Inovasi Kindo karya tim mahasiswa Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) berhasil meraih medali perak dalam 8th World Invention Competition and Exhibition (WICE) 2026 di Malaysia. Mengusung konsep platform interaktif untuk melakukan skrining risiko keterlambatan perkembangan anak.
WICE 2026 kompetisi hasil kolaborasi Indonesian Young Scientist Association dan SEGi University & Colleges. Kompetisi berlangsung secara daring pada 10–14 September 2026 dan secara luring pada 20–24 September 2026 di SEGi University Kota Damansara, Malaysia. WICE 2026 menghadirkan lima bidang utama, yakni Applied Life Sciences, Innovative Social Sciences, Applied Physics and Engineering, Environmental Sciences, serta IT and Robotics.
Tim UMS mengusung inovasi bertajuk “Kindo: An Interactive Digital Screening Platform for Early Detection of Developmental Delay Risk in Children”. Anggota tim Kindo, Asrofi Noor Masithoh, menjelaskan inovasi tersebut dikembangkan untuk menjawab kebutuhan pemantauan perkembangan anak yang selama ini dinilai belum optimal.
Sebelumnya, Kementerian Kesehatan RI sejak 2012 sudah menghadirkan instrumen pemantauan perkembangan anak usia 0–72 bulan. Tetapi sistem yang digunakan, terutama di layanan kesehatan primer seperti posyandu, masih banyak dilakukan secara manual. Bahkan, tak jarang pemantauan hanya berfokus pada aspek fisik melalui antropometri.
"Pemantauan tumbuh kembang di masyarakat masih lebih banyak berfokus pada pertumbuhan fisik. Padahal aspek perkembangan anak membutuhkan instrumen khusus agar risiko keterlambatan dapat teridentifikasi sejak dini," ujarnya saat diwawancarai pada Selasa (29/9/2026).

Kindo lahir dari kolaborasi lintas disiplin mahasiswa Keperawatan dan mahasiswa Informatika UMS. Kindo dirancang untuk membantuk orang tua dan tenaga kesehatan primer untuk memantau perkembangan anak pada aspek motorik halus, motorik kasar, bicara dan bahasa, serta sosialisasi dan kemandirian secara lebih interaktif.
Kindo mengadopsi kuesioner praskrining perkembangan (KPSP) yang ditetapkan Kementerian Kesehatan RI sebagai instrumen deteksi dini perkembangan anak usia 0–72 bulan.
Aplikasi ini juga dilengkapi sejumlah fitur pendukung, di antaranya skoring dan interpretasi otomatis, rekomendasi stimulasi berdasarkan hasil skrining, longitudinal record, dashboard tenaga kesehatan berdasarkan wilayah, grafik pertumbuhan anak, serta sistem pengingat untuk membantu mengingatkan jadwal skrining secara berkala. Ke depan, pemanfaatan Kindo juga berpeluang diperluas dengan mengintegrasikan instrumen pemantauan perkembangan anak berstandar internasional.
Melalui digitalisasi tersebut, proses skrining diharapkan dapat dilakukan secara lebih praktis sekaligus membantu meningkatkan kesadaran orang tua dan tenaga kesehatan terhadap pentingnya pemantauan perkembangan anak.
Asrofi mengatakan pengembangan Kindo menjadi pengalaman kolaboratif bagi mahasiswa dari berbagai bidang keilmuan. Tim yang terdiri atas mahasiswa Keperawatan, Teknik Informatika, Pendidikan Teknik Informatika, dan Profesi Ners tersebut saling melengkapi kompetensi untuk merealisasikan gagasan menjadi sebuah platform digital.
Tim UMS terdiri atas Asrofi Noor Masithoh, Putri Azzahra Namora, Reja Arrafi, Airlangga Pradana Prakusa, Shafwan Aulia Rahman, dan Tasya Annisa Yunita. Dalam prosesnya, tim Kindo memperoleh pendampingan dari Siti Arifah, S.Kp., M.Kes., Ph.D. selaku supervisor. Sebagai dosen keperawatan anak, pendampingan tersebut berperan dalam proses digitalisasi instrumen KPSP ke dalam platform KINDO.
“Sebagai mahasiswa keperawatan, kami menyadari bahwa kami tidak bisa merealisasikan ide ini sendiri. Oleh karena itu, kami berkolaborasi dengan teman-teman dari Prodi Teknik Informatika dan Pendidikan Teknik Informatika untuk mewujudkan website KINDO ini,” jelasnya.
Keberhasilan tim UMS tersebut diraih melalui kompetisi internasional yang mempertemukan para inventor, inovator, peneliti, serta pelajar dan mahasiswa dari berbagai negara. WICE menjadi wadah bagi peserta untuk mempresentasikan kreativitas dan inovasi sekaligus memperoleh pengalaman dalam pertukaran gagasan di tingkat internasional.
Asrofi berharap Kindo dapat menjadi bagian dari upaya membangun budaya skrining perkembangan anak yang lebih proaktif sekaligus mendukung digitalisasi dan integrasi layanan kesehatan primer.
“Kami berharap melalui KINDO, kami bisa berkontribusi dalam menumbuhkan budaya skrining perkembangan anak yang proaktif serta mendukung digitalisasi dan integrasi sistem layanan kesehatan primer,” ungkapnya.
Penulis: Yusuf Ismail
Editor: Maysali Sudarwati
Karya Mahasiswa
UMS Newsletter
Tak ada yang lebih spesial dari membaca berita pilihan redaksi hanya untukmu.
Langganan gratis UMS Newsletter sekarang.







