DSTI
// Selengkapnya
Perbedaan Bukan Halangan
Menjadi Insan Bermanfaat

Sosok Benidektus Adi Prianto remaja tak pernah membayangkan dirinya akan berkarier sebagai seorang fisioterapis saat dewasa. Pemuda tamatan Sekolah Menengah Atas Negeri 1 Ogan Komering Ulu, Sumatera Selatan, itu tak sengaja kecemplung di Program Studi Fisioterapi, Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS).

Pekerjaan sebagai fisioterapis adalah hal asing di telinga Beni remaja. Dia menuturkan profesi tersebut kurang lazim di lingkungan tempat tinggalnya. “Apa, sih, fisioterapi itu? Kerjanya ngapain?” gumam Beni kala itu. Dia baru mengenal profesi fisioterapi saat neneknya yang bekerja di rumah sakit merekomendasikan jurusan Fisioterapi. 

“Nenek saya waktu itu bilang ‘proyeksi fisioterapi ke depan bakal bagus, nih’ katanya. Akhirnya saya lanjut kuliah di Prodi Fisioterapi,” kenang Beni dalam wawancara virtual, Selasa (16/7/2024). Siapa sangka berkat rekomendasi keluarganya itu, dia sukses melenggang menjadi fisioterapis olahraga.

Sempat berkarier selama satu tahun sebagai junior physiotherapist di salah satu klinik fisioterapi di Surabaya, Beni akhirnya berlabuh di klub sepak bola Persib Bandung pada 2016. Saat itu, pimpinan klinik tempatnya bekerja mendapat informasi mengenai lowongan fisioterapis di klub berjuluk Maung Bandung itu. Beni lantas tak menyia-nyiakan kesempatan emas tersebut. Medio April 2016, Ia segera mengemas barangnya dan berangkat ke Bandung menjemput karier impiannya. 

Memang, Beni sejak kecil menggemari Persib Bandung. Tawaran untuk bergabung dengan klub sepak bola kesayangannya telah melecut semangat Beni untuk berkontribusi lebih pada timnya. “Fanatik banget, sih, enggak. Tapi karena ditawari kerja di Persib, saya ada excitement tersendiri,” ujar dia. 


Beni (kedua dari kiri) tengah menangani pemain yang cedera dalam salah satu pertandingan Persib Bandung. dok.Persib Bandung

Pemuda kelahiran Bandung itu mengemban tugas sebagai fisioterapis olahraga. Tugasnya menangani cedera yang dialami para pemain dan membantu proses pemulihan pemain. Beni juga aktif mengedukasi para pemain mengenai pola istirahat dan pola nutrisi para pemain. 

Sejumlah kasus pernah ia tangani, mulai dari cedera ACL (anterior cruciate ligament), hingga fraktur tulang atau patah tulang. Masing-masing mempunyai masa pemulihan yang berbeda. Misalnya patah tulang yang pemulihannya bisa memakan waktu 12 bulan atau lebih tergantung keparahannya. Adapun cedera ACL membutuhkan waktu pemulihan sekitar enam sampai sembilan bulan. 

Kasus-kasus tersebut sangat membutuhkan konsistensi dalam penanganan, baik dari fisioterapis, maupun dari para pemain. Tuntutan untuk konsisten menjadi tantangan bagi pria 30 tahun itu. “Kadang kami konsisten tapi para pemain tidak konsisten, begitu pula sebaliknya, sehingga penyembuhan jadi lebih lama,” lanjutnya. 

Selain dituntut konsisten, bekerja di Persib menuntut Beni untuk cepat beradaptasi. Sebab, menurut Bola.net, klub yang didirikan pada 5 Januari 1919 itu memiliki cukup banyak pemain asing dan juga pelatih asing yang berasal dari Filipina, Brazil, Kroasia, Belanda, hingga Spanyol.  

Ada satu kejadian yang sangat berkesan bagi Beni. Kala itu, Persib tengah berlaga di Stadion Maguwoharjo, Yogyakarta pada 2021. Salah satu pemain lawan kehilangan kesadaran saat pertandingan memasuki menit ke-85. Beni dan tim medis Persib yang mendengar hal tersebut langsung berinisiatif menolong. “Kita harus bantu juga, nih,” kata Beni saat itu. 

Setelah delapan tahun berkarier, Beni akhirnya mencicipi manisnya juara. Klub tempatnya bernaung berhasil keluar sebagai kampiun dalam Championship Series Liga 1 musim 2023/2024. Persib sukses melibas Madura United FC 3-1 pada leg kedua Championship Series Liga 1 di Stadion Gelora Bangkalan, Madura, Jawa Timur, Minggu (31/5/2024). “Kalau menang, semua happy. Bau pun terasa wangi,” seloroh Beni.



KIRI: Beni tengah memegang trofi Championship Series Liga 1 musim 2023/2024. KANAN: Selebrasi kemenangan Persib Bandung dalam Championship Series Liga 1 musim 2023/2024, Jumat (31/5/2024). dok.Persib Bandung

Perbedaan Bukan Halangan

Lahir di Bandung, Jawa Barat, 16 April 1994, sejak kecil Benidektus Adi Prianto sudah menggemari olahraga lari dan sepak bola. Saat menginjak usia enam tahun, Beni hijrah ke Ogan Komering Ulu, Sumatera Selatan, mengikuti kedua orang tuanya. 

Selama tinggal di Pulau Sumatera, kecintaan Beni terhadap dunia sepak bola terus berkembang. Ia mulai menggemari klub berjuluk Laskar Wong Kito, Sriwijaya Football Club. Anak pertama dari tiga bersaudara itu juga menggemari Persib Bandung sebab ikatan Beni dengan tanah kelahirannya. “Sejak dulu memang mengikuti kedua klub itu,” tuturnya. 

Usai lulus dari Sekolah Menengah Atas Negeri 1 Ogan Komering Ulu, pria yang juga menggemari Juventus FC itu memutuskan pindah ke Pulau Jawa, melanjutkan studi fisioterapinya. 

Awalnya, Beni ingin mendaftar kuliah Fisioterapi di Politeknik Kesehatan Kemenkes Surakarta. “Dulu saya itu nyasar mas di UMS. Saudara saya ngomong Prodi Fisioterapi yang bagus itu yang di dekat Rumah Sakit Dokter Soeharso. Tapi setelah saya cari, yang di dekat rumah sakit ya Fisioterapi UMS,” kenangnya. Bermodal nilai rapor, Beni akhirnya melanjutkan studi di Diploma III Fisioterapi UMS pada 2012. 

Sebagai seorang Katolik, Beni mengaku sempat kepikiran dengan identitas religiusnya saat mendaftar di UMS. Kekhawatiran seperti penerimaan sivitas akademika terhadap kehadirannya sempat menghantui. Namun, Beni ogah terjebak dalam pikiran negatifnya. “Perasaan seperti itu pasti ada. Saya rasa hal tersebut hanya labelling semata. Puji Tuhan saya bisa menuntaskan studi saya di UMS dengan baik,” sambung Beni.

Kuliah di UMS justru menjadi titik balik hidupnya. Kemelut pikirannya saat awal mendaftar segera sirna saat para dosen dan kawannya menerima kehadiran Beni. Boleh dibilang, Beni aktif bergaul selama kuliah. Ia bahkan aktif menjadi pengurus Himpunan Mahasiswa Prodi Fisioterapi UMS. 

Salah satu karibnya selama di UMS adalah Agus yang menjabat sebagai Wakil Presiden Mahasiswa UMS tahun 2014. Beni membeberkan dirinya sangat senang berdiskusi dengan para aktivis kampus, termasuk dengan kawan-kawannya yang tergabung dalam Badan Eksekutif Mahasiswa atau BEM. “Agus kalau ngenalin saya ke teman-temannya itu manggilnya ‘IMM Korkom Vatikan’ begitu katanya,” kelakar Beni.

Kuliah di Fisioterapi UMS membuat Beni jatuh hati pada mata kuliah Biomekanika dan Kinesiologi. Mata kuliah ini memberikan pemahaman tentang berbagai macam gerakan manusia berdasar mekanika dan menganalisis gerak manusia. Tidak heran bila Beni mendapat nilai A pada mata kuliah tersebut. 

Beni juga tertarik pada topik seputar sistem muskuloskeletal, yaitu sistem kerangka tubuh yang terdiri atas tulang, sendi, otot, saraf, dan jaringan ikat. Perpaduan antara minat keilmuan dengan kecintaannya pada olahraga telah membentuk jalan karier Beni di dunia fisioterapi olahraga. “Model mata kuliah seputar muskuloskeletal dan biomekanik itu interesting buat saya dan malah terpakai saat saya bekerja,” kata dia. 

Rasa haus akan ilmu pengetahuan membuat Beni, yang lulus dari Diploma III Fisioterapi UMS, melanjutkan studi sarjananya melalui program transfer ke Prodi Sarjana Fisioterapi UMS pada 2015 dan berhasil lulus pada September 2016. Beni kemudian mengejar gelar Magister Ilmu Keolahragaan Institut Teknologi Bandung pada 2021 dan tuntas pada 2023.

Beni mengaku belajar banyak dari pendidikannya di UMS, menjadi pribadi yang lebih adaptif di lingkungan yang berbeda. Kemampuan beradaptasi Beni pada lingkungan yang berbeda terbawa hingga dunia kerja. Terlebih saat dia harus berkolaborasi dengan pelatih, staf, dan para pemain baik lokal maupun mancanegara. “Secara model kerja, kami bisa berkolaborasi dengan mereka. Apalagi setelah proses kolaborasi, ada sesuatu yang bisa diraih seperti juara,” imbuh dia. 


Beni tengah menangani pasien di klinik Bintang Physio yang ia bangun. dok.Istimewa

Menjadi Insan Bermanfaat

Selain menjalani karier sebagai fisioterapis di klub andalan para Bobotoh (suporter Persib Bandung), Beni juga mendirikan klinik sport physiotherapy di Bandung pada 2017 bernama Bintang Physio. “Tujuannya agar dapat menangani kasus yang lebih kompleks lagi di masyarakat, sekaligus memacu kami untuk terus meng-upgrade kemampuan kami,” ucap Beni.

Mengusung tagline “Your Moving Mates” dan didukung peralatan penunjang modern serta terapis profesional, fokus penanganan Bintang Physio diarahkan pada fisioterapi olahraga dengan mengatasi sejumlah gangguan, seperti cedera olahraga, terapi anak dan dewasa, pemulihan pascaoperasi, sakit pinggang, sport massage, hingga sakit bahu. 

November mendatang, Bintang Physio genap berusia delapan tahun. Klinik fisioterapi olahraga itu telah teregistrasi sebagai anggota Ikatan Fisioterapi Indonesia dan anggota Persatuan Fisioterapi Olahraga Indonesia. Dia ingin menjaring masyarakat lebih luas lagi dengan usaha yang ia geluti.

Beni melihat dunia fisioterapi di Indonesia dihadapkan pada sejumlah tantangan. Pertama, fasilitas penunjang fisioterapi yang terbilang mahal. Misalnya shockwave therapy dan laser therapy untuk membantu penyembuhan jaringan tubuh. Bagi Beni, ketiadaan alat bukan halangan. Justru tantangan tersebut memacu para fisioterapis untuk kreatif dalam menangani pasien.

Tantangan kedua datang dari masyarakat Indonesia. Dirinya melihat pemahaman masyarakat Indonesia mengenai fisioterapi masih kurang, sehingga membuat profesi fisioterapis mengemban tugas edukasi kepada masyarakat. “Justru itu tugas kami untuk memberi edukasi,” jelasnya.

Misi untuk membawa manfaat bagi sesama sejalan dengan motto hidup yang ia pegang teguh, ora et labora atau berdoa dan bekerjalah. Bagi dia, bekerja dan berdoa harus seimbang karena saling berkesinambungan. Dia juga terinspirasi salah satu Hadis Riwayat Ahmad yang kerap jadi bahan diskusinya selama kuliah. “Kalau kata dosen dan kawan saya di UMS dulu, khairunnas anfa'uhum linnas. Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia,” tutup dia.


Penulis: Gede Arga Adrian

Editor: Al Habiib Josy Asheva

Desainer: Salsabila Kamila Wardah

Ingin membangun jejaring profesional dengan Beni?

Karya Mahasiswa

image-featured
26 Mei 2026

DentAware karya mahasiswa FKG UMS diperkaya lima fitur skrining berbasis AI. Mendeteksi masalah gigi dan mulut secara cepat dan praktis.

sdgs-label
sdgs-badge
sdgs-badge
image-featured
17 April 2026

Tanaman belukar yang tumbuh liar rupanya dapat digunakan sebagai bahan pewarna alami pada wastra. Idenya lahir dari keprihatinan akan cemaran pewarna tekstil pada lingkungan.

sdgs-label
sdgs-badge
sdgs-badge
sdgs-badge
sdgs-badge
sdgs-badge
image-featured
12 Desember 2025

Degsalture menjadi detergen ramah lingkungan yang ditawarkan mahasiswa UMS. Menggabungkan bahan alami dengan formulasi pembersih yang aman bagi air dan kulit.

sdgs-label
sdgs-badge
sdgs-badge

UMS Newsletter

Tak ada yang lebih spesial dari membaca berita pilihan redaksi hanya untukmu.
Langganan gratis UMS Newsletter sekarang.

Baca sajian tulisan berkualitas dalam rubrik unggulan ums.ac.id

icon

Penelitian

Artikel ilmiah populer dari penelitian dosen UMS.

icon

Teropong Jagat

Artikel mendalam dilengkapi infografik.

icon

Kiprah

Biografi dosen dan mahasiswa berprestasi di UMS.

icon

Cerita Alumni

Cerita alumni UMS dalam meniti kariernya.