Teriknya matahari Kota Doha, Qatar, tak menyurutkan semangat Muhamad Wildan Fadila bekerja di helipad kapal angkat atau lift boat Milaha Explorer. Kapal itu tengah bersauh di Qatar Shipyard untuk menjalani perawatan rutin. Sudah hampir sebulan terakhir, pemuda yang akrab disapa Wildan ini menjalani praktik kerja internasional di kapal itu.
Milaha Explorer adalah fasilitas akomodasi bagi pekerja lepas pantai milik perusahaan maritim dan logistik terbesar Qatar bernama Milaha. Lift boat ini memiliki bobot mati seberat 2.100 ton dan mulai beroperasi sejak 2016. “Kapal ini menampung tempat tidur, makan, hingga pusat kebugaran,” katanya saat dihubungi pada pertengahan Juli lalu.
Mahasiswa Teknik Elektro Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) itu saat ini menjalani kuliah praktik internasional sebagai trainee electrical technician officer di Milaha. Tugasnya bertanggung jawab untuk memperbaiki dan memastikan perangkat kelistrikan di kapal agar terus berfungsi. Mulai dari lampu navigasi, panel kedaruratan, hingga peralatan listrik di dapur kapal.
Salah satu tugasnya adalah melakukan penggantian lampu yang terletak di area helipad. Area ini menjorok ke laut dan terletak di dek atas kapal. Tidak heran jika ia wajib mengenakan baju pengaman atau harness selama bekerja. Sebab, salah langkah sedikit dapat berisiko membuatnya jatuh ke laut.
Tugas lainnya adalah memperbaiki panel kedaruratan di sejumlah titik di kapal. Panel ini berfungsi untuk mengontrol sistem alarm darurat yang terintegrasi dengan pengeras suara, peredam api, dan terhubung dengan sistem sekoci penyelamat. Kata Wildan, perbaikan ini sangat penting sebab peralatan kelistrikan di kapal sangat rentan terhadap karatan.
Pria yang tak memiliki ketakutan pada ketinggian ini juga beberapa kali ditugaskan untuk mengganti lampu navigasi di sejumlah tiang kapal. Suhu panas ekstrem Qatar membuat Wildan harus bekerja ekstra fokus agar dapat menuntaskan pekerjaannya.
Saat mendarat pertama kali di Qatar pertengahan Juni lalu, Wildan langsung terkejut dengan panasnya jazirah Arab. Suhu kian menjadi saat tiba dermaga Qatar Shipyard milik Milaha yang terletak 49 kilometer di selatan Kota Doha. Kombinasi geografis dataran rendah, jazirah Arab, dan musim panas membuat suhu siang hari dapat mencapai 54 derajat Celsius. “Panas sekali,” keluhnya.
Kalau bekerja di luar ruangan membuat mahasiswa semester 8 ini menghadapi panas ekstrem, bekerja di dalam ruangan rupanya tak kalah menantang. Wildan harus ekstra teliti dalam memperbaiki peralatan listrik di dalam kabin kapal. Hal ini disebabkan peralatan listrik itu terletak di celah-celah sempit ruangan kapal.
Wildan menghabiskan waktunya di kapal dari bangun tidur, hingga kembali terlelap waktu malam tiba. Baju lapangan berwarna oranye pun menjadi seragam hariannya. Ia menuturkan selama bekerja di kapal, ia tidak pernah merasakan libur. Hanya di hari Jumat Wildan dapat bernafas lega karena dapat bekerja setengah hari.
Bekerja di negara petrodolar membuat Wildan mendapatkan pengalaman industri nyata sekaligus eksposur global. Setidaknya terdapat lima diaspora Indonesia, termasuk Wildan, yang bekerja di kapal itu. Sedangkan pekerja lainnya datang dari berbagai negara. Mayoritas berasal dari India.
Setiap kali bekerja, Wildan mengamati etos kerja dan disiplin yang dilakukan para pekerja di kapal itu. Dalam pengamatannya, pekerja kapal sangat lihai dan terampil dalam mengoperasikan alat kerja. Melihat para pekerja yang semangat bekerja telah memacu Wildan untuk ikut bekerja maksimal.
Perbedaan bahasa rupanya tak jadi soal baginya. Meskipun Wildan mengaku belum fasih menguasai bahasa Inggris, ia tetap percaya diri memaksimalkan kemampuan bahasa Inggrisnya dengan kombinasi bahasa tubuh. “Yang penting confident,” seloroh dia.

Merantau ke Qatar
Pria asal Cilegon, Banten, ini mulanya mendapat informasi dari salah satu temannya yang bekerja di Milaha. Anak tunggal di keluarganya ini tak mau menyia-nyiakan kesempatan emas itu. “Ini pengalaman pertamaku bekerja di luar negeri,” tuturnya.
Wildan harus mengambil mengambil sejumlah berkas dan mengambil sertifikasi sebelum berangkat ke Qatar. Salah satu sertifikasi yang harus ia ambil adalah Basic Safety Training atau BST. Sertifikasi ini merupakan syarat wajib bagi calon pekerja dengan latar belakang pendidikan di luar ilmu pelayaran.
Selain itu, dirinya juga harus mengambil sertifikasi Scholastic Assessment Test, Seafarer With Designated Security Duties, Survival Craft and Rescue Boats, Helicopter Underwater Escape Training, hingga Advanced Fire Fighting.
Sebagian besar sertifikasi dilakukan di Indonesia. Beberapa sertifikasi dilakukan di salah satu sekolah pelayaran di Semarang. Sebagian lainnya dapat dilakukan secara daring.
Helicopter Underwater Escape Training atau HUET menjadi salah satu sertifikasi paling berkesan yang pernah Wildan lakukan. HUET adalah program pelatihan darurat untuk evakuasi dan menyelamatkan diri dari helikopter yang mendarat darurat atau jatuh di dalam air. Proses sertifikasi ini dilakukan di Qatar sebelum Wildan memulai kuliah praktik di Milaha.
Setelah merampungkan seluruh berkas administrasinya, ia akhirnya mulai bekerja per 15 Juni 2026. “Alhamdulillah di sini juga mendapat gaji dengan range 500-1.000 dolar AS untuk training,” ungkapnya bersyukur.
Menggemari Elektro Sejak SMK
Wildan telah mendalami dunia elektro sejak duduk di bangku Sekolah Menengah Kejuruan Yayasan Pendidikan Warga Krakatau Steel di Cilegon, Banten. Ia menghabiskan masa sekolahnya selama empat tahun. “Tiga tahun full belajar di kelas, satu tahun untuk magang,” jelasnya.
Pengalaman kerjanya dimulai melalui magang di beberapa perusahaan di Banten. Salah satunya adalah PT Artas Energi Petrogas. Di sana, Wildan bertugas memperbaiki panel kecepatan pada mesin crane, perbaikan motor, hingga menjadi operator panel tegangan 20 kilovolt.
Ia pun sempat mengikuti pelatihan di Balai Besar Pelatihan Vokasi dan Produktivitas Kabupaten Serang, Banten. Wildan mempelajari penggunaan alat kelistrikan berarus kuat, hingga praktik penggunaan alat instalasi kontrol.
Pengalaman selama di SMK membuat Wildan mantap memilih Teknik Elektro UMS sebagai tempatnya mengenyam pendidikan jenjang sarjana. Ia pun turut aktif dalam komunitas robot Aerobo yang berfokus pada pengembangan robot terbang.
Dua tahun berturut Wildan membawa timnya melenggang di gelaran final Kontes Robot Terbang Indonesia. Tidak heran jika dirinya dipercaya menjadi Ketua Aerobo periode 2024-2025. Kendati belum berhasil membawa tim itu meraih juara, semangatnya terus ia tularkan pada teman-temannya untuk mau melakukan riset dan mengembangkan robot terbang.
Tak mau jago kandang, Wildan pun menantang dirinya untuk mengikuti kuliah praktik internasional di Qatar. Kesempatan itu telah memperkaya pengalamannya pada industri. Menjadi bekal bagi dirinya sebelum terjun ke dunia kerja selepas lulus nanti.
Disinggung mengenai impiannya, Wildan optimis seraya berkata, “Saya berharapnya dapat kembali bekerja di Milaha.”
Penulis: Gede Arga Adrian
Editor: Al Habiib Josy Asheva
Kompetisi
UMS Newsletter
Tak ada yang lebih spesial dari membaca berita pilihan redaksi hanya untukmu.
Langganan gratis UMS Newsletter sekarang.








