Pagi baru saja dimulai di Klinik Dalam Jiwa, Ngawi. Beberapa pasien mulai berdatangan menunggu giliran. Di ruang praktik, dr. Supandi Hasan, Sp.PD-Fel. (Onk)., menatap layar komputer sambil menyelesaikan rekam medis.
Sesekali bibirnya bergerak pelan melantunkan ayat-ayat Al-Qur'an. Muroja’ah itu mengalir begitu saja di sela rutinitasnya.
Baginya, menjaga hafalan Al-Qur'an tidak harus menunggu waktu luang. Kesibukan sebagai dokter spesialis penyakit dalam yang berpindah dari satu tempat praktik ke tempat lain bukan alasan untuk meninggalkan kebiasaan yang telah ia bangun sejak remaja.
Begitu pula kala dirinya mulai membuat konten di media sosial. “Konten saya lebih kearah mengubah pandangan bahwa penghafal Al-Qur'an itu tidak hanya menjadi ustaz. Mereka bisa menjadi dokter, ilmuwan, atau profesi apa. Bahkan muroja’ah bisa dilakukan di tengah aktivitas,” cerita Hasan, sapaan akrab alumni Sarjana Kedokteran Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) itu pertengahan September.
Konten sederhana tentang kesehariannya sebagai dokter spesialis sekaligus penghafal Al-Qur'an perlahan mendapat perhatian luas. Jumlah pengikutnya terus bertambah setiap bulan. Kini, akun Instagram Hasan telah diikuti sekitar 164 ribu pengikut.
Dari Keluarga Tak Berpendidikan Formal
Pendidikan dokter spesialis atau bahkan pendidikan tinggi bukan sesuatu yang mudah ditempuh keluarganya. Sang ayah tak pernah mengenyam pendidikan formal, sementara ibunya tidak lulus sekolah dasar.
Keterbatasan itu justru menjadi alasan kedua orang tuanya menanamkan pentingnya pendidikan kepada anak-anak mereka. Bagi orang tuanya, pendidikan adalah jalan agar anak-anak mereka tidak mengalami kesulitan yang sama.
Sejak kecil, Hasan dididik dengan disiplin. Ia dituntut untuk selalu bersungguh-sungguh dalam belajar. “Bahkan tanpa mampu mengajarkan pelajaran sekolah, kedua orang tua saya pengennya anak-anaknya juara kelas, kalau nggak juara 1 nggak boleh,” ucapnya.
Didikan itu membawanya menjadi siswa berprestasi sejak sekolah dasar hingga sekolah menengah.
Saat SMP, Hasan masuk pesantren di Palembang. Di sana ia mulai menghafal Al-Qur'an dan berhasil menghafal dua juz. Cita-cita menjadi dokter dan penghafal Al-Qur'an pun mulai tertulis dalam catatan kecilnya saat nyantri.

Perjalanan itu berlanjut ketika dirinya melanjutkan pendidikan di Madrasah Aliyah Tahfidz Al-Qur'an Isy Karima, Karanganyar. Di tempat itu, ia memperdalam hafalan juga pendidikan akademik. Dalam dua tahun, Hasan berhasil menyelesaikan hafalan 30 juz.
Kesempatan Menempuh Studi Kedokteran
Saat itu, program beasiswa bagi penghafal Al-Qur'an untuk mahasiswa kedokteran belum tersedia seperti sekarang.
Ia masih mengingat momen ketika dirinya menyampaikan kabar lolos tes masuk kepada ibunya. Ia diterima di Fakultas Kedokteran Universitas Sriwijaya, tetapi ada biaya masuk yang harus dipenuhi.
“Saya bilang ke ibu, saya keterima, tapi harus bayar. Waktu itu biaya pengembangan institusi sekitar Rp60 juta. Ibu saya bilang, uang segitu tidak ada,” kenangnya.
Hasan kemudian kembali ke Jawa dan mengabdikan diri di Pondok Pesantren Ibnu Abbas, Klaten. Selama sekitar enam bulan, ia mengajar para santri tingkat SMP sembari mencari jalan untuk melanjutkan pendidikan.
Di bulan Ramadan, ia mendapat kesempatan menjadi imam salat selama sepuluh hari terakhir di pesantren tempat ia pernah menimba ilmu, Isy Karima. Saat itu, ia mendapat bagian membaca hafalan Al-Qur'an juz 21 dalam salat malam.

Seusai menjadi imam, sebuah pertemuan yang tidak pernah ia duga mengubah arah hidupnya. Saat sahur, ia bertemu dengan seseorang yang kemudian menanyakan rencana masa depannya.
“Saya ditanya, setelah lulus mau lanjut ke mana? Saya jawab ingin kuliah kedokteran, tapi orang tua nggak punya biaya. Kemudian beliau bilang, 'Ya sudah, saya biayai',” ujar Hasan.
Bantuan itu menjadi jalan baginya untuk kembali mengejar cita-cita menjadi dokter. Pada 2008, ia akhirnya menjadi mahasiswa Fakultas Kedokteran UMS.
Awalnya, biaya pendidikan Hasan ditanggung oleh sosok yang percaya pada potensinya hingga semester empat. Setelah itu, ketika kondisi berubah, biaya kuliahnya dilanjutkan oleh keluarga istrinya hingga ia menyelesaikan pendidikan dokter.
Pada 2014, Hasan resmi menjadi dokter umum. Empat tahun kemudian ia melanjutkan pendidikan spesialis penyakit dalam di Universitas Sebelas Maret (UNS). Kemudian melanjutkan fellowship onkologi medik di Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro melalui beasiswa Kementerian Kesehatan.
Pilihan menjadi dokter spesialis penyakit dalam pun bukan sekadar keputusan serta-merta Hasan. Ia mengibaratkan penyakit dalam seperti Surat Al-Fatihah dalam Al-Qur'an.
Menurutnya, Al-Fatihah menjadi bagian yang merangkum pokok-pokok isi Al-Qur'an. Begitu pula penyakit dalam yang menjadi dasar berbagai cabang ilmu kedokteran.
“Kalau kita lihat penyakit dalam, semua ilmu dasarnya ada di sana. Jantung, paru, saraf, dan berbagai bidang lain awalnya berasal dari ilmu penyakit dalam,” katanya.
Analogi itu membuat Hasan semakin yakin bahwa menjadi dokter penyakit dalam adalah perjalanan untuk memahami tubuh manusia secara menyeluruh.
Kini, setelah melewati perjalanan panjang pendidikan kedokteran, Hasan menjalani aktivitas sebagai dokter spesialis penyakit dalam di sejumlah tempat. Ia berpraktik di RSUD Cepu, Rumah Sakit Widodo Ngawi, serta klinik pribadinya, Klinik Dalam Jiwa, di Ngawi.
“Klinik Dalam Jiwa ini saya bangun bersama istri yang juga seorang dokter spesialis kejiwaan,” imbuh dia.
Selain melayani pasien, Hasan juga memilih terlibat dalam dunia pendidikan sebagai dosen di Fakultas Kedokteran Universitas Darul Ulum (Undar), Lamongan. Pilihan itu tidak lepas dari perjalanan hidupnya yang pernah berada di posisi seseorang yang membutuhkan kesempatan untuk melanjutkan pendidikan.
“Pendidikan menjadi jalan supaya hidup lebih baik. Saya pernah menjadi mahasiswa yang membutuhkan dukungan, sehingga saya ingin berbagi ilmu akademik sekaligus ilmu kehidupan untuk memotivasi anak-anak muda ini,” ujarnya.
Perjalanan hidup Hasan membuatnya percaya bahwa pendidikan bukan hanya tentang gelar, tetapi tentang membuka kesempatan dan menghadirkan perubahan. Dari seorang anak yang tumbuh dalam keluarga tanpa latar pendidikan formal, ia berhasil menapaki jalan menjadi dokter spesialis, penghafal Al-Qur’an, sekaligus pendidik.
Penulis: Genis Dwi Gustati
Editor: Al Habiib Josy Asheva
Teropong Jagat
UMS Newsletter
Tak ada yang lebih spesial dari membaca berita pilihan redaksi hanya untukmu.
Langganan gratis UMS Newsletter sekarang.







