Pengukuhan Prof. Kusmiyati sebagai Guru Besar UMS ke-22

Dikirim oleh ridlo pada Sen, 05/07/2018 - 10:43
pengukuhan-kusmiyati

Rektor Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) Dr. Sofyan Anif mengukuhkan Prof. Kusmiyati, S.T, M.T, P.hD sebagai guru besar ke 22 UMS pada Sidang Terbuka Senat Universitas Muhammadiyah Surakarta, di Auditorium UMS, Surakarta, Sabtu (5/5/2018). Prof. Kusmiyati dikukuhkan sebagai guru besar bidang Teknik Kimia Fakultas Teknik UMS.

Pada acara pengukuhan tersebut Prof. Kusmiyati menyampaikan pidato pengukuhan yang berjudul Pengembangan Bahan Bakar Alternatif Biofuel Melalui Inovasi Teknologi Proses Produksi Untuk Mendukung Ketahanan Energi Nasional. Dalam pidato tersebut mengungkapkan keinginannya mewujudkan penggunaan energi alternatif khususnya biofuel.

“Pidato pengukuhan saya dilatar belakangi oleh kondisi nasional khususnya krisis energi di Indonesia, pentingnya energi alternatif khususnya biofuel sebagai solusi untuk mengatasi krisis energi di Indonesia dan upaya yang dilakukan untuk mewujudkan penggunaan energi alternatif khususnya biofuel sebagai sumber energi,” ungkap Prof. Kusmiyati.

Prof. Kusmiyati mengatakan, ketergantungan terhadap energi fosil untuk memenuhi konsumsi energi di dalam negeri masih sangat tinggi yaitu sebesar 95%. Minyak bumi memegang porsi terbesar dari total konsumsi energi nasional, atau minyak bumi 48%, gas alam 17% dan batubara 30%. Sementara itu, cadangan dan produksi bahan bakar yang berbasis fosil ini mengalami penurunan sejak periode tahun 2004 – 2008. Kondisi produksi minyak terus menurun sementara konsumsi BBM yang terus tumbuh menyebabkan peningkatan impor minyak mentah dan juga produk minyak bumi.

“Jika kita melihat semakin menipisnya cadangan energi fosil, yang dialami oleh beberapa negara termasuk Indonesia maka kita perlu segera memanfaatkan Energi Baru Terbarukan (EBT) sebagai pengganti energi fosil,” ujarnya.

Menurut Prof. Kusmiyati dibandingkan dengan negara-negara maju, pengembangan EBT di Indonesia hingga saat ini masih belum begitu menggembirakan. Peran EBT saat ini masih sangat kecil, sekitar 8% termasuk biomassa komersial dari total bauran energi primer tahun 2013. “Padahal, Indonesia memiliki potensi energi baru terbarukan yang cukup besar,” ujarnya.

Lebih lanjut rof. Kusmiyati mengatakan saat ini kita masih dihadapkan pada kendala dalam penggunaan energi baru terbarukan, diantaranya (1) Kesulitan mempergunakan sumber-sumber tersebut pada skala besar, (2) Kendala finansial yaitu mahalnya investasi awal karena hampir seluruh peralatan dan teknologi masih tergantung impor serta infrastruktur yang kurang memadai, (3) Beragamnya jenis dan karakteristik sumber energi terbarukan, dan sebagainya.

Sementara itu, biofuel yang dimaksud menurut Prof. Kusmiyati yang juga menjabat sebagai Ketua Pusat Studi Energi Alternatif UMS, merupakan bahan bakar yang dihasilkan dari hasil pertanian dan limbah organik atau biomassa. “Ada beberapa jenis biofuel, diantaranya bioetanol, biodiesel, biogas, biooil, dan sebagainya. Namun yang paling banyak dikembangkan di dunia adalah bioetanol dan biodiesel,” jelasnya. (Eko - Editor.Ahmad)