Bekerja sama dengan Palestine Peacebuilding Lab, Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) menghadirkan sejumlah delegasi asal Palestina untuk mengikuti beberapa agenda di Kota Surakarta. Tujuannya, memperkuat solidaritas global untuk kemerdekaan Palestina, khususnya dari kalangan anak muda.
Agenda yang berlangsung pada Sabtu dan Minggu (14-15/12/2024) itu merupakan rangkaian kampanye perdamaian untuk Palestina, yang diinisiasi oleh Lembaga Hubungan dan Kerja Sama Internasional (LHKI) Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, bekerja sama dengan Lembaga Amil, Zakat, Infaq, dan Shadaqah Muhammadiyah (LazisMu), organisasi nirlaba Witness-Shahid Center, Organisasi Organisasi Kerja Sama Islam (Organisation of Islamic Cooperation/OIC), dan Al-Quds University.
Mengusung tajuk “Multicultural Dialogue between Palestine and The Islamic World”, acara tersebut menghadirkan tiga pembicara dari Palestina, meliputi Direktur Departemen Urusan Budaya OIC, Lhoucine Rhazoui; Ketua Dewan Direksi Institut Yerusalem dari Al-Quds University, Mutasem Taem; Co-founder Witness-Shahid Center, Kayed al-Meary. Hadir pula warga Gaza, Palestina, yang mengungsi di Kairo, Mesir, Tasnim M. S. Zourob.

Wakil Rektor V UMS, Prof. Supriyono, S.T., M.T., Ph.D. dalam kolokium internasional di Ruang Sidang BPH Gedung Induk Siti Walidah UMS, Sabtu (14/12/2024). Humas UMS/Yusuf Ismail
Wakil Rektor V UMS, Prof. Supriyono, S.T., M.T., Ph.D., menjelaskan kampanye tersebut membawa misi untuk membangun kesadaran pentingnya perdamaian di Palestina yang saat ini menghadapi tantangan besar akibat konflik berkepanjangan.
“Kegiatan ini bertujuan untuk memberikan pemahaman bagaimana membangun perdamaian di Palestina, khususnya kepada anak-anak muda di sana,” ungkapnya, Sabtu (14/12/2024), di Ruang Sidang BPH Gedung Induk Siti Walidah UMS.
Baca Juga: Rektor UMS Serukan 8 Tuntutan Bela Palestina
Masyarakat Palestina, kata dia, menaruh harapan besar untuk tetap mempertahankan tanah milik mereka meski menghadapi tekanan besar dari tentara Israel. Asa untuk memperkuat pendidikan dan kesehatan di tanah Palestina perlu didorong. Hal tersebut selaras dengan fokus dan program-program yang terus dijalankan Muhammadiyah.
Supriyono berujar, Muhammadiyah melalui LazisMu telah memberikan beasiswa kepada anak-anak Palestina, terutama dari Gaza. Namun, proses ini tidak mudah karena ketatnya aturan keluar-masuk Gaza.
“Kami terbuka untuk memberikan beasiswa, tetapi tantangan keluar dari Gaza sangat besar. Banyak dari mereka yang ingin belajar di bidang kesehatan, seperti kedokteran, tetapi terkendala oleh bahasa,” paparnya.
UMS, sebagai salah satu perguruan tinggi Muhammadiyah terbesar, merasa bangga dapat menjadi bagian dari kampanye ini. Supriyono mengatakan peran UMS sebagai penyelenggara seminar internasional yang bekerja sama dengan Palestine Peacebuilding Lab menjadi bentuk dukungan untuk perdamaian Palestina.
Ke depan, Supriyono berharap, UMS dapat terus berkontribusi dalam upaya global untuk mendukung masyarakat Palestina, khususnya melalui jalur pendidikan. “Kami ingin membuka peluang lebih besar bagi mahasiswa asli Gaza untuk dapat belajar di Indonesia. Namun, kendala administratif dan bahasa menjadi tantangan utama yang harus kita atasi bersama,” tegasnya.
Baca Juga: Israel Bombardir Rafah Usai Putusan Mahkamah

Sekretaris LHKI PP Muhammadiyah sekaligus Direktur Pusat Studi Budaya dan Perubahan Sosial UMS, Dra. Yayah Khisbiyah, M.A. selaku moderator dalam kolokium internasional bertajuk “Multicultural Dialogue between Palestine and The Islamic World”. Humas UMS/Yusuf Ismail
Dalam kesempatan yang sama, Sekretaris LHKI PP Muhammadiyah sekaligus Direktur Pusat Studi Budaya dan Perubahan Sosial UMS, Dra. Yayah Khisbiyah, M.A., mengungkapkan rangkaian kegiatan ini mencakup kunjungan delegasi Palestina ke berbagai institusi di Indonesia, termasuk kampus Muhammadiyah seperti Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Universitas Ahmad Dahlan (UAD), dan Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS). Selain itu, delegasi juga dijadwalkan berkunjung ke Kementerian Luar Negeri, Universitas Indonesia, dan Universitas Muhammadiyah Jakarta.
“Di Solo, kami menjadi tuan rumah untuk diskusi dan dialog. Kami juga mengajak para delegasi untuk mengenal budaya lokal, seperti kunjungan ke Mahkota Batik dan kegiatan tarawihan. Selanjutnya, kami akan ke Kementerian Luar Negeri dan mengadakan seminar dengan LazisMu serta beberapa lembaga donor besar,” kata Yayah.
Penulis: Fika Annisa Sholihah
Editor: Gede Arga Adrian
Mahasiswa Internasional
UMS Newsletter
Tak ada yang lebih spesial dari membaca berita pilihan redaksi hanya untukmu.
Langganan gratis UMS Newsletter sekarang.







