Kurangnya Praktik Refleksi Bagi Guru
Tentang Pengabdian Masyarakat
Dampak dan Harapan


Tim dosen Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) mengadakan Pengabdian Masyarakat (Pengmas) melalui skema P2AD sebagai Penguatan Kapasitas Guru (Teacher Agency) SMP dan MTs Sukoharjo dengan “Pelatihan Pengajaran Reflektif”.

Tim pengabdian terdiri dari dosen FKIP UMS dan mahasiswa, di antaranya:

  1. Mauly Halwat Hikmat, S.Pd., M.Hum., Ph.D. (Ketua)
  2. Aryati Prasetyarini, S.Pd., M.Pd.
  3. Nurhidayat, S.Pd., M.Pd.
  4. Agus Wijayanto, M.A., Ph.D.
  5. Dr. mujazin, S.Pd., M.A.
  6. Friendly Lucianna
  7. Lina Camelia
  8. Miftah Alfitri
  9. Fildzah Tita
  10. Auliya Nur Fajri

Kurangnya Praktik Refleksi Bagi Guru

Ketua Pengmas, Mauly Halwat menyampaikan beberapa analisis situasi yang terjadi pada guru saat ini, baik secara umum maupun khusus.

“Berdasarkan pengamatan kami, pemahaman guru tentang pentingnya refleksi bagi guru dalam pembelajaran relatif sangat kurang. Demikian pula praktik refleksi jarang dilakukan secara terstruktur. Refleksi yang dilakukan juga seringkali tidak berkesinambungan,” paparnya, Minggu (7/5).

Menurut dia, kepekaan guru terhadap identifikasi masalah dan penerapan solusi sering kali terjebak pada praktik dan pelaporan Penelitian Tindakan Kelas (PTK) yang umumnya hanya berhenti sebagai syarat administratif.

“Karena itu, pengabdian ini bertujuan untuk meningkatkan kesadaran guru tentang pentingnya melakukan refleksi diri, meningkatkan kapasitas guru dalam melakukan refleksi kritis, dan meningkatkan self-agency guru sehingga menjadi guru yang mandiri dalam mengembangkan diri dan profesionalitas,” tegas Mauly.

Tentang Pengabdian Masyarakat

Pengabdian direncanakan dalam jangka waktu dua (2) tahun. Tahun pertama, dilakukan penguatan kemampuan refleksi diri. Kemudian, di tahun kedua dilakukan penguatan guru terhadap pengetahuan dan keterampilan dalam menentukan strategi pembelajaran yang tepat dengan asesmen yang autentik. Hal tersebut akan membantu guru dalam menyegarkan pengetahuan akademiknya dan mengaitkan antara teori dan praktiknya.

“Guru mengidentifikasi permasalahan yang ditemukan di kelas. Berdasarkan hal tersebut, mereka diharapkan mampu menyusun rencana tindak lanjut yang sesuai dengan akar permasalahan. Dalam penyusunan rencana tindak lanjut ataupun solusi permasalahan tersebut, guru akan diminta untuk mengaitkannya dengan teori atau literatur yang ada sehingga pengetahuan guru juga akan meningkat,” tambahnya.

Mauly menyampaikan pelatihan ini dilaksanakan dalam tiga tahap dengan jumlah peserta sebanyak 23 guru dari berbagai SMP dan MTs Muhammadiyah di Sukoharjo

“Tahap pertama, ada persiapan sebelum melaksanakan workshop. Tahap kedua, berupa pelaksanaan workshop. Terakhir, tahap ketiga adalah praktik reflektif di sekolah dengan mekanisme guru mempresentasikan apa yang mereka pelajari tentang materi yang diberikan selama lokakarya,” ungkapnya.

Dampak dan Harapan

Ketua Pengmas juga menambahkan bahwa luaran dalam pengabdian tersebut berupa artikel publikasi pada jurnal pengabdian masyarakat dan buku panduan untuk pengajaran reflektif bagi guru.

Berdasarkan kumpulan contoh praktik refleksi yang dilakukan dan tugas praktik yang dilaporkan, diharapkan para guru akan terbiasa untuk kritis terhadap praktik pembelajarannya. Dengan demikian, ke depannya mereka menjadi lebih mandiri dalam menentukan pengembangan diri yang memang harus mereka lakukan. (Fika/Humas)

Berita Unggulan

UMS Newsletter

Tak ada yang lebih spesial dari membaca berita pilihan redaksi hanya untukmu.
Langganan gratis UMS Newsletter sekarang.

Baca sajian tulisan berkualitas dalam rubrik unggulan ums.ac.id

icon

Penelitian

Artikel ilmiah populer dari penelitian dosen UMS.

icon

Teropong Jagat

Artikel mendalam dilengkapi infografik.

icon

Kiprah

Biografi dosen dan mahasiswa berprestasi di UMS.

icon

Cerita Alumni

Cerita alumni UMS dalam meniti kariernya.