Penyedap Alami Kaya Manfaat
Capaian Prestasi Gemilang
Menuju Produksi

Bukan orang Indonesia namanya jika tidak mengkreasikan aneka bahan pangan menjadi olahan yang unik salah satunya bumbu penyedap rasa. Di tangan mahasiswa Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS), buah nanas yang manis segar berpadu dengan tempe yang tinggi serat disulap menjadi alternatif penyedap masakan yang menyehatkan.

Itulah yang dilakukan Galih Wicaksono, mahasiswa Pendidikan Biologi UMS. Galih dan timnya mempelajari betul kandungan dalam nanas dan tempe yang ternyata mempunyai potensi untuk diolah menjadi penyedap rasa.

Berawal dari Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) tahun 2022, Galih melihat penggunaan MSG (monosodium glutamat) oleh para pedagang atau di dalam rumah tangga cenderung melebihi aturan. Ia tergugah untuk menyelisik lebih dalam melalui jurnal penelitian yang menjadi bacaannya. Galih menemukan fakta MSG dapat mengganggu kesehatan mulai dari obesitas hingga tekanan darah tinggi.

“Kalau saya amati di sekitar kita, mulai dari pedagang sampai rumah tangga, semua menggunakan MSG. Setelah saya pelajari di jurnal ternyata ada kecenderungan pemakaian di luar batas wajar sehingga berpotensi menimbulkan masalah dalam tubuh salah satunya obesitas,” tutur Galih saat menceritakan pengalamannya kepada kami, Kamis (15/2/2024).


Fakta tersebut telah membuka cakrawala pemikiran Galih untuk membuat inovasi penyedap rasa alternatif dari bahan alami yang dapat menggantikan peran MSG. Segera saja ia membentuk tim yang beranggotakan Eriza Putri Ayu Ning Tias, Muhammad Arkan Muhadzib, dan Rahmadani Witi Amalia, untuk meneliti lebih jauh alternatif penyedap rasa yang alami.

Riset yang memakan waktu selama dua sampai tiga bulan itu membuahkan hasil yang memuaskan. Baharat, begitulah nama produk yang dibuat Galih dan tim. Sebuah penyedap rasa yang menyehatkan dengan menggunakan bahan alami.

Penyedap Alami Kaya Manfaat


Lazimnya penyedap rasa makanan di Indonesia dibuat dengan menggunakan fermentasi tetes tebu atau molase sebagai bahan utamanya. Di tangan Galih, bahan tersebut diganti dengan memanfaatkan buah nanas dan tempe yang jauh lebih sehat. Nanas merupakan buah yang mudah ditemukan di pasaran karena tidak bergantung pada musim. Sedangkan tempe merupakan bahan pangan yang kaya protein dan mudah ditemukan di pasaran dengan harga yang terjangkau. 

Galih menjelaskan, kandungan senyawa bromelain di dalam nanas mempunyai fungsi untuk menghidrolisis protein dari tempe. Hasil hidrolisis protein inilah yang nantinya akan membentuk asam glutamat. Mereka kemudian menambahkan garam atau natrium untuk mengubah asam glutamat menjadi monosodium glutamat. 

“Bromelain di dalam nanas bisa memecah protein di dalam tempe menjadi asam glutamat. Ketika nanti dicampur dengan natrium, maka akan membentuk monosodium glutamat,” terang Galih. 

Meskipun menggunakan garam sebagai bahan tambahan membentuk monosodium glutamat, Galih menjamin kandungan natrium di dalam produk Baharat mempunyai kadar yang lebih rendah dibanding kandungan natrium pada produk MSG di pasaran. “Kami pure menggunakan garam hanya untuk mengawetkan dan juga membantu proses pembentukan monosodium glutamat saja,” kata dia.

Produk Baharat ini terbilang sehat karena tidak menggunakan bahan kimia sintetis tambahan. Bahkan, pengawet yang digunakan pun berasal dari kunyit yang dikenal sebagai salah satu pengawet alami makanan. Hasilnya Baharat mampu bertahan hingga satu bulan untuk kemasan cair dan enam bulan untuk kemasan serbuk.

Selain itu, Baharat juga mempunyai kandungan protein yang cukup tinggi yakni sebesar 3,83gr per 40ml MSG Baharat. Baharat juga mempunyai kandungan kalori sebesar 43,90 kkal, karbohidrat sebesar 0,40gr, serta sodium (Na) sebesar 15,45mg.

“Baharat ini tinggi kandungan protein karena menggunakan bahan tempe. Kalau kita lihat di produk MSG lain kandungan proteinnya belum setinggi tempe. Baharat juga merupakan bahan non-GMO (Genetically Modified Organism - produk rekayasa genetika) sehingga makin menjamin kualitas MSG Baharat,” lanjut Galih.

Baharat tersedia dalam kemasan saset berukuran 40gr dan kemasan botol berukuran 100gr. Produk ini tersedia dalam bentuk cair dan bubuk. Kemasan ukuran 40 gram dibanderol seharga Rp8 ribu, sedangkan kemasan 100 gram/100ml dibanderol seharga Rp25 ribu.

“Karena masih industri rumahan jadi memang harganya masih sedikit lebih mahal. Tetapi jika sudah masuk dalam industri yang lebih besar, kami yakin harganya bisa dipangkas sehingga lebih terjangkau,” kata Galih optimis.

Capaian Prestasi Gemilang



Baharat yang dibuat oleh Galih dan tim telah melenggang ke panggung kompetisi bergengsi mulai dari kompetisi lokal, nasional, hingga mancanegara. Dari setiap perlombaan mereka terus melakukan evaluasi dan pembaruan produk penyedap rasa alternatif. Tantangan terbesar bagi Galih adalah memastikan produknya awet dalam waktu yang lebih lama, sehingga ia mengevaluasi dengan menambahkan sari kunyit pada produknya. Tak hanya itu, dirinya juga mengembangkan jenis produk dari yang awalnya berbentuk cair, kemudian dikembangkan menjadi sediaan bubuk.

“Kemarin setelah Pimnas kami mencoba evaluasi dan membuat produk baru berupa MSG dalam bentuk bubuk. Kalau di awal kan kami menghasilkan produk dalam bentuk cair,” tutur dia.

Segudang prestasi yang telah diraih Galih dan tim antara lain:

  • Pendanaan PKM hingga nominasi pimnas 2022
  • Mendapatkan silver medal ISIF Bali 2022
  • Pendanaan P2MW 2023
  • Juara 3 Krenova Sukoharjo 2023
  • Nominasi lomba pendukung SM2C KMI EXPO 2023
  • Gold medal IPITEX 2024

Puncaknya, Galih dan tim maju di pentas internasional, Bangkok International Intellectual Property, Invention, Innovation, and Technology Exposition (IPITEX) Thailand Inventors Day, awal Februari lalu. Gelaran Thailand Inventors Day 2024 yang digelar 2 - 6 Februari itu menjadi puncak perjuangan yang telah dilakukan sejak tahun 2021. Dalam gelaran itu, mereka berhasil meraih medali emas. Sudah tentu Galih dan timnya berbangga hati atas prestasi gemilangnya ini. Mereka telah mengharumkan nama UMS dan Indonesia di kancah global.

“Alhamdulillah, kami sangat senang sekali berhasil meraih medali emas dalam Thailand Inventors Day 2024. Rasanya perjuangan kami selama ini terbayarkan dengan adanya prestasi ini. Apalagi buat saya pribadi ini menjadi penutup yang manis di penghujung masa kuliah saya sebelum lulus nantinya,” ungkap mahasiswa semester delapan itu. 


Thailand Inventors Day 2024 adalah ajang kompetisi bergengsi yang mempertemukan seluruh inovator dari berbagai belahan dunia untuk memamerkan hasil karya mereka. Terdapat delapan kategori yang dilombakan, mulai dari kategori kesehatan, kategori kedokteran, kategori pertanian, hingga kategori manufaktur produksi.

IPITEX selaku penyelenggara Thailand Inventors Day 2024 telah memiliki jaringan di berbagai belahan dunia. Mulai dari Kroasia, India, Qatar, Jepang, Amerika Serikat, hingga Indonesia. Jaringan IPITEX menjalin kerja sama dengan Indonesian Invention and Innovation Association (INNOPA).

Menuju Produksi

Disinggung mengenai rencana ke depan, Galih mengaku ingin mengembangkan Baharat supaya dapat menggaet minat pasar. Menurutnya, MSG yang ada dipasaran mempunyai rasa-rasa yang beragam seperti rasa ayam hingga sapi. Ia berencana untuk melakukan riset kembali untuk mengembangkan Baharat dengan berbagai varian rasa.

“Ingin mencoba riset kembali ke depannya dengan menambahkan rasa-rasa seperti produk MSG di pasaran yang ada rasa sapi maupun ayam,” harap Galih.

Selain pengembangan rasa, ia juga ingin mencari pendanaan lebih agar Baharat dapat diproduksi di skala industri. Ia mendambakan Baharat dapat menjadi perusahaan besar yang dapat memproduksi penyedap rasa alternatif yang menyehatkan. 

“Kami juga ingin menggandeng industri agar jumlah produksinya bisa ditingkatkan. Kami ingin menjadikan Baharat sebagai perusahaan,” pungkasnya.


Penulis: Gede Arga Adrian
Editor: Al Habiib Josy Asheva

Ingin menciptakan inovasi seperti Galih?

Berita Unggulan

image-featured
10 Juni 2026

Tim FEB UMS berdiskusi dengan perwakilan PPI Jepang. Bahas strategi branding destinasi wisata Indonesia agar semakin dikenal oleh masyarakat internasional, khususnya di Jepang.

sdgs-label
sdgs-badge
image-featured
9 Juni 2026

Menyambut World No Tobacco Day 2026, BEM FKG UMS mengampanyekan pentingnya menjaga kesehatan gigi dan mulut di car free day Slamet Riyadi, Solo.

sdgs-label
sdgs-badge
image-featured
8 Juni 2026

Keberadaan kaum homoseksual di ruang publik menimbulkan keresahan masyarakat. Menambah risiko penyakit menular, termasuk HIV dan berbagai infeksi menular seksual lainnya.

sdgs-label
sdgs-badge

UMS Newsletter

Tak ada yang lebih spesial dari membaca berita pilihan redaksi hanya untukmu.
Langganan gratis UMS Newsletter sekarang.

Baca sajian tulisan berkualitas dalam rubrik unggulan ums.ac.id

icon

Penelitian

Artikel ilmiah populer dari penelitian dosen UMS.

icon

Teropong Jagat

Artikel mendalam dilengkapi infografik.

icon

Kiprah

Biografi dosen dan mahasiswa berprestasi di UMS.

icon

Cerita Alumni

Cerita alumni UMS dalam meniti kariernya.