Perlindungan Diri sesuai Kebutuhan
Yang Diwaspadai Kala Erupsi
Risiko Menjadi Lebih Kompleks

Erupsi Gunung Anak Krakatau, Ile Lewotolok, Semeru dan sejumlah gunung berapi aktif lainnya memenuhi pemberitaan nasional dalam beberapa pekan terakhir. Pemandangan langit yang diselimuti abu, jalanan berdebu, hingga atap rumah yang tertutup material vulkanik menjadi gambaran paling nyata dari aktivitas tersebut.

Salah satunya terlihat dari aktivitas Anak Krakatau yang hingga Jumat (11/9/2026) masih menunjukkan peningkatan aktivitas vulkanik. Berdasarkan laporan Badan Geologi, tercatat 7 kali gempa low frequency, 4 kali gempa hybrid atau fase banyak, 4 kali gempa vulkanik dangkal, 4 kali gempa vulkanik dalam, dan 1 kali gempa tremor menerus.

Kepala Badan Geologi, Lana Saria, mengatakan Anak Krakatau masih berstatus Siaga (Level III). Masyarakat maupun wisatawan diimbau tidak mendekati wilayah dalam radius 3 kilometer dari pusat aktivitas vulkanik.

Di tengah tingginya aktivitas vulkanik di Indonesia saat ini, perhatian masyarakat umumnya tertuju pada hujan abu. Dosen mata kuliah Toksikologi, Fakultas Farmasi Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS), Arini Fadhilah, S.Farm., M.Si., menjelaskan, ada partikel tak kasat mata lainnya yang turut terbawa saat erupsi.

Erupsi gunung api, ujar Arini, menghasilkan berbagai bentuk paparan yang bekerja melalui mekanisme berbeda. Selain abu vulkanik, terdapat gas vulkanik seperti SO2 (sulfur dioksida), karbon dioksida (CO2), hidrogen klorida (HCl), karbon monoksida (CO), hingga hidrogen fluorida (HF). Masing-masing memiliki karakteristik dan risiko kesehatan yang berbeda sehingga membutuhkan pendekatan perlindungan diri yang tepat.

“Yang perlu dipahami masyarakat adalah erupsi bukan hanya menghasilkan abu. Ada partikel vulkanik, gas vulkanik, dan juga bahaya sekunder yang muncul setelah erupsi,” kata Arini secara daring, Jumat (11/9/2026).

Perlindungan Diri sesuai Kebutuhan

Di tengah meningkatnya kekhawatiran masyarakat setiap kali terjadi erupsi gunung api aktif, Arini menilai langkah paling penting ialah mengurangi paparan. Prinsip utama perlindungan diri adalah tetap berada di dalam ruangan ketika hujan abu terjadi.

Pintu dan jendela sebaiknya ditutup rapat agar partikel tidak masuk ke dalam rumah. Kipas angin maupun pendingin udara yang menarik udara dari luar juga perlu dimatikan sementara.

“Jika terpaksa keluar rumah, masyarakat dianjurkan menggunakan respirator partikulat seperti N95, KN95, KF94, atau FFP2 yang dipasang dengan benar sehingga menutup rapat area hidung dan mulut,” kata Arini.

Menurutnya, efektivitas masker tidak hanya bergantung pada jenisnya, tetapi juga pada kecocokan bentuk masker dengan wajah pengguna. Masker yang longgar akan tetap memungkinkan partikel masuk melalui celah di sisi wajah.

Selain masker, perlindungan mata juga penting karena abu bersifat abrasif. Penggunaan kacamata pelindung atau protective goggles dapat membantu mencegah partikel mengenai permukaan mata secara langsung.

Kulit juga sebaiknya dilindungi menggunakan pakaian berlengan panjang, celana panjang, dan sepatu tertutup agar kontak dengan abu semakin sedikit.

Sayangnya di tengah anjuran tersebut, media sosial diramaikan keluhan masyarakat mengenai lonjakan harga alat kesehatan, terutama masker.

Merujuk pewartaan Kompas, kenaikan harga masker melonjak tinggi saat abu vulkanik menyebar akibat erupsi Anak Krakatau pada Minggu (6/9/2026) hingga Senin (7/9/2026). 

“Jahat banget yang jual masker. Semalem checkout terus tadi pagi di-cancel katanya naik harga. Pas liat harga barunya bener-bener naik 10 kali lipat. Gue doain debu di rumah lu muter terus ya!????!!!!!” tulis @bapethh, dikutip dari Kompas, Jumat (11/9/2026).  Cuitan tersebut telah mendapat 1,9 ribu postingan ulang dan 32,8 ribu komentar yang menunjukkan keluhan serupa turut dirasakan banyak masyarakat.

Fenomena tersebut, sebut Arini, menunjukkan masih banyak masyarakat yang keliru memahami fungsi masker saat terjadi erupsi. Tidak sedikit yang beranggapan masker KN95 mampu melindungi dari seluruh bahaya yang ditimbulkan aktivitas gunung api.

“N95 atau KN95 merupakan particulate respirator yang dirancang untuk menyaring partikel seperti abu vulkanik, bukan gas. Artinya, masker tersebut tidak memberikan perlindungan memadai terhadap paparan SO2,” jelas dia.

Untuk menghadapi gas, diperlukan respirator khusus yang menggunakan cartridge atau canister penyerap gas asam (acid gas cartridge). Namun respirator semacam itu tidak bisa digunakan sembarangan karena efektivitasnya bergantung pada jenis cartridge, konsentrasi gas, lama paparan, hingga kualitas pemasangan respirator.

Panic buying tentu bukan solusi. Keberadaan SO2 tidak otomatis mengharuskan semua orang memakai masker gas. Jika ancaman utamanya abu vulkanik, respirator partikulat yang digunakan dengan benar sudah memadai, sedangkan perlindungan terhadap gas harus disesuaikan dengan hasil pemantauan kualitas udara.

“Alih-alih panik, masyarakat cukup membatasi paparan dan mengikuti informasi resmi mengenai kondisi udara maupun arahan evakuasi,” ujarnya menekankan.

Yang Diwaspadai Kala Erupsi

Arini menyebut, meski tampak seperti debu biasa, abu vulkanik sebenarnya merupakan material hasil letusan yang memiliki sifat abrasif atau mudah menggores. Partikelnya juga sangat halus sehingga dapat masuk ke dalam saluran pernapasan ketika terhirup.

erupsi gunung api, erupsi gunung anak krakatau, erupsi, panic buying, so2, gas so2, abu vulkanik, so2 adalah

Semakin kecil ukuran partikelnya, semakin mudah mencapai paru-paru. Akibatnya, masyarakat bisa mengalami batuk, tenggorokan terasa perih, iritasi hidung, hingga memperburuk penyakit asma atau gangguan paru yang sudah dimiliki sebelumnya.

Abu vulkanik pun bisa mengiritasi mata. Permukaan mata bisa mengalami abrasi akibat gesekan partikel halus sehingga menimbulkan rasa perih, merah, hingga berair.

Ditambah lagi, sebagian abu vulkanik dapat mengandung silika kristalin. Senyawa ini memang dikenal berkaitan dengan penyakit silikosis apabila seseorang mengalami paparan berulang dalam waktu lama.

“Namun masyarakat tidak perlu langsung menyimpulkan bahwa sekali terkena hujan abu pasti akan mengalami penyakit tersebut,” ujar Arini mengingatkan. Menurutnya, risiko silikosis lebih berkaitan dengan paparan respirabel yang berlangsung terus-menerus, bukan sekadar satu kali kejadian erupsi.

Selain abu vulkanik, desas-desus menyebarnya SO2 imbas erupsi anak Krakatau juga ramai diperbincangkan. Gas ini memang sering dikaitkan dengan bau menyengat menyerupai belerang atau korek api yang baru dinyalakan.

SO2 adalah gas yang tidak berwarna sehingga tidak bisa dikenali hanya dengan mata. Berbeda dengan abu vulkanik yang jelas-jelas kasatmata.

“Abu vulkanik dan SO2 sama-sama dapat mengiritasi mata maupun saluran napas, meski bentuk paparannya berbeda,” jelasnya.

Paparan SO2 pada kadar rendah dapat menyebabkan mata terasa pedih, hidung dan tenggorokan teriritasi, serta batuk. Namun ketika konsentrasinya meningkat, dampaknya bisa menjadi jauh lebih serius.

Berdasarkan penjelasan Arini, gas SO2 dapat memicu bronkokonstriksi atau penyempitan saluran napas. Penderita asma termasuk kelompok yang paling rentan mengalami perburukan kondisi.

Pada kadar sangat tinggi, paparan SO2 bahkan dapat menyebabkan gangguan pernapasan berat hingga kekurangan oksigen. Meski demikian, masyarakat juga tidak perlu langsung panik setiap kali mendengar istilah sulfur dioksida.

Menurutnya, keberadaan gas vulkanik seperti SO2 memang merupakan karakteristik alami dari aktivitas gunung api. Tetapi tingkat bahayanya bergantung pada konsentrasi gas, arah angin, lama paparan, serta lokasi seseorang terhadap sumber erupsi.

Risiko Menjadi Lebih Kompleks

“Dalam kondisi nyata, masyarakat hampir tidak pernah terpapar hanya oleh satu zat,” kata Arini.

Abu vulkanik dan gas vulkanik dapat muncul secara bersamaan. Bahkan, di atmosfer keduanya dapat berinteraksi dengan polutan lain sehingga membentuk campuran yang lebih kompleks.

Arini menjelaskan, salah satu kemungkinan yang muncul adalah efek aditif. Abu vulkanik dan SO2 sama-sama mengiritasi sistem pernapasan sehingga ketika keduanya hadir bersamaan, gangguan yang dirasakan bisa lebih berat dibanding paparan salah satunya saja.

“Penelitian di berbagai negara yang pernah saya pelajari juga menunjukkan, permukaan abu vulkanik dapat menjadi tempat menempelnya berbagai senyawa pencemar dari atmosfer,” jelas dia.

Namun ia mengingatkan agar masyarakat tak langsung mengaitkan hasil penelitian tersebut dengan setiap kejadian erupsi.

“Temuan di suatu wilayah tidak berarti abu dari setiap gunung api pasti mengandung senyawa berbahaya dalam kadar yang sama,” katanya.

SO2 sendiri, lanjutnya, pun dapat mengalami perubahan kimia di atmosfer sehingga membentuk partikel sulfat berukuran sangat kecil. Termasuk PM2.5 yang dikenal mudah masuk ke paru-paru.

Karena itu, risiko kesehatan akibat erupsi tidak hanya dipengaruhi satu jenis zat, melainkan kombinasi berbagai faktor lingkungan.

 

Penulis: Genis Dwi Gustati

Editor: Al Habiib Josy Asheva

Mimbar

image-featured
2 Oktober 2026

Percikan air kloset atau toilet sering membuat seseorang khawatir pakaian atau tubuhnya menjadi najis. Bagaimana Islam memandang persoalan ini?

image-featured
10 September 2026

Operasi plastik sering menjadi diskursus di kalangan umat Islam mengenai kebolehannya sebab mengubah bentuk ciptaan Allah. Apa pandangan Tarjih Muhammadiyah?

image-featured
21 Agustus 2026

Menonton konser atau film sering menjadi pilihan hiburan banyak orang. Namun, bolehkah seseorang menjamak salat ketika jadwal hiburan berbenturan waktu salat?

UMS Newsletter

Tak ada yang lebih spesial dari membaca berita pilihan redaksi hanya untukmu.
Langganan gratis UMS Newsletter sekarang.

Baca sajian tulisan berkualitas dalam rubrik unggulan ums.ac.id

icon

Penelitian

Artikel ilmiah populer dari penelitian dosen UMS.

icon

Teropong Jagat

Artikel mendalam dilengkapi infografik.

icon

Kiprah

Biografi dosen dan mahasiswa berprestasi di UMS.

icon

Cerita Alumni

Cerita alumni UMS dalam meniti kariernya.