Daratan Baru Belum Tentu Gunung Baru
Anak Krakatau Lahir Di Atas Kaldera Induknya

Secara tiba-tiba, dua daratan baru muncul di sekitar Gunung Anak Krakatau. Gumuk pulau kecil itu diduga merupakan hasil endapan pascaerupsi 4-6 September 2026. Penelitian lebih lanjut perlu dilakukan. 

Berdasarkan citra satelit Sentinel, gumuk pulau kecil ini muncul sekitar 760 meter di sebelah barat laut dan 495 meter di tenggara Gunung Anak Krakatau. Namun, penelitian lebih lanjut perlu dipastikan apakah daratan tersebut merupakan endapan atau pusat erupsi baru. 

“Apabila hasil evaluasi dan verifikasi lapangan menunjukkan bahwa benar material vulkanik keluar di kedua lokasi tersebut, temuan ini akan membantu Badan Geologi memahami proses erupsi yang terjadi dan perubahan lokasi keluarnya material vulkanik,” kata Lana, dikutip dari Tempo, Jumat (2/10/2026). 

Erupsi awal September lalu juga menambah luas daratan Anak Krakatau sebesar 32,8 hektare. Sebelumnya pada Agustus 2026, citra satelit Sentinel menunjukkan luas Anak Krakatau mencapai 312,3 hektare. 

Salah satu gumuk pulau di sekitar Gunung Anak Krakatau yang tertangkap melalui rekaman kamera drone. Youtube/Yodistara Nugraha

Daratan Baru Belum Tentu Gunung Baru

Terpisah, Guru Besar Bidang Ilmu Geografi Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) Prof. Dr. Kuswaji Dwi Priyono, M.Si. menyebut fenomena munculnya daratan baru Gunung Anak Krakatau tidak lepas dari siklus geomorfologi gunung api.

Kemunculan dua gumuk pulau, yang disebut warganet sebagai cucu Krakatau itu, memiliki dugaan kuat sebagai endapan sisa erupsi 4-6 September 2026. Menurut Kuswaji, hal ini dapat dilihat dari proses pembentukan Gunung Anak Krakatau sejak awal kemunculannya hingga kini.

“Material vulkanik kemudian menumpuk di dasar laut secara terus menerus dan membentuk dua gumuk tadi,” ungkap Kuswaji saat diwawancarai pada Jumat.

Kendati dugaan sementara ialah endapan erupsi, perlu ada penelitian lebih lanjut apakah gumuk pulau tersebut memiliki saluran magma yang langsung ke dapur magma melalui rekahan baru dan terpisah dari dapur induknya. Analisis lanjutan juga harus menjawab apakah gumuk pulau tersebut menunjukkan aktivitas magmatik dengan mengeluarkan magma dan gas. Indikator aktivitas magmatik lainnya adalah adanya gempa vulkanik lokal di dua gumuk pulau tadi. 

Mengingat kaldera Krakatau relatif dangkal, akumulasi erupsi berulang menyebabkan volume bertambah, lereng berkembang, garis pantai semakin menjorok ke laut, dan ketinggian gunung bertambah. “Magma dari dalam bumi naik melalui saluran dan keluar sebagai lava. Kemudian menumpuk dan menjadi tubuh gunung api baru,” jelasnya.  

Anak Krakatau Lahir Di Atas Kaldera Induknya

Matahari belum beranjak terlalu tinggi pada 27 Agustus 1883 saat Gunung Krakatau mulai menunjukkan tajinya. Dalam beberapa babak, gunung setinggi 814 meter itu mulai memuntahkan isi perutnya melalui tiga kawah: Danan, Perboewatan, dan Rakata.

Syahdan, dentuman dahsyat itu terjadi pada pukul 10.02 dan terdengar hingga Perth, Australia, yang berjarak 3.110 kilometer jauhnya. Kekuatan letusan Krakatau diperkirakan setara dengan 200 megaton TNT. Empat kali lebih kuat dari bom terkuat di dunia Tsar Bomba.

Letusan 1883 menghancurkan 60 persen tubuh Krakatau dan menyisakan tiga buah pulau. Di atas kaldera itu, Pulau Sertung, Pulau Panjang, dan Pulau Rakata tergelar. Runtuhnya tubuh Krakatau menghasilkan tsunami yang menggulung Lampung dan Banten, menghapus ratusan desa dari peta, dan menewaskan 36.417 orang.

Lebih dari empat dekade lamanya kaldera Krakatau tak menunjukkan tanda-tanda aktivitas vulkanik. Pada akhir 1927 hingga awal 1928, sejumlah aktivitas vulkanik mulai muncul dari dalam laut kaldera Krakatau. Tumpukan material vulkanik mulai tampak muncul ke permukaan laut sepanjang 1928-1930 meskipun kerap terkikis ombak. Anak Krakatau baru benar-benar membentuk pulau permanen pada 1930. 

Anak Krakatau terus mengalami erupsi secara periodik dan “tumbuh” 7-9 meter setiap tahun. Tinggi Anak Krakatau tercatat sampai 338 meter dari permukaan laut pada 2018. 

Gunung Anak Krakatau bukanlah satu-satunya gunung yang “tumbuh” di tengah laut. Beberapa gunung berapi lain tercatat lahir di tengah laut dan membentuk pulau. Antara lain Gunung Hunga Tonga di Tonga, Pulau Surtsey di Islandia, Gunung Mauna Loa dan Kilauea di Hawaii Amerika Serikat, serta Kepulauan Canary di Spanyol.

Fenomena Anak Krakatau, katanya, menunjukkan kepada manusia bagaimana proses vulkanik membentuk pulau dari dasar laut. Proses serupa juga pernah terjadi jutaan tahun lalu di barisan pegunungan di selatan Pulau Jawa. Salah satu jejaknya terlihat pada Gunung Api Purba Nglanggeran yang terletak di Kabupaten Gunungkidul, Yogyakarta.

Gunung Anak Krakatau mengalami rangkaian erupsi sejak Juli 2018. Erupsi besar terjadi pada 22 Desember 2018 dan membuat sebagian tubuh Anak Krakatau longsor. Memicu gelombang tsunami yang menyapu pesisir Banten. Tercatat 426 orang tewas dalam peristiwa itu.

Guru Besar Kuswaji Dwi Priyono menjelaskan Gunung Anak Krakatau termasuk gunung api tipe stratovolcano atau kerucut dengan jenis letusan Stromboli. “Letusannya itu biasanya eksplosif dahsyat. Letupannya keras dan terjadi berulang secara periodik,” ujar Kuswaji.

Pada 2018, runtuhnya lereng Anak Krakatau membuat gunung ini menghasilkan tipe letusan Surtsey. Letusan ini terjadi akibat interaksi antara magma dengan air danau atau laut. Runtuhnya lereng menghasilkan jalur magma baru ke arah laut, yang sebelumnya mengarah ke puncak gunung. 

Gunung Anak Krakatau kembali menghasilkan letusan Stromboli pada erupsi 4-6 September 2026. Erupsi kali ini menghasilkan kolom abu vulkanik setinggi 15.000 meter dan semburan lava pijar. 

Lava yang menyebur ini kemudian bertemu dengan air laut sehingga terjadi proses pendinginan dan membeku. Inilah yang membuat Gunung Anak Krakatau mengalami penambahan tinggi dan luasan area. 

Namun, faktor lain seperti dinamika Selat Sunda dapat memengaruhi proses pertumbuhan Anak Krakatau. Kuswaji mengibaratkannya seperti menumpuk pasir basah secara terus menerus. Semakin tinggi dan curam, beban akan semakin bertambah. Tingkat kestabilan pun menurun.

“Kalau terjadi kegagalan lereng, sebagian tubuh Anak Krakatau akan runtuh ke laut dan dapat memicu gelombang tsunami,” lanjutnya.

Kuswaji memandang Anak Krakatau sebagai laboratorium geomorfologi hidup. Rangkaian erupsi yang terjadi merupakan geomorfologi dinamis untuk mencari keseimbangan antara proses konstruktif vulkanisme dan destruktif berupa longsoran dan guguran. 


Penulis: Gede Arga Adrian

Editor: Al Habiib Josy Asheva

Penelitian

image-featured
9 Oktober 2026

Kehilangan pasangan dan berkurangnya peran sosial membuat banyak lansia tenggelam dalam kesepian. Perlahan berubah menjadi depresi yang menggerus kesehatan mereka.

sdgs-label
sdgs-badge
image-featured
24 September 2026

Sampah menggunung di TPA Putri Cempo menyimpan potensi pemanfaatan sebagai sumber energi listrik terbarukan lewat proses gasifikasi.

sdgs-label
sdgs-badge
sdgs-badge
image-featured
27 Agustus 2026

Membatik dalam posisi yang sama selama berjam-jam memicu gangguan muskuloskeletal. Risiko serupa juga bisa dialami pekerja di sektor lain, mengapa?

sdgs-label
sdgs-badge
sdgs-badge

UMS Newsletter

Tak ada yang lebih spesial dari membaca berita pilihan redaksi hanya untukmu.
Langganan gratis UMS Newsletter sekarang.

Baca sajian tulisan berkualitas dalam rubrik unggulan ums.ac.id

icon

Penelitian

Artikel ilmiah populer dari penelitian dosen UMS.

icon

Teropong Jagat

Artikel mendalam dilengkapi infografik.

icon

Kiprah

Biografi dosen dan mahasiswa berprestasi di UMS.

icon

Cerita Alumni

Cerita alumni UMS dalam meniti kariernya.