WINTEX 2018: Mahasiswa FKG UMS Sabet Medali Perak Kategori Biotechnology and Health

Dikirim oleh ridlo pada Jum, 03/23/2018 - 12:46
fkg-perunggu-wintex

Beragam prestasi mahasiswa tingkat internasional telah diraih oleh Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS). Salah satu prestasi tersebut adalah pada event World Invention and Technology Expo (WINTEX) 2018 dalam kategori Biotechnology and Health. Dalam kompetisi tersebut, UMS berhasil menyabet medali perak, Senin-Selasa (12-13/03/2018)

Prestasi ini diraih oleh Wimmy Safaati Utsani, mahasiswa semester 6 Fakultas Kedokteran Gigi (FKG) UMS. Dia mengaku alasannya mengikuti kompetisi tersebut untuk menambah prestasi sebagai tambahan poin dalam Pemilihan Mahasiswa Berprestasi (Pilmapres) tingkat Kopertis Wilayah Jawa Tengah.

Selain itu, dalam kompetisi ini dia maju sendiri sebab jika maju secara individu perolehan poin untuk Pilmapres tersebut jauh lebih besar. "Di kompetisi tersebut saya maju sendiri tanpa ada tim. Soalnya kalau maju sendiri poin yang didapat lebih besar," ungkapnya ketika ditemui di FKG UMS.

Dalam kompetisi itu dia membuat sebuah produk permen jelly untuk kanker payudara. Ide tersebut dia dapatkan melalui belajar dari penelitian sebelumnya yang menjelaskan bahwa daun sirsak memiliki kandungan asitogenin sebagai pembunuh sel kanker. Sehingga melalui pengetahuan tersebut, Wimmy langsung mencoba mengolah daun sirsak tersebut menjadi produk yang enak untuk dikonsumsi, terutama dalam ranah pengobatan.

Disamping itu, dia juga memberikan penjelasan bahwasannya daun sirsak lebih efektif dalam melawan sel kanker daripada melalui kemoterapi. "Bahkan saya juga pernah baca di artikel kalau daun sirsak itu sepuluh ribu kali lebih efektif dibandingkan kemoterapi untuk membunuh sel kanker. Karena kemoterapi itu selain mahal juga banyak efek sampingnya, sehingga saya memilih mengganti bahan herbal," jelasnya.

Proses lebih lanjut dari Wimmy melalui hasil produk yang telah dibuat tersebut akan dilakukan sebuah penelitian. Penelitian tersebut direncanakan untuk mengetahui dosis yang diperlukan dalam proses penyembuhan. “Saya pertama buat produk dulu. Habis itu penelitian dosis amannya untuk makan permen itu berapa butir sehari,” rencananya.

Setelah produk tersebut diketahui dosisnya dan telah teruji, Wimmy juga berencana untuk mematenkan produknya tersebut sebelum dijual di pasaran. “Habis itu pengujian ke kanker payudara, terus paten dan kemudian baru pemasaran,” tandasnya. (Khairul)