Menjadi Isu Nasional
Bantuan dari Berbagai Pihak

Satu jam berlalu sejak azan asar berkumandang. Puger Mulyono, 52 tahun, tengah membuka ruang kerjanya di Rumah Lentera yang terletak di tepi Kali Jenes di bilangan Laweyan, Surakarta, Jawa Tengah.

Duduk di meja kerjanya, Puger menyalakan sebatang rokok kretek di tangannya. Ia menyesapnya perlahan. Pikirannya menerawang ke tahun 2012 saat diminta untuk merawat seorang bayi dengan HIV. 

Puger menuturkan bayi yang diterimanya kala itu merupakan anak dari seorang penyintas HIV yang meninggal di Rumah Sakit Umum Daerah Moewardi Surakarta. Namun, pihak rumah sakit mensyaratkan agar Puger melunasi tagihan rumah sakit senilai Rp22 juta sebelum membawa pulang bayi itu. “Lha wong opname,” kenangnya. 

Istrinya sempat terkejut saat Puger memboyong bayi itu ke rumah. “Anake sopo? (anaknya siapa),” ucap sang istri. Apalagi saat mengetahui bayi mengidap HIV. 

Puger lalu mengutarakan keinginannya untuk merawat bayi itu. Pelan-pelan sang istri pun luluh dan bersedia membantu Puger merawat bayi tersebut. Sejak saat itu, Puger mulai mencurahkan hatinya untuk merawat bayi angkatnya itu. 

Setahun kemudian, Puger mengajak dua temannya, Kefas Jibrael Lumatefa dan Yunus Prasetyo, untuk mendirikan Yayasan Lentera atau dikenal dengan nama Rumah Lentera. Yayasan ini menerima, merawat, dan membesarkan anak dengan HIV (ADHIV). 

Dirinya pun aktif berkomunikasi dengan rumah sakit dan sejumlah komunitas sosial mengenai keberadaan Rumah Lentera. Pelan-pelan, Puger mulai menerima sejumlah bayi ADHIV. Dari satu bayi bertambah jadi tiga. Dari tiga bertambah jadi lima.

Puger bercerita anak yang ia rawat datang dalam kondisi kritis. “HIV tingkat 4,” katanya. Bahkan sejumlah bayi kemudian meninggal dunia karena kondisi fisik yang lemah. 

Pelan-pelan perawatan terus dilakukan untuk meningkatkan kualitas hidup ADHIV. Tingkatan HIV anak asuhnya pun berkurang secara bertahap hingga dapat hidup normal. 

“Saya bilang ke anak-anak, ini vitamin (antiretroviral/ARV) diminum tiap jam sekian. Kamu nanti bisa jalan, bisa cantik, bisa ganteng, kulitmu halus, minum ini harus rutin,” jelasnya. 

Meski demikian, niat tulus Puger tak selalu berjalan mulus. Keberadaan isu HIV/AIDS saat itu masih tabu dan banyak stigma negatif yang beredar di masyarakat. Puger sudah beberapa kali menerima pengusiran dan penolakan warga di sekitar Rumah Lentera. 

Puger kembali menyesap rokoknya dalam-dalam. Ia masih mengingat saat pengurus Rumah Lentera mengalami pelemparan batu oleh warga. “Untungnya tidak kena anak-anak,” kenang dia.

Tercatat Rumah Lentera sudah enam kali mengalami perpindahan lokasi. Teranyar, Rumah Lentera menempati rumah di bilangan Laweyan. “Alhamdulillah di lokasi yang sekarang tetangganya mendukung semua. Semoga bisa bertahan di sini,” katanya.

Menghadapi pengusiran dan penolakan berisiko meninggalkan trauma tersendiri bagi seorang anak. Hati Puger tak kuasa manakala harus menjelaskan keadaan sebenarnya kepada anak asuhnya. Namun, ia mewanti-wanti agar tidak perlu membalas sikap masyarakat.

“Kita harus mengakui itu karena kita berpenyakit. Orang melihat kita takut. Makanya mereka melempari kita. Tapi kita harus tunjukkan kepada mereka bahwa orang enggak perlu takut sama kita,” kata Puger mengulangi nasihatnya. 

Sampai Agustus 2026, Rumah Lentera telah mengasuh 40 ADHIV. Sebanyak 21 anak masih duduk di bangku taman kanak-kanak hingga sekolah dasar. Sedangkan 19 anaknya telah berusia remaja hingga dewasa. Rumah Lentera bahkan menjadi rujukan nasional untuk perawatan ADHIV.  

Puger Mulyono menunjuk foto kegiatan dan rekam jejak Yayasan Lentera di Rumah Lentera di kawasan Laweyan, Surakarta, Jawa Tengah, 25 Agustus 2026. Humas UMS/Gede Arga

Menjadi Isu Nasional

Tiga tahun Puger dan Yayasan Rumah Lentera bekerja secara gerilya. Merahasiakan kondisi anak-anaknya dari masyarakat. Namun, semua berubah pada 2016. Puger mendapat penghargaan kategori pemberdayaan masyarakat dalam Liputan 6 Awards yang digelar oleh SCTV. 

Penghargaan itu rupanya membuka mata pemerintah mengenai keberadaan ADHIV, yang menurut Puger, masih terpinggirkan. Puger mengaku sempat bertemu dengan Menteri Sosial Khofifah Indar Parawansa. 

Di hadapan Khofifah, Puger tegas mengatakan pihaknya belum pernah menerima bantuan dari pemerintah. “Enggak ada bantuan. Diusir malah,” tegas dia.

Sejak saat itu, Kementerian Sosial, Pemerintah Provinsi Jawa Tengah, dan Pemerintah Kota Surakarta mulai memberikan bantuan kepada Rumah Lentera. Mulai dari pencatatan sipil, bantuan operasional yayasan, hingga akses mendapatkan obat antiretroviral atau ARV. 

Bantuan pendidikan pun diberikan dengan menyekolahkan ADHIV pada sekolah yang telah ditunjuk Pemkot Surakarta. Sebelumnya, kata Puger, sekolah yang menerima ADHIV kerap mendapat keluhan dari orang tua murid. Alhasil ADHIV terpaksa dikeluarkan. Penunjukan oleh Pemkot Surakarta ini penting untuk menjamin hak atas pendidikan bagi ADHIV.

Pemkot Surakarta juga memberikan bantuan pembangunan rumah singgah di Laweyan. Saat kami mengunjungi rumah tersebut akhir Agustus lalu, sejumlah bagian di halaman belakang rumah masih dalam pengerjaan. Meski demikian, bagunan utama telah rampung dan anak-anak Puger telah menempati rumah itu.

Sebanyak 40 anak yang ia rawat kini terdaftar dalam kartu keluarga milik Puger. Penyatuan KK ini bertujuan untuk memudahkan pencatatan sipil dan mendapatkan pengakuan negara. Puger tak menutup kemungkinan jika kelak jumlah anaknya akan bertambah apabila ada pihak yang kembali menitipkan anak ke Rumah Lentera. 

Puger Mulyono di depan Rumah Lentera. Humas UMS/Gede Arga

Bantuan dari Berbagai Pihak

Selepas lulus kuliah dari Program Studi Akuntansi Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) pada 1998, Puger melanglang buana di jalanan Ibu Kota Jakarta. Kerasnya kehidupan jalanan yang ia geluti membentuk karakternya menjadi keras dan tangguh. Raut wajah Puger menyimpan memori kehidupan itu. 

Pada 2006, Puger dipanggil kembali ke kampung halamannya di Kota Surakarta. Ia diminta mendampingi proses rehabilitasi pecandu narkoba suntik untuk memutus mata rantai HIV di kalangan pecandu narkoba.

Setelah mendirikan Rumah Lentera pada 2013, Puger mulai fokus merawat ADHIV. Ia pun rela banting tulang menjadi juru parkir untuk memberi makan anak-anaknya. 

Beruntung, Puger mendapat banyak mendapat bantuan dari teman-temannya waktu itu. Bahkan pecandu narkoba yang dulu ia dampingi pun memberikan sejumlah bantuan untuk keperluan ADHIV. 

Bantuan yang datang tak melulu berupa uang. Puger berujar beberapa bantuan yang ia terima berbentuk seragam sekolah, buku, makanan, maupun baju. 

Adakalanya kaum marjinal kota menitipkan lauk pauk dan nasi di pagar Rumah Lentera. “Ternyata mereka orang yang berhati baik,” beber dia. 

Kegigihan Puger merawat ADHIV pun terdengar hingga media nasional. Sejak ia menerima penghargaan dari Liputan 6 Awards, Puger mulai aktif berbicara kepada publik mengenai sepak terjangnya. Dari masjid, kampus, gereja, hingga lembaga pemerintahan, Puger menyuarakan pentingnya kasih kepada sesama. 

Teranyar, ketulusan Puger merawat anak-anaknya mendapat rekognisi dari almamaternya. Ia mendapat penghargaan dalam UMS Alumni Awards 2026 edisi pertama kategori pengabdian masyarakat yang digelar pada Sabtu (1/8/2026).


Penulis: Gede Arga Adrian

Editor: Al Habiib Josy Asheva

Teropong Jagat

image-featured
10 Oktober 2026

Riset BRIN terbaru menyoroti dampak vape terhadap kesehatan. Tak hanya mengganggu paru-paru, pelbagai bukti ilmiah menunjukkan vape berpotensi memengaruhi kesehatan organ tubuh lain.

sdgs-label
sdgs-badge
image-featured
3 Oktober 2026

Gunung Anak Krakatau kembali menjadi perbincangan publik usai ditemukannya gundukan baru di sekitar pulau tersebut. Mungkinkah itu cucu Krakatau?

image-featured
25 September 2026

Figur publik tak hanya membawa pengaruh, tetapi juga tanggung jawab moral atas pesan yang disampaikan.

UMS Newsletter

Tak ada yang lebih spesial dari membaca berita pilihan redaksi hanya untukmu.
Langganan gratis UMS Newsletter sekarang.

Baca sajian tulisan berkualitas dalam rubrik unggulan ums.ac.id

icon

Penelitian

Artikel ilmiah populer dari penelitian dosen UMS.

icon

Teropong Jagat

Artikel mendalam dilengkapi infografik.

icon

Kiprah

Biografi dosen dan mahasiswa berprestasi di UMS.

icon

Cerita Alumni

Cerita alumni UMS dalam meniti kariernya.