Meraih Medali
Tantangan Panahan Berkuda

Kuda jantan berwarna cokelat itu tampak gagah mengitari rerumputan hijau di lapangan berkuda Ayub Camp, Klaten, Jawa Tengah, suatu pagi di awal November. Hammam Arsya Kanaya duduk di pelana kuda itu. Sejumlah anak panah bertengger di punggungnya. Sementara tangan kanannya memegang busur panah.

Kuda kencang berlari melewati sebidang papan target panahan. Mendekati papan target di depannya, Hammam mengangkat busur dan menarik anak panahnya. Dalam satu gerakan, ia melepas anak panah dan menghunus papan target bidikannya. 

Hammam, mahasiswa Arsitektur Universitas Muhammadiyah Surakarta, mulanya menggemari olahraga berkuda sejak duduk di bangku sekolah menengah pertama di Pondok Pesantren Salman Al-Farisi, Karangpandan, Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah. 

Belajar berkuda memerlukan proses yang cukup panjang. Mula-mula, Hammam harus terbiasa merawat kuda milik pondok pesantren. Mulai dari memandikan kuda, membersihkan tapal kuda, membersihkan kotoran pada kandang kuda, sampai memberi makan dan minum rutin. 

Aktivitas itu harus ia lakukan selama setahun pertama mengikuti kegiatan berkuda. Sepekan sekali, Hammam menunggangi kuda tersebut berkeliling lapangan. “Biar ada bonding antara manusia dengan kuda,” ucapnya. 

Meskipun demikian, Hammam pernah merasakan tendangan dan gigitan kuda. Peristiwa itu meninggalkan memar dan luka di beberapa bagian tubuh Hammam. “Kalau kudanya besar, tendangannya bikin njarem,” imbuh Hammam.

Belajar berkuda tidak melulu ia habiskan di lingkungan pondok. Kedua orang tuanya pun kerap mengajaknya menunggangi kuda di salah satu pacuan kuda di Klaten, Jawa Tengah. 

Hammam remaja juga mempelajari olahraga panahan. Ia mengaku mempelajarinya secara terpisah. Hammam baru mengetahui horseback archery yang menggabungkan olahraga panahan dan berkuda pada 2020. Saat itu ia baru saja naik jenjang sekolah menengah atas di Pondok Pesantren Salman Al-Farisi. 

Dirinya bercerita kala diajak gurunya melihat lomba panahan berkuda di Desa Pabelan, Sukoharjo, Jawa Tengah. Dari situlah keinginannya untuk belajar panahan berkuda tumbuh. “Apalagi dua olahraga ini kan sunah dan orang tua juga mendukung,” katanya.

Hammam dan pelatihnya saat berlatih panahan berkuda di Ayub Camp, Klaten, Jawa Tengah, awal November lalu. Humas UMS/Imam Safii

Meraih Medali

Pria kelahiran Surakarta, Jawa Tengah, 11 Juni 2004, itu pertama kali mengikuti lomba panahan berkuda di Kabupaten Sukoharjo tahun 2022. Ia tengah duduk di kelas tiga sekolah menengah atas kala itu. Lomba tersebut merupakan seleksi daerah menuju kejuaraan nasional (kejurnas) panahan berkuda. 

Hammam berhasil lolos dan melaju ke seleksi tingkat provinsi di Klaten yang digelar oleh Persatuan Olahraga Berkuda Seluruh Indonesia (Pordasi). Hasilnya, Hammam berhasil meraih juara kedua dan berhak melaju ke kejurnas panahan berkuda di Malang, Jawa Timur. Namun, Hammam harus puas dengan posisi grade 6 pada kejurnas tersebut.

Tak mau berpuas diri, Hammam menghabiskan 2022 dengan mengikuti berbagai kompetisi untuk mengasah kemampuannya. Sebanyak tujuh perlombaan ia ikuti sepanjang 2022. Ia sukses menggondol dua medali emas dari Kejuaraan Soloraya dan Kejuaraan Daerah Perdana (Perkumpulan Pemanah Berkuda Indonesia). 

Hammam sempat mengambil jeda studi atau gap year untuk memaksimalkan keikutsertaannya dalam kompetisi panahan berkuda. “Tahun 2022 itu memang lagi aktif-aktifnya,” seloroh Hammam.

Poin demi poin ia kumpulkan. Apalagi namanya kini masuk dalam daftar peringkat atlet International Horseback Archery Alliance (IHAA). Hammam sempat bertahan di posisi 100-an global. Namun kini peringkatnya turun ke posisi 263 dengan perolehan sebanyak 73.72 poin. “Tidak semua lomba di Indonesia masuk dalam penilaian IHAA,” beber dia.

Selepas masuk Program Studi Arsitektur UMS pada 2023, Hammam tetap menjalani sejumlah perlombaan meski tak seintensif saat gap year. Beruntung dua keping medali perak berhasil ia genggam. Salah satunya berasal dari Pekan Olahraga Provinsi Jawa Tengah di Kabupaten Pati.

Peluang besar justru terbuka pada 2024. Ia terpilih untuk mewakili Jawa Tengah dalam Pekan Olahraga Nasional (PON) Aceh-Sumut 2024 cabang olahraga panahan berkuda. Hammam berlaga pada dua kategori, yakni kategori serial shoot senior dan beregu senior putra. 

Hammam bercerita, pertandingan yang ia ikuti adalah pertandingan eksibisi. Pertandingan tersebut adalah pertandingan perdana cabor panahan berkuda dalam sejarah penyelenggaraan PON. Tidak mengherankan sebab cabor panahan berkuda adalah pemain baru dalam dunia olahraga Tanah Air. 

Meskipun hanya pertandingan eksibisi, Hammam tetap menjaga semangatnya di arena. Hasilnya, Hammam membawa pulang medali perunggu kategori serial shoot dan medali emas kategori beregu. 

Hammam Arsya Kanaya (kanan) saat meraih medali perunggu dalam pertandingan eksibisi Pekan Olahraga Nasional (PON) Aceh-Sumut, September 2024. Dok.Pribadi

Tantangan Panahan Berkuda

Hammam melihat peluang cabor panahan berkuda di wilayah Solo Raya cukup menjanjikan. Apalagi peminat cabor panahan, berkuda, maupun panahan berkuda semakin bertambah seiring waktu. “Tapi memang kurang tempat latihannya saja,” kata dia.

Hammam pun mengamini jika masih banyak tantangan dalam olahraga panahan berkuda. Mulai dari pembinaan atlet, tata kelola federasi olahraga, hingga kejuaraan panahan berkuda di Indonesia. 

Idealnya, kata Hammam, tingkatan kejuaraan atlet dimulai dari seleksi daerah, seleksi provinsi, kejuaraan nasional, lalu PON. Namun, Hammam menyebut sistem perlombaan Pordasi mengharuskan atlet pemenang kejurnas harus mengikuti seleksi ulang menuju PON. Ia berharap ke depan perlu pembenahan pada tata kelola perlombaan panahan berkuda Tanah Air. 

Di tengah kesibukannya sebagai mahasiswa, Hammam tetap ingin menyeimbangkan diri antara kuliah dan kompetisi berkuda. Ia mengaku ingin menyelaraskan kemampuannya dan target perolehan poin IHAA. “Kalau bisa, sih, balance,” ungkap dia, “Poin IHAA kalau mau bisa dikejar. Tapi memang butuh waktu yang lama.”


Penulis: Gede Arga Adrian

Editor: Al Habiib Josy Asheva

Kompetisi

image-featured
21 Juli 2026

Mahasiswa UMS meracik obat penyembuh luka diabetes dari daun kelor dan daun mimba. Sukses memboyong emas dalam WYIE 2026 di Malaysia.

sdgs-label
sdgs-badge
sdgs-badge
sdgs-badge
image-featured
15 Juli 2026

Tim Karate UMS sukses memborong medali dalam Karate International Championship 2026 di UIN Walisongo Semarang. Pembinaan berjenjang menjadi kunci utama kemenangan.

image-featured
9 Juli 2026

Mahasiswa UMS ciptakan platform ketenagakerjaan untuk melindungi pekerja migran dari risiko penyalahgunaan data, pelanggaran kontrak kerja, hingga berbagai persoalan administratif.

sdgs-label
sdgs-badge
sdgs-badge

UMS Newsletter

Tak ada yang lebih spesial dari membaca berita pilihan redaksi hanya untukmu.
Langganan gratis UMS Newsletter sekarang.

Baca sajian tulisan berkualitas dalam rubrik unggulan ums.ac.id

icon

Penelitian

Artikel ilmiah populer dari penelitian dosen UMS.

icon

Teropong Jagat

Artikel mendalam dilengkapi infografik.

icon

Kiprah

Biografi dosen dan mahasiswa berprestasi di UMS.

icon

Cerita Alumni

Cerita alumni UMS dalam meniti kariernya.