Berangkat dari fakta meningkatnya tren perundungan akibat transisi metode pembelajaran saat pandemi Covid-19 dan pascapandemi, Indiah Dewi Murni merumuskan disertasinya dengan judul “Pengembangan Model Pembelajaran Flipped-Blended dengan Pendekatan Pedagogik Kritis untuk Penguatan Karakter dan Literasi Humanitas pada Mata Pelajaran IPA SMP”.
Penelitian ini memberikan alternatif model pembelajaran dalam menyesuaikan perkembangan generasi yang melek teknologi namun canggung dalam sosialisasi. Gagasannya itu ia sampaikan saat pengukuhan doktor baru bidang pendidikan di Auditorium Mohammad Djazman, Rabu (19/2/2025).
Indah menjadi doktor bidang pendidikan ketujuh yang dimiliki Program Studi Pendidikan Program Doktor Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS).
Pembelajaran flipped merupakan pembelajaran dengan membalik kelas melalui Learning Management System (LMS) secara asinkronus menanamkan karakter kemandirian pada siswa untuk belajar dengan tidak terbatas pada ruang dan waktu.
“Dari pandangan pedagogik kritis, pembelajaran harus dapat meningkatkan aksesibilitas. Dengan e-learning asinkronus, peserta didik dapat belajar dengan sumber belajar yang beragam. Selain itu peserta didik akan mudah mengakses dan sesuai dengan gaya belajarnya,” ungkapnya.

Indiah Dewi Murni (tengah) usai dikukuhkan sebagai doktor pendidikan ke-7 UMS. Humas UMS/Luqman Hakim
Di akhir pemaparan disertasinya, Indiah menuturkan model pembelajaran flipped-blended dengan pedagogik kritis untuk penguatan karakter dan literasi humanitas pelajaran IPA SMP memenuhi kriteria efektif yang ditunjukkan oleh aktivitas peserta didik dalam pembelajaran dan respon positif terhadap pelaksanaan serta pencapaian kompetensi belajar peserta didik.
Ketua Sidang sekaligus Rektor UMS Prof. Dr. Sofyan Anif, M.Si., mempersilakan kepada penguji untuk memberikan pertanyaan atas penelitian yang telah dilakukan oleh Indiah.
Penguji sidang terbuka, Dr. Chandra Anugrah Putra mengatakan fenomena yang diangkat oleh Indiah sangat luar biasa, karena berangkat dari kondisi pembelajaran yang berorientasi pada hasil daripada proses pembelajaran. Dia menanyakan bagaimana Indiah mengkolaborasikan antara pedagogik kritis dengan model flipped-blended untuk menguatkan karakter dan literasi humintas.
“Dari model ini ada proses kembali kelas yaitu siswa belajar mandiri melalui daring asinkronus dengan LMS yang digunakan oleh guru. Kemudian pada saat tatap muka, guru menjadi fasilitator,” jawab Indiah.
Lebih lanjut, Indiah menyebut guru tidak hanya mengajar tetapi juga menjadi fasilitator, mentor, sekaligus pemandu untuk penguatan materi esensial, karakter, dan literasi humanitas melalui metode pembelajaran tatap muka bersama guru sesuai dengan materi ajar saat itu.
Rencananya, hasil penelitian Indiah akan didesiminasikan dalam kerja sama dengan MGMP IPA Sukoharjo. Diseminasi model pembelajaran juga telah dilakukan di SMPN 1 Mojolaban pada rekan-rekannya yang sedang menempuh Program Profesi Guru. Juga melalui komunitas belajar sekolah dan melalui ikatan Guru Baitul Athfal Aisyiyah ataupun Muhammadiyah.
Pada sidang doktor ini, Ketua Senat mengumumkan hasil sidang setelah merumuskannya bersama dengan dewan penguji. “Dewan Penguji memutuskan bahwa saudara Promovenda Indiah Dewi Murni dinyatakan lulus dengan Indeks Prestasi Kumulatif 3.94 dengan predikat Sangat Memuaskan dan menjadi lulusan doktor ke-7 dari Program Doktor Pendidikan UMS,” ujarnya.
Penulis: Maysali
Editor: Gede
Pengabdian
UMS Newsletter
Tak ada yang lebih spesial dari membaca berita pilihan redaksi hanya untukmu.
Langganan gratis UMS Newsletter sekarang.







