Diskusi terus dikerahkan tim selama lima bulan terakhir. Di sela jadwal kuliah, praktikum, dan tugas akademik, enam mahasiswa Fakultas Kedokteran Gigi (FKG) Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) menggagas satu ide yang sama, yakni menghadirkan pemeriksaan kesehatan gigi dan mulut yang lebih terjangkau semua kalangan, terutama orang-orang desa yang jauh dari akses klinik gigi.
Kegelisahan itu akhirnya membuat tim mendapuk DentAware. Prototipe berbasis akal imitasi (AI) yang mampu melakukan skrining kesehatan gigi dan mulut melalui foto intraoral.
DentAware membawa Aryabima Aulia Nuswantoro, Hasna Faiha Tazkiya, Octavia Ferdina Faradilla Ramadhani, Raihan Priyanto, Ridha Naura Triviana, dan Taqifah Rusydiah Rauhah meraih medali perak kategori Innovation Science pada ajang Youth International Science Fair (YISF) 2026. Kompetisi yang diikuti oleh 16 negara ini diprakarsai The Indonesian Young Scientist Association (IYSA), yang berkolaborasi dengan Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta pada 6-9 April 2026.

Ketua tim, Aryabima menjelaskan, meski perlombaan dilaksanakan secara daring, atmosfer persaingan tetap terasa ketat. “Inovasi kami ini masuknya kategori Innovation Science. Karena lombanya internasional, pesertanya pun dari berbagai universitas dan negara,” ujar dia saat menceritakan pengalaman timnya, Selasa (26/5/2026).
Akses Kesehatan dan Kesadaran Masyarakat Minim
Inovasi DentAware lahir dari persoalan yang selama ini tim lihat sendiri. Soal masih rendahnya kesadaran masyarakat terhadap kesehatan gigi dan mulut, terutama di desa yang fasilitas kesehatannya masih terbatas.
Aryabima memaparkan secara gamblang, ide pengembangan aplikasi tersebut muncul ketika tim berdiskusi mengenai ketimpangan akses layanan kesehatan gigi di Indonesia. Banyak masyarakat di daerah terpencil kesulitan menjangkau dokter gigi ataupun klinik kesehatan mulut.
“Kami ingin membantu orang-orang di pedesaan yang fasilitas kesehatannya masih kurang. Mereka sebenarnya ingin menjaga kesehatan gigi, tapi akses dan kesadarannya kadang kala masih minim,” kata Aryabima.
Tim kemudian menemukan fakta yang menguatkan keresahan tersebut. Berdasarkan data yang tim temukan, sekitar 57 persen masyarakat Indonesia mengalami masalah kesehatan gigi dan mulut, tetapi hanya sekitar 11,2 persen yang mencari pengobatan atau menyadari bahwa kondisi gigi mereka perlu penanganan lebih lanjut.
Fitur Utama DentAware
Data lapangan itulah yang coba dijawab tim. Dengan DentAware, pengguna cukup memotret gigi menggunakan kamera ponsel atau mengunggah gambar dari galeri.
Anggota tim bagian produksi prototipe, Octavia menjelaskan, setelah gigi terpindai kamera, sistem AI akan menganalisis kondisi gigi untuk mendeteksi plak dan tanda awal karies. Teknologi yang digunakan tim ialah Convolutional Neural Network (CNN), yang mampu membaca pola visual, termasuk warna dan tekstur permukaan gigi.
“Jadi nanti pengguna tinggal scan gigi. Sistem akan mendeteksi apakah ada plak, karies, atau masalah lainnya,” tutur Octavia.
DentAware tidak hanya berhenti pada proses deteksi awal. Terdapat lima fitur utama yang saling terintegrasi.
Fitur pertama adalah Dental Scan seperti yang dijelaskan di awal, yakni untuk memindai kondisi gigi. Kedua, Plaque Detection yang mampu menandai area plak secara visual sekaligus mengklasifikasikan tingkat risikonya menjadi rendah, sedang, atau tinggi.

Ketiga, Caries Detection yang mendeteksi tanda awal gigi berlubang berdasarkan perubahan warna maupun munculnya kavitas. Setelah proses skrining selesai, aplikasi akan memberikan rekomendasi tindak lanjut.
Di sinilah tim merasa inovasinya berbeda dibanding sistem deteksi lain yang sudah ada. “Kami menangkap gap bahwa kebanyakan sistem hanya mendeteksi. Sementara DentAware juga memberikan arahan apa yang harus dilakukan pengguna setelah hasil deteksi keluar,” jelasnya.
Fitur keempat mereka beri nama Nearest Clinic. Sistem akan merekomendasikan klinik atau dokter gigi terdekat berdasarkan lokasi pengguna, lengkap dengan informasi jarak dan navigasi.
Adapun fitur kelima ialah Oral Care Reminder. Pengingat berkala agar pengguna tetap menjaga rutinitas perawatan gigi dan mulut.
Octavia menjelaskan, proses pengembangan DentAware tak berlangsung singkat. Tim mulai terbentuk awal November 2025. Mereka memanfaatkan masa libur semester untuk menyusun konsep dan membagi peran masing-masing anggota.
Aryabima, Raihan, dan Octavia fokus mengembangkan prototipe aplikasi. Sementara Hasna dan Ridha bertanggung jawab menyusun paper ilmiah dan memperkuat landasan riset melalui berbagai jurnal penelitian.
“Kami membagi job karena waktunya mepet dan tetap harus kuliah. Jadi tim prototipe fokus mengembangkan fitur, sedangkan tim paper mencari penguatan teori dan research gap,” imbuhnya.
Di balik proses itu, mereka juga mendapat pendampingan intensif dari drg. Morita Sari, M.P.H., Ph.D. selaku dosen pembimbing. Setiap perkembangan prototipe selalu dievaluasi sebelum dipresentasikan dalam kompetisi.
“Beliau selalu memberi masukan dan arahan. Jadi setiap progres pasti kami konsultasikan dulu ke drg. Morita,” ujar Octavia.
DentAware Masih Perlu Penyempurnaan
Meski telah meraih penghargaan internasional, tim paper, Ridha mengakui DentAware masih memiliki sejumlah keterbatasan. Salah satu tantangan terbesar adalah kualitas foto pengguna yang berbeda-beda, tergantung kamera ponsel yang digunakan.
“Ada HP yang hasilnya sangat jelas, ada juga yang kurang bagus. Itu memengaruhi pembacaan AI,” kata Ridha.
Selain itu, kondisi gigi pasien yang beragam juga menjadi tantangan tersendiri. Pada anak-anak dengan fase gigi campuran, misalnya, sistem AI terkadang masih kesulitan membedakan struktur gigi normal dan abnormal.
Aryabima dan tim memang berencana melanjutkan pengembangan inovasi DentAware. Prototipe akan diwujudkan menjadi aplikasi yang lebih matang dan siap digunakan masyarakat luas.
“Kami ingin menyempurnakan sistem AI dan pengolahan data visualnya. AI juga perlu dilatih agar lebih maksimal memberikan deteksi dan minim eror,” ungkap Aryabima.
Kelak jika DentAware telah sempurna menjadi aplikasi, langkah berikutnya ialah menerapkan penggunaan aplikasi langsung ke masyarakat. Salah satu rencana yang dipertimbangkan berupa sosialisasi ke desa-desa terpencil melalui kerja sama dengan perangkat desa dan komunitas relawan kesehatan.
“Kami ingin masyarakat lebih aware dulu terhadap kesehatan gigi dan mulut. Karena banyak yang sebenarnya bukan tidak peduli, tapi belum tahu pentingnya menjaga gigi,” tutup Aryabima melengkapi.
Bagi tim, DentAware bukan sekadar proyek lomba ataupun prototipe akademik. Inovasi ini adalah upaya kecil dari mereka untuk menjembatani kesenjangan layanan kesehatan gigi di Indonesia.
Penulis: Genis Dwi Gustati
Editor: Al Habiib Josy Asheva
Desainer: Muhammad Nur Haqqi
Penelitian
UMS Newsletter
Tak ada yang lebih spesial dari membaca berita pilihan redaksi hanya untukmu.
Langganan gratis UMS Newsletter sekarang.







