
Dosen FK UMS Raih Penghargaan E-Poster Terbaik ISMOAC 2026
Poster dosen UMS berisi kajian pemanfaatan AI dalam penelitian perawatan intensif obstetri global.
Berlari menjadi tren yang tengah digandrungi masyarakat Indonesia. Tak terkecuali Kota Surakarta atau Solo. Ruang publik seperti Stadion Manahan pun dijejali ratusan pelari setiap pagi dan petang. Jumlah tersebut dapat melonjak saat akhir pekan.
Dalam pantauan kami, Sabtu (2/8/2025) lalu, sekitar seribuan warga Surakarta memadati area Stadion Manahan. Para pelari umumnya berlari di tiga titik, yakni stadion, velodrom, dan area luar gelanggang.
Jogging adalah aktivitas berlari santai yang digunakan untuk menjaga stamina dan kebugaran tubuh. Jogging menjadi tren sejak pandemi Covid-19 berakhir. Maraknya festival fun run di Indonesia menjadi pemantik bangkitnya gairah masyarakat untuk berlari. Tak terkecuali Kota Bengawan.
Popularitas jogging sebagai olahraga kaum urban tak lepas dari pandemi Covid-19. Dosen Pendidikan Jasmani Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) Akhmad Azlan Khoirur Rozikin, S.Pd., M.Or. menyebut pandemi membuat masyarakat sadar pentingnya menjaga kesehatan.
“Pandemi jadi momentum bangkitnya kesadaran untuk berolahraga,” kata pria yang akrab disapa Azlan itu saat ditemui pada Jumat (8/8/2025). Survei Kurious-Katadata Insight Center (KIC) pada 2023 menyebutkan 82,5 persen responden berolahraga untuk menjaga kesehatan.
Olahraga lari dapat dilakukan di mana pun. Mulai dari jalan di sekitar komplek perumahan, hingga ruang publik khusus olahraga. Berbeda dengan olahraga lain yang memerlukan arena khusus, seperti bulu tangkis, tenis, hingga sepak bola.
Kepopuleran jogging disambut positif oleh Azlan. Menurutnya, jogging semakin dikenal sebagai olahraga yang mudah dilakukan karena dapat dilakukan secara individu. “Banyak yang tahunya olahraga itu permainan, seperti voli, sepak bola, dan sebagainya,” imbuh sprinter Jawa Tengah itu.
Jogging juga menjadi olahraga yang melahirkan komunitas lari baru. Azlan menilai komunitas tersebut sebagai dampak positif dari popularitas jogging. Laporan Strava–platform daring pelacak aktivitas fisik–mencatat komunitas lari di Indonesia meningkat hingga 83 persen pada 2024.
Sayangnya, kesan jogging sebagai gaya hidup yang mahal mulai terasa dalam dua tahun terakhir. Kesan mahal itu terlihat dari busana yang digunakan pehobi lari. Mulai dari kaos lari keluaran jenama ternama, hingga sepatu khusus lari yang seharga jutaan.
Kesan itu ditangkap Azlan saat melihat sebagian pelari mengikuti tren jogging sekadar untuk mejeng di ruang publik. Padahal untuk mulai berlari tidak mesti menggunakan kostum mahal. “Lari ini olahraga yang mudah dan murah,” tegasnya.
Azlan menyebut beberapa cara dapat dilakukan agar jogging tidak merogoh kocek terlalu dalam. Misalnya, menggunakan kaos atau celana yang ada di lemari. Tidak harus beli baru dari toko khusus olahraga. Yang penting nyaman dan fungsional saat dipakai selama berlari.
Menggunakan sepatu khusus lari juga sangat penting untuk mencegah cedera. Apalagi medan berlari umumnya keras seperti aspal. Namun, memilih sepatu lari tidak harus yang seharga selangit. “Sepatu juga tidak harus merk A yang harganya jutaan. Opsi yang lebih terjangkau sekarang juga banyak,” ucap Azlan.
Aktif sebagai atlet atletik Jawa Tengah membuat Azlan mafhum teknik dasar berlari. Ia juga aktif sebagai pelatih sekolah khusus lari yang mencetak sejumlah pelari berprestasi. Sekolah khusus berlari tersebut juga membuka kelas pelari pemula.
Azlan bercerita dirinya kerap menjumpai pehobi lari yang aktif mengikuti fun run, namun belum menguasai teknik dasar dalam berlari. Ini terlihat saat para pehobi menjajal kelas pelari pemula.
“Semua orang bisa berlari. Tapi, kan, dasar-dasar berlari itu penting. Seakan-akan hanya ikut tren saja, tapi dasar berlarinya tidak tahu,” tutur Azlan. Menurutnya, sangat penting bagi pelari pemula untuk menguasai teknik dasar berlari. Salah satu teknik yang harus dipelajari adalah running drills.
Running drills adalah rangkaian latihan yang dirancang untuk meningkatkan teknik berlari, kekuatan otot, efisiensi gerakan, dan mencegah cedera. Gerakan running drills memiliki banyak variasi. Beberapa di antaranya, adalah ankling, high knees, hingga butt kicks. “Biar form (teknik dan postur) larinya benar dulu,” kata Azlan.
Ankling adalah gerakan berlari yang bertumpuk pada bola kaki yang terletak di bagian tengah depan telapak kaki. Latihan ini membantu untuk meningkatkan kelincahan dan kekuatan otot tungkai.
High knees dilakukan dengan mengangkat lutut setinggi mungkin mendekati dada. Umumnya dilakukan dengan berlari di tempat. Sedangkan butt kicks adalah gerakan berlari di mana tumit kaki hampir menyentuh bokong. Latihan ini bermanfaat untuk melatih kekuatan otot hamstring.
Pemanasan sebelum lari sangat penting untuk mencegah cedera dan saat berlari. Azlan mengatakan metode running drills sangat cocok digunakan untuk pemanasan.
Tahap selanjutnya adalah mulai berlari untuk satu putaran. “Sambil kita perbaiki juga form berlarinya,” lanjutnya.
Bagi pelari pemula, Azlan menyarankan untuk tidak memforsir tubuh berlari dalam jangka waktu yang lama. Tujuannya untuk membiasakan diri dengan aktivitas fisik yang ringan.
“Bisa menggunakan interval, seperti 1 menit berjalan, 30 detik berlari, lalu 1 menit berjalan. Diulang sampai 10 menit,” jelas dia.
Selain mendalami running drills, Azlan menekankan pentingnya menjaga asupan cairan dan gizi sebelum dan selama berlari. Hindari makanan terlalu berat sebelum berlari. Hal ini akan membuat berlari menjadi lebih nyaman.
Azlan mengatakan membangun kebiasaan berlari membutuhkan komitmen yang kuat. Ia menyebut jogging tidak harus dilakukan di kawasan olahraga terpadu. “Bisa mulai berlari dari rumah atau keliling kampung,” seloroh Azlan.

Jogging rutin memiliki manfaat yang baik bagi tubuh. Beberapa manfaat lari bagi tubuh, antara lain:
1. Menjaga kesehatan jantung
Jogging termasuk dalam olahraga kardio yang meningkatkan detak jantung. Rutin jogging sama dengan melatih kekuatan detak jantung. Aktif berlari juga berpotensi mengurangi kadar lemak dan kolesterol yang menyelimuti jantung dan peredaran darah.
2. Menurunkan berat badan
Jogging merupakan aktivitas fisik yang melatih seluruh bagian badan. Olahraga ini “merusak” otot badan. Tubuh kemudian mengambil lemak dan protein untuk memperbaiki otot yang rusak tersebut. Alhasil berat badan akan berkurang.
3. Meningkatkan stamina dan daya tahan tubuh
Jogging akan melatih kemampuan otot kaki, jantung, dan pernapasan. Alhasil stamina tubuh akan terjaga dan lebih optimal untuk digunakan dalam menjalani rutinitas.
4. Membuat tidur lebih nyenyak dan berkualitas
Jogging akan membuat tubuh merasa lelah. Jika jogging dilakukan di sore hari, maka tubuh akan lelah dan lebih mudah untuk terlelap.
5. Mencegah osteoporosis dan menjaga kesehatan sendi
Rutin jogging akan mencegah terjadinya radang sendi lutut. Berlari juga membuat tulang lebih kuat dan mencegah osteoporosis di kemudian hari.

Azlan melihat tren berlari masih akan digandrungi masyarakat dalam waktu yang lama. Selain karena masyarakat yang semakin sadar pentingnya menjaga kesehatan, tren ini didukung dengan maraknya kegiatan fun run yang digelar di berbagai daerah di Indonesia.
Di Kota Solo misalnya, sejumlah agenda fun run tak pernah sepi peminat. Mulai dari Solo Run Fest yang mencapai 4.500 pelari, Mangkunegaran Run dengan 5.500 pelari, hingga Soekarno Run SOC dengan 5.555 pelari.
Di tingkat nasional, agenda long run tak kalah menarik bagi para pemburu pace. Sebut saja Yogyakarta Marathon dengan 9.200 pelari, Borobudur Run dengan 10.500 pelari, hingga Jakarta Marathon dengan 31.000 pelari.
Ramainya peminat jogging di Indonesia menunjukkan antusiasme yang besar terhadap olahraga ini. “Saya yakin agenda lari seperti ini masih diminati dalam jangka waktu yang panjang,” tandas Azlan.
Penulis: Gede Arga Adrian
Editor: Al Habiib Josy Asheva

Poster dosen UMS berisi kajian pemanfaatan AI dalam penelitian perawatan intensif obstetri global.
Tak ada yang lebih spesial dari membaca berita pilihan redaksi hanya untukmu.
Langganan gratis UMS Newsletter sekarang.