UMS Gelar Diskusi Online Bersama Kemenristekdikti

Dikirim oleh ridlo pada Sen, 02/26/2018 - 13:08
kunjungan-menteri-ristekdikti

Perkembangan akan teknologi informasi kini sudah sangat mempengaruhi bagaimana berjalannya proses pendidikan di perguruan tinggi. Hal ini membuat Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) mengundang Prof. H. Mohamad Nasir, Ph.D., Ak. mengisi diskusi berkaitan dengan perkembangan pendidikan tinggi Indonesia di masa yang akan datang dalam menghadapi era revolusi industri 4.0. Sehingga hal ini juga menjadi sebuah kunjungan kerja bagi Kementerian Riset Teknologi Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti) Republik Indonesia.

Diskusi yang diselenggarakan di Ruang Seminar Gedung Induk Siti Walidah UMS ini dihadiri oleh berbagai kalangan dosen, baik dari UMS sendiri serta dari luar UMS. Dalam kesempatan ini, Prof. H. Mohamad Nasir, selaku Menteri Ristekdikti Republik Indonesia mengungkapkan bahwa kunjungan ini juga merupakan program dari Kemenristekdikti dalam mengantisipasi perkembangan pendidikan tinggi yang ada di Indonesia.

“Program ini adalah program yang untuk mengantisipasi perkembangan pendidikan tinggi di Indonesia, yang selama ini kita tidak cukup berhenti hanya di bidang face to face atau kuliah berdasarkan tatap muka,” ungkapnya sebelum mengisi diskusi tersebut, Sabtu (24/02/2018).

Antisipasi tersebut dikarenakan apabila metode perkuliahan tatap muka terus dipertahankan maka yang terjadi adalah pergeseran. Pergeseran tersebut dikarenakan adanya teknologi informasi. Sehingga dikarenakan perkembangan teknologi informasi yang semakin pesat maka antisipasi ini sangat penting untuk dilakukan oleh setiap perguruan tinggi.

Prof. Mohammad Nasir menambahkan, dengan perkembangan teknologi informasi yang pesat, Kemenristekdikti mengambil kebijakan tidak lagi membatasi rasio perguruan tinggi, misalnya 1 banding 30 untuk eksakta atau 1 banding 40 untuk sosial. Tetapi sekarang ini satu professor banding 1000 mahasiswa.

“Artinya satu dosen atau satu tutor mempunyai mahasiswa sampai 1.000 orang. Artinya rasio tidak dibatasi. Tetapi yang kami perhatikan adalah infrastruktur yang dibangun didalam teknologi informasi itu,” ungkap Prof. Mohammad Nasir didepan wartawan, menjelang tampil sebagai narasumber.

Selain dapat diikuti secara langsung di UMS, diskusi tersebut juga dilaksanakan secara teleconference antara 4 Perguruan Tinggi Muhammadiyah (PTM). Ke-4 PTM tersebut antara lain UHAMKA, UMKT, UM Purwokerto, dan UMS sendiri. Diskusi online yang berpusat di UMS ini menjadi juga menjadi sarana bagi kementerian untuk mengajak perguruan tinggi yang ada di Indonesia agar berkembang lebih maju, terutama dalam rangka menghadapi era revolusi industri 4.0. Dalam diskusi ini, Prof. H.Mohamad Nasir menyampaikan secara detail mengenai apa saja yang harus dilakukan dan dihadapi.

Dia juga memberikan penjelasan bahwa perkembangan dari teknologi informasi ini akan membuat batas antarnegara terasa tidak akan ada lagi. Sehingga bagi perguruan tinggi hal ini akan membuat mereka juga harus dapat bersaing dengan perguruan tinggi luar negeri.

“Teknologi informasi akan menjadi borderless, tidak lagi ada batas antarnegara dan sudah tidak ada lagi ke depan mungkin masalah kelas. Karena batas negara makin menjadi sempit, menjadi hilang. Maka kita mau tidak mau harus menghadapi perguruan tinggi luar negeri,” jelasnya.

Kendati demikian Kemenristekdikti akan membuat rambu-rambu atau pedoman yang harus diikuti oleh seluruh perguruan tinggi di Indonesia dalam melakukan pembelajaran online learning. Agar mutu kualiatas tidak ada bedanya antara face to face dengan online learning.

Selanjutnya ada pertanyaan, bila perguruan tinggi asing masuk apakah mematikan perguruan tinggi dalam negeri terutama swasta, menurut Nashir, tidak. Karena hal itu sangat segmentatif. Segmennya tersendiri. “Artinya, mereka mahasiswa Indonesia yang kuliah di luar negeri yang notebene tentu berapa banyak mereka akan membawa rupiah keluar? Lain halnya mereka mahasiswa yang kuliah di perguruan tinggi asing tetapi tetap berada di Indonesia yang umumnya memakai sistem online learning,” jelas Menristekdikti. (Eko/Khairul - Editor.Ahmad)