Keistimewaan Bioshield-Deo
Butuh Penyempurnaan Produk

Bau badan mungkin terdengar sebagai persoalan sederhana. Namun, bagi lima mahasiswa Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS), masalah yang sering ditemui dalam kehidupan sehari-hari ini justru menjadi pijakan awal lahirnya Bioshield-Deo. Deodoran berbasis bioteknologi yang menawarkan cara berbeda dalam merawat kulit ketiakmu.

Bioshield-Deo mengusung konsep skin microbiome, yakni menjaga keseimbangan mikroorganisme alami pada kulit. Tim meraciknya dengan memadukan Lactobacillus Ferment Lysate sebagai postbiotik dan ekstrak daun sirih yang memiliki potensi antibakteri. Konsep yang masih jarang digagas produk deodoran konvensional.

Di balik produk Bioshield-Deo, berdiri tim lintas program studi yang terdiri dari Putri Sanjita Alcha sebagai ketua, Irbah Afiifah Zahra, dan Dyah Ayu Oki Rahmadhani dari Program Studi Pendidikan Biologi, serta Nadya Putri Adisty dan Nandifa Azzahra Salsabila dari Program Studi Farmasi. Kelimanya dibimbing oleh Endang Setyaningsih, S.Si., M.Si., Ph.D., melalui Program Kreativitas Mahasiswa bidang Kewirausahaan (PKM-K).

“Awalnya dari mata kuliah Bahasa Indonesia. Kami diminta membuat proposal dalam tim dan memilih skema PKM yang diminati. Dari situ semua anggota mulai menuangkan ide masing-masing,” ujar Irbah saat ditemui pada Senin (14/9/2026).

Tim PKM-K Bioshield-Deo UMS. Humas UMS/Imam Safii

Dari berbagai gagasan yang muncul, mereka sepakat mengangkat persoalan yang sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari, yakni bau badan dan keringat berlebih. Menurutnya, hampir semua orang pernah mengalami persoalan tersebut.

Keistimewaan Bioshield-Deo

Sejumlah riset yang ditemukan tim menyebut penggunaan deodoran dan antiperspiran tertentu bisa memengaruhi komposisi mikrobioma alami kulit ketiak. Dalam literatur Dermatologic Clinics dan American Academy of Dermatology (AAD), misalnya, antiperspiran berbasis aluminium bekerja dengan membentuk gel-plug pada saluran keringat untuk membantu mengurangi produksi keringat.

Sementara riset lain bertajuk “The Effect of Habitual Deodorant Use on the Axillary Microbiome” dalam jurnal PeerJ menyatakan penggunaan deodoran atau antiperspiran konvensional secara rutin bisa menekan populasi alami bakteri ketiak. Bahkan, mengubah komposisi bakteri yang hidup di area tersebut.

“Padahal, nggak semua bakteri pada kulit bersifat merugikan. Jadinya kami berpikir membuat inovasi yang nggak menyumbat pori-pori dan lebih ramah terhadap mikrobioma alami kulit,” jelas Irbah.

Kesadaran tersebut kemudian membawa tim pada konsep yang kini mulai banyak dikembangkan dalam dunia perawatan kulit, yakni menjaga keseimbangan skin microbiome. Alih-alih menghilangkan seluruh bakteri, Bioshield-Deo dirancang untuk membantu menekan bakteri penyebab bau badan sekaligus mempertahankan mikroorganisme baik yang memang dibutuhkan kulit.

Untuk mewujudkan konsep tersebut, tim memilih dua bahan utama, yakni Lactobacillus Ferment Lysate sebagai postbiotik (senyawa bioaktif atau zat metabolit bermanfaat yang dihasilkan oleh probiotik setelah mencerna prebiotik) dan ekstrak daun sirih.

“Daun sirih memiliki kandungan chavicol dan eugenol yang bersifat antibakteri. Sedangkan postbiotik berfungsi membantu menjaga keseimbangan mikrobioma kulit agar tetap stabil,” terangnya.

Kedua bahan aktif tersebut kemudian dipadukan dengan 10 bahan pendukung lainnya, yakni shea butter, virgin coconut oil, candelilla wax, cetyl alcohol, geogard ECT, pati garut, gliserin, disodium EDTA, minyak esensial, dan vitamin E.

Masing-masing memiliki fungsi berbeda, mulai dari menjaga kelembapan kulit, mempertahankan tekstur balm, hingga membantu mengendalikan keringat agar pengguna tetap merasa nyaman.

Meski ide telah lahir sejak Februari lalu, ketika proses seleksi PKM dimulai, perjalanan menuju produk jadi tidak berlangsung instan. Tim baru memulai proses formulasi secara intensif sekitar Juli dan membutuhkan waktu kurang lebih satu bulan hingga menghasilkan produk yang siap digunakan.

Tim menyusun tiga komposisi formula berbeda selama masa percobaan. Langkah tersebut dilakukan agar mereka dapat menemukan kombinasi paling optimal antara efektivitas, kenyamanan penggunaan, dan keamanan kulit.

Setelah diuji dan disurvei, formula ketiga menjadi yang paling baik dari segi warna, aroma, dan tekstur. Formula tersebut juga paling disukai serta tidak menimbulkan iritasi.

Pemilihan bentuk balm stick pun merupakan keputusan yang dipertimbangkan secara matang. Dinilai lebih praktis sekaligus lebih higienis. 

“Kalau balm yang dicolek kurang praktis. Kami memilih stick supaya tinggal diputar lalu dioleskan. Sementara kalau bentuk spray formulasi dan tahapnya juga akan beda,” imbuh dia.

Selain itu, penggunaan balm stick memungkinkan tim memanfaatkan bahan seperti shea butter dan virgin coconut oil. Keduanya membantu menjaga kelembapan kulit ketiak tanpa meninggalkan rasa lengket setelah digunakan.

Butuh Penyempurnaan Produk

Meski telah mengantongi Hak Kekayaan Intelektual (HKI), tim mengakui Bioshield-Deo belum sepenuhnya sempurna. Produk terus dipoles lewat beragam tanggapan pengguna yang mulai menjajalnya.

Salah satunya ialah persoalan tekstur yang masih terasa sedikit seret ketika diaplikasikan ke ketiak sebagian pengguna. Ke depan mereka ingin menyempurnakan formulasi agar tekstur produk lebih lembut sekaligus mendesain ulang kemasan.

“Karena sudah dapat paten, kami memasarkannya baru mulut ke mulut, dari sana kami dapat feedback. Ke depannya ingin membuat teksturnya lebih nyaman saat dipakai dan bentuk kemasannya lebih ergonomis. Mungkin jadi melengkung atau bentuk roll yang lebih mengikuti kerung ketiak,” ungkap Nadya.

Saat ini Bioshield-Deo masih dipasarkan secara terbatas dengan harga Rp22.000 per stik dalam dua varian aroma, yakni lemon dan mawar.

“Kami masih menunggu proses perizinan edar sebelum memperluas distribusi melalui platform e-commerce, seperti TikTok Shop, Shopee, kayak gitu agar bisa menjangkau pasar yang lebih luas,” tutupnya.


Penulis: Genis Dwi Gustati

Editor: Al Habiib Josy Asheva

Teropong Jagat

image-featured
10 Oktober 2026

Riset BRIN terbaru menyoroti dampak vape terhadap kesehatan. Tak hanya mengganggu paru-paru, pelbagai bukti ilmiah menunjukkan vape berpotensi memengaruhi kesehatan organ tubuh lain.

sdgs-label
sdgs-badge
image-featured
3 Oktober 2026

Gunung Anak Krakatau kembali menjadi perbincangan publik usai ditemukannya gundukan baru di sekitar pulau tersebut. Mungkinkah itu cucu Krakatau?

image-featured
25 September 2026

Figur publik tak hanya membawa pengaruh, tetapi juga tanggung jawab moral atas pesan yang disampaikan.

UMS Newsletter

Tak ada yang lebih spesial dari membaca berita pilihan redaksi hanya untukmu.
Langganan gratis UMS Newsletter sekarang.

Baca sajian tulisan berkualitas dalam rubrik unggulan ums.ac.id

icon

Penelitian

Artikel ilmiah populer dari penelitian dosen UMS.

icon

Teropong Jagat

Artikel mendalam dilengkapi infografik.

icon

Kiprah

Biografi dosen dan mahasiswa berprestasi di UMS.

icon

Cerita Alumni

Cerita alumni UMS dalam meniti kariernya.