Berjiwa Dagang Sejak Lama
Suasana sore itu di sebuah rumah di Colomadu, Karanganyar, terasa hangat. Sepulang dari kesibukannya, Maharani, tetap ramah menyambut kami dengan senyum merekah. Kami kemudian dipersilakan duduk bersantai di halaman belakang rumah sembari dijamu beberapa makanan ringan dan kopi.
Rani, sapaan akrabnya, mengingat betul bagaimana ibunya melatih kemandirian sejak kecil. Libur sekolah bukan berarti bebas bermain. “Sejak kecil saya sudah dibiasakan untuk mandiri,” katanya membuka percakapan, akhir September lalu.
Didikan ibunya yang keras dan penuh disiplin membuat Rani, begitu orang-orang menyapanya, terlatih bekerja sejak masa sekolah. Hari libur yang lain dihabiskan bermain, tetapi sebagian harus ia gunakan untuk berjualan.
“Kalau mau uang jajan, harus kerja dulu,” kenang perempuan kelahiran Boyolali itu. Sejak itu ia belajar bahwa keringat dan keberanian mengambil langkah adalah kunci untuk bertahan.
Masa kuliah Rani di Ilmu Hukum Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) berjalan selayaknya mahasiswa lain yang menempuh studi. Ia hanya fokus belajar. Setelah menimba ilmu, ia kembali mengasah naluri bisnisnya.
Rani muda tidak segan berjualan sprei kepada dosen dan teman-temannya selama kuliah. Setelah lulus tahun 1992, ia mencoba berbagai bidang usaha, mulai dari tekstil hingga membuka toko besi pada 2005.
Dari sanalah Rani mulai mengenal dunia properti. Keuntungan dari usaha itu ia putar untuk membeli beberapa kapling tanah, meski awalnya hanya sanggup membayar uang muka.
Tahun 2011 menjadi titik penting dalam hidup wanita 54 tahun itu. Rani memberanikan diri masuk ke Real Estat Indonesia (REI) Solo Raya dan langsung dipercaya sebagai sekretaris. Kariernya terus menanjak, dari diamanahi menjadi bendahara, penanggung jawab, hingga akhirnya terpilih sebagai Ketua REI Solo Raya periode 2021-2024.
Ujian Terberat
Rani bisa dibilang ulet dan berani mengambil risiko. Proyek demi proyek ia jalani, meski kerap harus menanggung beban pinjaman bank miliaran rupiah.
Meski kini terbilang sukses, Rani tak lepas dari badai dalam berbisnis. Puncak ujian datang saat pandemi Covid-19. Masa-masa paling kelam dalam hidupnya.
Proyek terhenti, penjualan merosot, dan utang menumpuk hingga ratusan miliar rupiah. “Perusahaan bukan hanya turun, tapi pecah berkeping-keping,” ucapnya lirih seakan mengenang peristiwa pahit itu.
Dirinya mengaku pernah sampai menjual aset demi membayar gaji karyawan dan cicilan bank. “Saya tidak malu mengaku punya utang sampai segitu. Justru dari situ saya belajar arti bertahan,” ujarnya. Maharani tetap berpegang pada prinsip menjaga nama baik, komunikasi jujur dengan perbankan, dan mengandalkan jaringan.
Kejujuran, transparansi, dan reputasi Rani dalam dunia real estate membuatnya tetap dipercaya hingga memperoleh keringanan skema pembayaran oleh bank. Tenor pinjaman diperpanjang, pembayaran bunga sebagian ditunda, dan cicilan diatur lebih fleksibel menyesuaikan kondisi perusahaan.
Sementara itu, setiap ada pemasukan dari proyek kecil yang masih berjalan, sebagian langsung dialihkan untuk menutup kewajiban. Langkah-langkah itu membuat Rani perlahan mampu keluar dari lilitan utang, tanpa harus kehilangan seluruh pondasi bisnis yang telah dibangunnya.
Pemimpin yang Berdedikasi

Kala menjabat sebagai Ketua REI Solo Raya, ibu beranak tiga itu menggagas sejumlah kerja sama strategis. Ia merangkul BPJS Ketenagakerjaan untuk memberikan perlindungan bagi pekerja, bermitra dengan PLN agar pemasangan listrik pada bisnis perumahannya lebih mudah, serta membangun sinergi dengan pemerintah daerah demi kelancaran perizinan dan pengembangan sektor properti.
“Dengan real estate, pendapatan daerah ikut naik. Pajak, BPHTB, PPN, semuanya kembali ke negara,” ujarnya. Ia kerap mengingatkan bahwa sektor properti bukan hanya urusan bisnis, melainkan juga penopang ekonomi daerah. Pajak, retribusi, dan kontribusi lainnya terhadap negara menjadi bukti nyata peran sektor ini.
Soal pasar, Rani menilai rumah subsidi masih menjadi kebutuhan utama di Jawa Tengah. Sementara segmen menengah, terutama rumah di bawah Rp1 miliar terus diminati.
Untuk wilayah perkotaan padat seperti Solo, ia justru mendorong pengembangan hunian vertikal karena ketersediaan lahan semakin terbatas. “Tanah semakin terbatas, solusinya apartemen,” celetuknya.
Di luar bisnis, Rani juga menguatkan kiprahnya di dunia korporasi. Ia tercatat sebagai Direktur PT Dua Putra Bengawan, Direktur PT Rava, serta Komisaris PT Lima Sejahtera Jaya. Jejaknya kian luas ketika dipercaya menjadi Wakil Ketua Bidang Kawasan Pemukiman dan Industri Kadin Karanganyar, Ketua Forum PKP Sukoharjo, hingga anggota Majelis Ekonomi Bisnis PWM Jawa Tengah.
Rangkaian posisi tersebut menunjukkan Rani bukan hanya pemain penting di sektor real estate, tetapi juga sosok yang berpengaruh dalam pengambilan keputusan strategis di ranah bisnis dan asosiasi. Namun yang paling menyentuh baginya adalah perannya sebagai Ketua Umum Kartini Entrepreneur Indonesia, sebuah wadah pemberdayaan perempuan, khususnya para janda.
Sebagai single parent, Rani paham betul betapa sulitnya bertahan setelah kehilangan pasangan. Komunitas ini lahir dari keprihatinannya melihat banyak perempuan yang tidak siap secara finansial ketika ditinggal suami.
“Saya ingin para janda mandiri. Jangan putus asa, jangan bergantung. Harus bangga bisa hidup sendiri. Makanya bagaimana cara, saya ingin membuat mereka ini berdaya, punya seni bertahan hidup,” tegas Rani.
Rani juga berupaya menjalin kerja sama dengan pemerintah agar memberi akses kredit lunak bagi anggota komunitasnya. “Kami tidak minta diberi gratis. Dipinjami saja, agar bisa buka usaha. Karena banyak sekali yang untuk makan saja susah,” ujarnya prihatin.
Rani tak sungkan berbagi rahasia bisnis kepada generasi muda. Salah satunya, jangan habiskan semua modal pinjaman untuk proyek. Sisihkan sebagian untuk membeli aset agar ada jaminan nilai yang terus naik. Ia mencontohkan bagaimana tanah yang dulu ia beli Rp500 ribu per meter bisa melonjak menjadi Rp2,2 juta hanya dalam setahun. Baginya, keberanian mengambil keputusan cepat adalah kunci.
“Kalau ada peluang, jangan ragu. Pengusaha itu harus berani ambil risiko,” katanya. Dari sana, ia ingin generasi muda belajar bahwa hidup memang tidak mudah, namun selalu ada jalan bagi mereka yang berani melangkah.
Meski kenyang pengalaman pahit, Maharani menatap masa depan dengan optimis. Ia percaya sektor properti akan kembali tumbuh lebih kuat, terutama mulai 2026 seiring stabilitas ekonomi nasional.
Penulis: Genis Dwi Gustati
Editor: Al Habiib Josy Asheva
Mahasiswa Internasional
UMS Newsletter
Tak ada yang lebih spesial dari membaca berita pilihan redaksi hanya untukmu.
Langganan gratis UMS Newsletter sekarang.








