad Khalid Yasin, Selasa (22/05/2018).

Tabligh akbar yang dilaksanakan di Masjid Sudalmiyah Rais UMS ini mengusung tema “Siraman Manis” (Silaturrahim Ramadhan Imam-imam Palestina ke Indonesia). Dalam kesempatan ini para jama’ah diberikan gambaran nyata mengenai keadaan yang ada di Palestina.

Sebagai pengantar, Syekh Jehad Khalid Yasin menyampaikan kajian mengenai kejadian-kejadian di Bulan Ramadhan. Dia menyampaikan bahwa Al-qur’an yang merupakan kitab suci umat Islam turun di bulan ini melalui Malaikat Jibril hingga kemudian diterima oleh Nabi Muhammad SAW.

“Bagaimana di bulan ini Al-qur’an turun melalui Malaikat Jibril, maka Allah SWT jadikan Jibril sebagai sebaik-baik malaikat. Kemudian Al-qur’an diberikan kepada Nabi Muhammad SAW, kemudian beliau menjadi sebaik-baik manusia dan menjadi penutup utusan-utusan sebelumnya,” ucapnya dalam bahasa Arab.

Dia juga menyampaikan dari hal tersebut maka sebaik-baiknya manusia adalah mereka yang mau untuk mengamalkan Al-qur’an. Sebab Al-qur’an sendiri tidak hanya untuk dibaca, namun juga perlu untuk dipahami, dibaca tafsirnya, dan diketahui maknanya agar ketika membacanya umat muslim dapat merasakan kelezatan iman dalam diri mereka. Namun apabila mereka tidak dapat memahami kandungan dari kitab suci tersebut, maka kita hanya akan seperti membaca huruf Arab yang tidak diketahui maknanya.

Setelah memberikan sedikit pengantar kepada para jama’ah, Syekh Jehad mulai menyampaikan tablighnya mengenai keadaan Palestina sekarang. Dia mengungkapkan bahwa dirinya telah diundang di beberapa masjid yang terletak di Salatiga, Kudus, Demak, dan Solo. Dari beberapa kunjungan tersebut dia merasa terkagum-kagum dengan banyaknya jama’ah yang ada di Indonesia, khususnya di sholat subuh.

“Sholat Subuh yang memiliki jam’ah besar ini membuat saya yakin bahwa kemenangan yang ada di Palestina saat ini adalah karena doanya umat muslim di Indonesia,” ungkapnya.

Hal ini juga didukung sebuah kisah yang dia ceritakan bahwasannya orang Zionis Israel berkata bahwa umat muslim tidak akan pernah menang melawan mereka apabila di masjid kita jama’ah sholat subuh masih sedikit. Hal ini menandakan salah satu hal yang orang Zionis Israel takuti adalah ketika umat muslim mulai bangkit dengan ditandai semakin banyaknya jam’ah sholat subuh.

Selain itu, mengenai keadaan di Palestina jika dilihat di media massa, tentu semua umat muslim tahu bahwa selama puluhan tahun rakyat di Palestina telah dijajah dan di usir dari tanah airnya sendiri oleh Zionis Israel. Meski begitu, Syekh Jehad menyebutkan bahwa untuk melakukan jihad dalam pembebasan Palestina dari Israel, umat muslim di Indonesia tidak harus melakukan jihad fisik dengan ikut berperang di sana, namun bisa melakukan jihad yang lain.

Disebutkan olehnya bahwa selain jihad dalam bentuk fisik masih ada jihad dalam bentuk harta dan dalam bentuk dakwah. Jihad dalam bentuk harta adalah ketika umat muslim di Indonesia memberikan bantuan logistik kepada masyarakat Palestina. Hal ini dianggap membuat masyarakat disana sangat bahagia ketika mendengar bantuan tersebut datang dari Indonesia. Kemudian jihad dakwah adalah ketika umat muslim membantu dalam menyiarkan keadaan nyata yang dialami masyarakat palestina baik melalui media massa maupun media sosial. (Khairul)