UMS Kembangkan Alat Terapi Fisioterapi

Dikirim oleh ridlo pada Jum, 11/23/2018 - 08:32
perkembangan-alat-fisioterapi

Impor terhadap kebutuhan peralatan kesehatan di Indonesia cukup besar. Hal ini mendorong sejumlah dosen dari Program Studi Fisioterapi, Teknik Industri, dan Informatika Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) mengembangkan beberapa alat terapi yang sering digunakan di rumah sakit atau tempat praktik fisioterapi.

Kegiatan pengembangan alat terapi kesehatan ini dikoordinatori oleh para dosen, di antaranya Totok Budi Santoso, M. Djunaidi, Wahyuni, dan Nurgiyatna. Ketua tim riset, Totok Budi Santoso mengungkapkan bahwa tujuan kegiatan ini untuk mempercepat pengembangan budaya kewirausahaan di perguruan tinggi melalui kegiatan penciptaan unit usaha produk dan alat kesehatan berbasis ilmu pengetahuan dan teknologi.

“Kegiatan ini memfokuskan pada pembuatan digital infra merah dengan kombinasi 1, 2, 3 atau 6 lampu, lalu pembuatan digital traksi,  pembuatan peralatan gymnasium, dan pembuatan alat transcutaneous electrical nerve stimulation/TENS dengan teknologi berbasis mikrokontroler yang dapat dijadikan sebagai salah satu sumber pemasukan mandiri bagi UMS,” ungkapnya.

Dia juga menambahkan bahwa program tersebut juga untuk mengurangi beban kebutuhan peralatan kesehatan impor. “Pasalnya, sebagian besar alat kesehatan terutama yang digunakan untuk terapi pemulihan/rehabilitasi saat ini masih didominasi oleh alat impor,” tambahnya.

Kebutuhan pelayanan rehabilitasi medis di rumah sakit saat ini memerlukan peralatan elektrostimulasion, pemanas infrared, penarik ruas tulang belakang (traksi), dan peralatan gymnasium untuk menunjang terapi bagi klien. Data dari Kemenkes tahun 2017 menunjukkan bahwa nilai pasar alat kesehatan  di Indonesia mencapai Rp 12 triliun, 94% dikuasai produk impor, sisanya dalam negeri. Pada tahun 2035, nilai pasar alat kesehatan diperkirakan mencapai Rp 35 triliun.

Nurgiyatna selaku dosen Informatika yang menjadi bagian tim riset tersebut menjelaskan bahwa penggunaan penggunaan komponen alat kesehatan produksi dalam negeri dapat menurunkan biaya pembelian dan perawatan alat. “Penggunaan komponen atau alat kesehatan produksi dalam negeri juga akan menurunkan biaya pembelian dan perawatan alat sehingga pada akhirnya dapat menurunkan biaya kesehatan masyarakat Indonesia,” jelasnya.

Dalam pelaksanaan kegiatan ini juga terdapat keterlibatan antara dosen dengan mahasiswa. Keterlibatan ini berupa analisis bisnis, proses produksi alat, pemasaran dan pelayanan pelanggan after sales. Semua kegiatan tersebut dilakukan secara bersama-sama antara dosen dengan mahasiswa yang berasal dari prodi fisioterapi, teknik elektro, dan teknik industri di lingkungan UMS. (Khairul)