Kenangan Masa Kuliah
Dari Dokter Jaga sampai Jadi Kasie Penunjang Medis
Pekerjaan yang Membuahkan Kepuasan Tersendiri
Belajar Hukum Kesehatan

“Awalnya dokter gigi bukanlah pilihan pertama, tapi kini saya memaknainya sebagai takdir terbaik yang saya terima.” Ucapan Afrinda Shinta Graharani, alumni Pendidikan Dokter Gigi UMS tahun 2016 tersebut mengawali obrolan hangat kami dengannya. Obrolan yang memuat lika-liku perjalanan seorang Shinta, sapaan akrabnya, yang selalu berupaya mewujudkan senyum impian pasien.

Selepas tamat SMA, pertanyaan yang kerap dilontarkan orang-orang adalah perihal, “Mau lanjut kuliah ke mana?.” Jujur saja, kala itu profesi dokter tanpa embel-embel ‘gigi’ adalah tujuan utama Shinta untuk melanjutkan jenjang sarjana.

“Nyatanya takdir Allah lain, saya terlambat mendaftar Pendidikan Dokter karena kuota sudah penuh. Namun dengan dukungan dan kepercayaan keluarga, akhirnya saya berpindah haluan ke Pendidikan Dokter Gigi. Alhamdulillah, saya memulai niat itu tanpa perasaan berat hati,” ucap wanita kelahiran Karanganyar itu.

Kenangan Masa Kuliah

Perlahan ia mulai mengingat kepingan masa lalu kala dirinya menjadi mahasiswi Kedokteran Gigi. Sehari-hari ia berkutat dengan macam-macam bahan biomaterial seperti keramik, gips, aloi, maupun dental forensic yang mengharuskannya untuk mengidentifikasi kasus-kasus pasien melalui gigi-geligi. Padatnya praktik, studi kasus, penelitian, ujian blok dan sejenisnya itulah yang membuat Kedokteran Gigi memiliki masa tempuh studi yang setara dengan Kedokteran.

“Saat kuliah, saya sempat menjadi asisten dosen. Pada tahun itu, menjadi asisten dosen di FKG tidak hanya harus bisa menguasai satu materi tapi beberapa materi, itulah yang menjadikan asisten dosen FKG berbeda dengan fakultas lain. Harus bisa semuanya, jadi misalkan besok jadwalnya belajar Diagnosis Penyakit Mulut, hari sebelumnya kita sudah harus belajar dan wajib menguasai materi yang akan diajarkan.”

Di awal semester, Shinta sempat mendapatkan tawaran menjadi tutor Bahasa Inggris untuk English Tutorial Program dari program studi. Dalam program tersebut, ia ditugaskan untuk memberi pengayaan materi, mengenalkan metode atau teknik mengajar speaking dan writing yang sesuai dengan kurikulum selama satu semester.

“Setelah empat tahun saya menuntaskan pendidikan sarjana, saya lanjut Profesi Dokter Gigi, dan tentunya masih di UMS. Mungkin orang-orang lebih familier dengan istilah co-ass atau co-assistant. Saat co-ass inilah saya tak belajar teori lagi, tetapi belajar mendiagnosis secara langsung untuk memahami kondisi dan kasus pasien,” ucap Shinta menjelaskan.

Beragam pengalaman menarik Shinta dapatkan saat menjalani co-ass. Termasuk pengalaman menjadi asisten drg. Edi Karyadi, M.M., MDSc., Sp.Perio., yang juga merupakan dosen favorit Shinta.

“Mahasiswa ­co-ass itu banyak suka dukanya, mulai dari pengalaman mencari pasien sendiri, membantu merawat pasien yang sebelumnya harus mendapatkan persetujuan dari dokter yang mengampu, karena bagaimana pun tindakan dan perawatan yang kami berikan akan diawasi oleh dokter. Sepulang co-ass saya diberikan kesempatan oleh drg. Edi untuk mengembangkan keterampilan klinis di MMC yang berada di depan Fakultas Teknik, dengan beliau saya belajar banyak hal.”

Di mata Shinta, drg. Edi merupakan sosok dosen yang sangat memotivasi dirinya dalam mengejar karier. Ia selalu terpikat dengan dua kalimat andalan drg. Edi, “Jadikanlah pasien sebagai saudara, bukan sebagai sumber dana. Jika kamu menjadikan pasien sebagai saudara, kelak dia akan datang bersama saudara-saudara lainnya.”

Melalui pengalaman co-ass dan asistensi dengan drg. Edi, Shinta semakin memupuk pemahamannya tentang praktik kedokteran gigi yang humanis dan berorientasi pada kepedulian terhadap pasien. “Kelak saya akan seperti beliau, menjadi seorang dokter gigi yang tak hanya mahir secara klinis, namun juga memiliki integritas moral dan empati yang tinggi terhadap setiap pasien,” tekadnya kala itu.

Dari Dokter Jaga sampai Jadi Kasie Penunjang Medis

Usai merampungkan studi, Shinta kemudian mengawali kariernya sebagai Dokter Jaga di Poli Gigi Rumah Sakit Banyumanik 1 Semarang di awal 2020. Hanya saja kariernya di sana terbilang cukup singkat, hanya setahun. Hal itu dikarenakan adanya ekspansi pembukaan rumah sakit baru, yakni Rumah Sakit Banyumanik 2 Semarang. 

“Beruntungnya, saya dipertemukan dengan direktur rumah sakit yang sangat baik dan suportif, beliau memberikan saya kesempatan untuk bertumbuh dan berkembang. Melalui tes, akhirnya saya dinyatakan lolos dan diamanahi ibu direktur menjadi Kasie Penunjang Medis di Rumah Sakit Banyumanik 2 Semarang. Saya membawahi lima instalasi, di antaranya Radiologi, Laboratorium, Farmasi, Gizi, dan Rekam Medis,” kenangnya.

Shinta mengaku dirinya sempat mengalami banyak tantangan karena harus memimpin lima instalasi yang tak in-line dengan pendidikannya. Meski demikian, ia sangat bersyukur karena tiap kepala instalasi sangat kooperatif sehingga segala kegiatan dapat beroperasi dengan lancar.

Pekerjaan yang Membuahkan Kepuasan Tersendiri

“Saya pikir rezeki saya cukup di rumah sakit, karena saya pada waktu itu sudah merasa nyaman dan mampu beradaptasi dengan baik. Ternyata Allah punya rencana yang jauh lebih indah. Berawal dari iseng mendaftar CPNS tahun 2022, kemudian saya lolos dan diterima sebagai ASN Dokter Gigi UPTD Puskesmas Kagok, Kota Semarang sampai pensiun nanti,” ucap wanita yang mengaku gemar menonton film dan drama itu.

Sebagai Dokter Gigi Umum, Shinta melayani berbagai perawatan gigi mulai dari pencabutan gigi dewasa dan anak, scaling, penambalan, pembuatan gigi tiruan, kegawatdaruratan medik kedokteran gigi, dan pelayanan dokter gigi umum lainnya. Ia juga mengungkapkan pekerjaan yang dijalani sehari-hari membuahkan kepuasan tersendiri bagi dirinya.

“Bahagia dan lega adalah dua kata yang menggambarkan persis perasaan saya setiap kali bertugas. Lega karena saya mampu merawat dan membantu menyelesaikan kasus pasien yang berbeda-beda, dan bahagia ketika mampu mengembalikan senyum cantik dan menawan pasien.”

Belajar Hukum Kesehatan

Kini, untuk menambah pengetahuan sebagai dokter gigi, Shinta menempuh studi magister. Tepatnya Magister Hukum Kesehatan di Universitas Katolik Soegijapranata, Kota Semarang.

“Mungkin terbilang agak melenceng karena S2-nya berkaitan dengan hukum. Namun bukan tanpa alasan saya mengambil Hukum Kesehatan. Semua bermula dari keresahan saya tentang minimnya perlindungan hukum untuk dokter gigi di Persatuan Dokter Gigi Indonesia (PDGI),” jelas Shinta yang memulai studi lanjutnya sejak tahun lalu.

Beriringan dengan jadwal praktik yang terbilang cukup padat, Shinta meluaskan pandangannya tentang berbagai aspek hukum yang relevan dengan praktik kedokteran gigi, seperti hak dan kewajiban dokter gigi, tanggung jawab medis, dan regulasi terkait praktik kedokteran gigi di Indonesia. Dengan pengetahuan yang ia miliki kelak, Shinta berharap dapat berkontribusi meningkatkan kesadaran akan pentingnya perlindungan hukum bagi dokter gigi serta membantu dalam mengadvokasi perubahan kebijakan yang lebih merangkul profesi tersebut.

“Saya hanya berjaga-jaga kemungkinan terburuk yang mungkin akan saya atau rekan sejawat alami, dan semoga saja itu semua tak akan terjadi. Bagi saya, menuntut ilmu tak akan pernah salah, semua akan menjadi modal yang berharga untuk meraih keberkahan yang berdampak secara luas. Karena prinsip saya hanya satu, tak sekadar mengobati, namun juga bermanfaat untuk sesama.”

Penulis: Genis Dwi Gustati

Editor: Al Habiib Josy Asheva

Ingin berkarier seperti Shinta?

Berita Unggulan

image-featured
5 Agustus 2026

Siti Rahmawati dinyatakan lulus dengan predikat cumlaude dengan IPK 3,88, sekaligus menjadi doktor ke-68 Program Studi Doktor Pendidikan Agama Islam UMS.

sdgs-label
sdgs-badge
image-featured
4 Agustus 2026

Day Care UMS dan sejumlah layanan lainnya siap dihadirkan DSDMO UMS untuk mendukung kesejahteraan pegawai.

sdgs-label
sdgs-badge
sdgs-badge
image-featured
2 Agustus 2026

10 penghargaan diberikan kepada alumni UMS yang memiliki dampak luar biasa di bidangnya.

sdgs-label
sdgs-badge
sdgs-badge
sdgs-badge

UMS Newsletter

Tak ada yang lebih spesial dari membaca berita pilihan redaksi hanya untukmu.
Langganan gratis UMS Newsletter sekarang.

Baca sajian tulisan berkualitas dalam rubrik unggulan ums.ac.id

icon

Penelitian

Artikel ilmiah populer dari penelitian dosen UMS.

icon

Teropong Jagat

Artikel mendalam dilengkapi infografik.

icon

Kiprah

Biografi dosen dan mahasiswa berprestasi di UMS.

icon

Cerita Alumni

Cerita alumni UMS dalam meniti kariernya.