Tingkatkan Wawasan Islam di Kancah Internasional, UMS Gelar Diskusi Tentang Islam di Amerika Serikat

Dikirim oleh ridlo pada Jum, 06/28/2019 - 08:43
diskusi-islami

Pengetahuan mengenai perkembangan Islam di belahan dunia lain sangat penting untuk diperhatikan bagi kalangan akademisi untuk menambah wawasan. Terutama bagi mahasiswa ataupun dosen di lingkungan perguruan tinggi yang mengusung nilai-nilai keislaman visi Islami seperti Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS). Maka dari itu, UMS juga terus menggelar diskusi-diskusi tentang wawasan keislaman salah satunya diskusi dengan mengambil tema “Perkembangan Islam Terkini di Amerika Serikat Pasca Tragedi 911”.

Diskusi khusus yang mengundang Mantan Reporter Voice of America, Abdul Nur Adnan tersebut dilaksanakan di Gedung Induk Siti Walidah UMS, Selasa (25/6/2019). Diskusi tersebut dihadiri oleh dosen dan mahasiswa, baik mahasiswa program sarjana, pascasarjana, hingga dari Ma’had Abu Bakar UMS. Ruang pertemuan BPH di lantai 6 penuh sesak dengan peserta diskusi.

Wakil Rektor V UMS, Dr. Musyiyam yang mengantarkan kegiatan tersebut berharap dengan adanya diskusi ini para peserta dapat menambah wawasan terhadap kehidupan umat Islam di Amerika Serikat. “Mudah-mudahan diskusi kali ini memberikan wawasan yang lebih luas kepada kita semua tentang berbagai kehidupan umat Islam di berbagai dunia, khususnya di Amerika Serikat,” harapnya dalam sambutan acara tersebut.

Musyiyam juga menambahkan dengan bertambahnya wawasan tentang kehidupan umat Islam di negara lain, semoga juga dapat membuat para peserta lebih bijaksana dalam mensikapi isu terhadap persoalan Islam.

“Saya kira perlu memperluas pengetahuan dan wawasan kita tentang kehidupan saudara-saudara kita yang berada di berbagai belahan dunia, sehingga kita menjadi tahu tentang keberagaman dari kehidupan saudara-saudara kita. Sehingga kita bisa lebih menjadi bijaksana di dalam mensikapi berbagai isu-isu terhadap persoalan islam di dunia maupun di negara kita ini,”

Sebelum memulai diskusi khusus ini, Abdul Nur Adnan mengawalinya dengan memperkenalkan profil dirinya. Diceritakan bahwa beliau lahir di Solo pada tahun 1938, lebih tepatnya di Kampung Tegalsari. Abdul juga memiliki pengalaman mengaji di Pondok Pesantren Al-Muayad saat berusia 9 tahun. Selanjutnya pada tahun 1950, pria kelahiran Solo ini pindah ke Yogyakarta dan bersekolah di sana hingga menjadi alumni dari Universitas Gadjah Mada (UGM), Fakultas Sosial dan Politik, Prodi Hubungan Internasional.

Selanjutnya, beliau juga menceritakan pengalamannya ketika turut serta dalam membesarkan surat kabar milik Muhammadiyah yang bernama Mercusuar, sebagai Wakil Pimpinan Redaksi. Pada saat itu beliau sering diundang di berbagai negara sebagai wartawan dari Indonesia karena keterampilannya dalam berbahasa hingga pada akhirnya berpindah ke Amerika.

Dalam diskusi ini, Mantan Reporter Voice of America itu sedikit mengingatkan kepada para peserta mengenai serangan udara yang dilancarkan di World Trade Center (WTC). Penyerangan tersebut menelan korban jiwa sekitar 3.000-an orang. Penyerangan ini dianggap penyerangan yang sangat besar yang terjadi di Amerika dan membuat Presiden Bush marah pada saat itu hingga mengatakan, “You can run but you cant hide.”

Setelah itu, Bush segera mengambil tindakan dan menentukan siapa yang bertanggung jawab terhadap penyerangan tersebut. Pada akhirnya pemerintah AS menyiapkan peralatan dan mesin tempurnya untuk menyerang Afghanistan, Irak, dan Suriah hingga dinyatakan misi mereka selesai.

“Singkat cerita, muncullah Islamophobia di Amerika. Kemunculan Islamophobia ini mendorong terjadinya reaksi di sana untuk menyerang Islam. Salah satu bentuk dari hal tersebut adalah adanya “Ground Zero Mosque Project” yang juga berjalan hingga kepemimpinan Obama,” ujarnya.

Namun di sisi lain, dapat disaksikan pula perkembangan Islam yang ada di Amerika. Hal tersebut diperlihatkan bahwa kini justru semakin bertumbuhnya tempat-tempat ibadah muslim di Amerika. Sebagai contohnya adalah berdirinya IMAAM Center sebuah masjid Indonesia dan Diyanet Islamic Center yang merupakan masjid Turki. Bahkan ada pula penegasan bahwa umat Islam di Amerika adalah bagian dari Amerika yang sudah berada di Amerika sejak presiden pertama Amerika.

Dijelaskan pula dalam diskusi ini bahwa hingga kepemimpinan Presiden Donald Trump, Islam di Amerika terus berkiprah meskipun presiden Amerika saat ini telah mengambil tindakan yang tidak simpatik terhadap umat Islam. Salah satu kiprah yang hingga saat ini dapat dilihat adalah dengan masuknya umat Islam di bidang politik Amerika. Di tingkat nasional ada 2 wanita yang mampu memenangi kursi di House of Representative, yaitu Ilhan Omar wanita berhijab dari Somalia dengan usia 37 tahun dan Rashid Tlaid wanita Palestina usia 47 tahun.

Berdasarkan diskusi yang disampaikan oleh Abdul Nur Adnan dapat dilihat bahwa Islam di Amerika terus menghadapi tantangan yang cukup berat, namun hal itu tidak menghentikan perkembangannya. Hal tersebut dikarenakan adanya jaminan konstitusi akan hak hidup mereka, termasuk jaminan kebebasan dalam beribadah. Selain itu juga karena adanya keuletan umat Islam di sana yang semakin arif dalam menghadapi bencana di depan mata, sehingga dapat menyesuaikan diri dengan cara perjuangan mereka. (Khairul)