Teriknya matahari musim panas menyengat Rayhan saat menjejakkan kaki untuk pertama kalinya di Kaunas, Lithuania. Lawatannya ke salah satu negara Baltik itu tak lain untuk berkuliah selama satu semester di Vytautas Magnus University, sebuah kampus kenamaan di jantung Lithuania.
Rayhan merupakan Mahasiswa Akuntansi Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS). Dia berhasil menjadi penerima beasiswa Indonesian International Student Mobility Awards (IISMA) tahun 2023 dari Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek).
IISMA adalah program yang digagas Kemendikbudristek sejak 2021. Program IISMA memberi kesempatan mahasiswa seluruh Indonesia untuk mengambil studi selama satu semester di kampus unggulan dunia. Terdapat tiga jalur pendaftaran, yakni jalur reguler, jalur afirmasi, dan jalur co-funding.
Rayhan menjadi salah satu penerima IISMA jalur co-funding. Berbeda dengan jalur reguler dan afirmasi, jalur co-funding menerapkan skema pembiayaan parsial antara pemerintah dengan mahasiswa. Biaya yang ditanggung pemerintah mencakup biaya pendaftaran ke kampus tujuan, biaya pendidikan, biaya transportasi penerbangan, dan biaya darurat.
Awal April lalu, Rayhan membagikan kisahnya kepada kami selama mengikuti studi di kampus empat besar terbaik Lithuania. Rayhan remaja tumbuh dengan cita-cita besar melanjutkan pendidikan di luar negeri. Motivasinya terpatri sejak duduk di bangku SMA. “Memang pingin banget kuliah di luar negeri dan sebenarnya pingin langsung S1 di luar negeri,” kata Rayhan yang lulus SMA pada tahun 2020.

Badai Covid-19 yang menghantam pada 2020 lalu memupuskan niatnya untuk melanjutkan studi di luar negeri. Namun, ia tidak tinggal diam. Rayhan terus mengulik berbagai peluang hingga pada 2021, pemerintah meluncurkan program IISMA.
“Program IISMA ini merupakan kesempatan yang bagus,” ujar Rayhan. Karena itu, dia termotivasi untuk mengikuti seleksi IISMA. Ia lekas menyiapkan berbagai keperluan mulai dari SKCK, tes bahasa Inggris Duolingo English Test, hingga syarat kelengkapan administrasi lainnya.
Sempat Culture Shock
“Silakan duduk,” kata Rayhan kepada salah satu warga lokal Lithuania di dalam bus. Alih-alih menerima tawaran Rayhan, orang asing itu justru menolak tawarannya dan memilih berdiri. Rayhan tercekat dengan penolakan itu.
Culture shock pertamanya di Lithuania itu masih tergambar jelas dalam ingatan mahasiswa angkatan 2020 itu. Usut punya usut, orang Lithuania mempunyai kultur yang berbeda dari warga negara Eropa lainnya. Orang Lithuania cenderung menjaga jarak dengan orang asing. Rayhan membandingkan karakter teman sekelasnya dengan warga lokal Lithuania.
“Kami kan masuk di kelas internasional. Teman-teman kita itu banyak dari (negara) Eropa lainnya seperti Spanyol, Italia, Perancis, Ukraina. Kulturnya mereka masih terbuka lah. Tidak seperti orang Lithuania yang jaga jarak,” lanjut Rayhan.
Kali kedua Rayhan mengalami culture shock adalah saat melihat pakaian yang dikenakan mahasiswa dan dosen di sana. Berbeda dengan Indonesia yang lazim mengenakan pakaian rapi seperti kemeja atau baju berkerah lainnya, mahasiswa dan dosen di sana cenderung luwes dalam berpakaian.
“Bahkan profesor aku waktu itu, karena masih summer, dia itu cuma pakai kaos sama sandal jepit waktu masuk kelas,” imbuh dia. “Mereka prinsipnya be yourself.”
Culture shock ketiga adalah soal waktu. Rayhan mengisahkan selama kuliah di Lithuania, waktu adalah urusan yang tak bisa diganggu gugat. Warga Lithuania sangat disiplin dengan waktu. Sebagai contoh, jam kuliah mulai pukul 09.00, maka dosen akan memulai kelas tepat di waktu tersebut. Begitu pula jika kuliah selesai pukul 12.00, maka kelas selesai saat itu juga.
Meskipun sempat mengalami culture shock, proses adaptasi Rayhan dengan lingkungan sekitar berjalan mulus. Dukungan teman-teman IISMA asal Indonesia membuatnya menikmati lika-liku perkuliahan di Lithuania.
“IISMA awardee yang di Lithuania itu ada 49 orang. Jadi kalau kita awal-awal mau belanja ya bareng-bareng. Lebih enak. Orang-orang yang kerja di sana juga bisa bahasa Inggris. Komunikasinya jadi lebih mudah,” kenang Rayhan.

Ambil Sesuai Passion
Mahasiswa yang mengikuti IISMA diperbolehkan mengambil mata kuliah lintas jurusan. Kesempatan itu tidak disia-siakan Rayhan. Ia mengambil empat mata kuliah dari beberapa fakultas, antara lain: Managerial Decision Making dan Leadership di Faculty of Economics and Management; Social Change di Faculty of Social Sciences; dan Media and Popular Culture di Faculty of Arts.
Ihwal pemilihan mata kuliah tersebut bukan tanpa sebab. Rayhan mengaku mempunyai passion di bidang manajerial. Passion tersebut mengantarkannya memilih mata kuliah Managerial Decision Making dan Leadership.
“Kebetulan aku juga manajer di sebuah kafe ya, jadi learning ini sangat perlu buat aku,” terangnya. Memilih mata kuliah yang sesuai passion membuatnya menikmati proses pembelajaran. Ilmu yang dipilih pun dapat diaplikasikan dalam keseharian sang manajer.

Selain kecintaannya pada bidang manajerial, Rayhan juga menaruh minat pada bidang media. Hal ini membuat dia mengambil mata kuliah Media and Popular Culture karena ketertarikannya untuk mempelajari film, komik, dan seni populer lainnya. Mata kuliah ini juga mempelajari bagaimana seni menjadi media untuk menyalurkan keresahan, protes, dan aspirasi publik.
“Apalagi profesornya itu salah satu author komik Marvel,” tutur Rayhan kepada kami. Hal itu membuatnya semakin bersemangat mempelajari Media and Popular Culture. Rayhan adalah penggemar karya-karya Studio Marvel dan salah satu film favoritnya ialah The Avengers Endgame.
Dari semua mata kuliah yang dia ambil, mata kuliah Leadership menjadi mata kuliah favoritnya sebab metode belajarnya yang mengasyikkan. Metode pembelajaran yang digunakan dengan memainkan sebuah gim untuk melatih kemampuan memimpin, koordinasi, dan mengarahkan kelompok.
“Kami juga diajarkan contoh yang benar. Misal saat presentasi, seorang leader harus menjaga eye contact, tangannya tidak boleh dimasukkan ke saku, dan tidak boleh bermain ponsel,” jelas dia.
Pengalaman Berharga
Menjadi seorang IISMA awardee membuat mahasiswa mendapat beragam pengalaman berharga. Rayhan jadi lebih menghargai waktu sebab kultur di luar negeri yang selalu tepat waktu. Kemampuan beradaptasinya diuji manakala harus tinggal sendiri di negeri orang.
Pengalaman kuliah satu semester itu membuka alam pikirnya tentang kultur sosial di luar negeri. Salah satu kultur yang dia pelajari adalah saat datang ke restoran. “Kalau di Indonesia kan biasanya datang berlima terus ambil kursi meja sebelah begitu kan boleh. Kalau di sini ternyata tidak sopan mengambil kursi sembarangan,” kata Rayhan berbagi pengalamannya.
Ada beberapa hal yang bisa dipetik dari kegiatan belajar mengajar di luar negeri yang bisa diimplementasikan di Indonesia. Menurut Rayhan, metode pembelajaran di Lithuania lebih mengedepankan komunikasi dialog ketimbang komunikasi satu arah. Dosen juga aktif mengajak diskusi mahasiswa dan mendorong mahasiswa untuk memberikan pertanyaan. “Kalau tidak ada yang bertanya malah dosennya marah,” seloroh Rayhan.
Dia optimis dengan menerapkan pola komunikasi dialogis dan diskusi di dalam kelas, bukan tidak mungkin kegiatan belajar mengajar di Indonesia menjadi lebih asyik dan menyenangkan.
Tak lupa dirinya membagikan tips bagi mahasiswa yang ingin mengikuti IISMA untuk meningkatkan kemampuan berbahasa Inggris. Kemampuan ini sangat penting sebagai dasar berkomunikasi selama di luar negeri.
“Kalau bisa minimal IELTS punya skor tujuh. Kalau di atas itu pasti aman. Bahasa Inggris itu kalau bisa dipelajari sejak sekolah, karena nanti pasti lebih mudah. Bakal berguna banget mulai dari bikin esai sampai memahami pelajaran di sana,” ujar dia.
Penulis: Gede Arga Adrian
Editor: Al Habiib Josy Asheva
Berita Unggulan

FT UMS Gelar Summer Camp 2026, Hadirkan Pengalaman Lintas Budaya bagi Mahasiswa Internasional
Penyelenggaraan Summer Camp 2026 menjadi upaya Fakultas Teknik UMS menghadirkan pengalaman pembelajaran internasional yang mengintegrasikan inovasi, eksplorasi budaya, dan kolaborasi lintas negara.
UMS Newsletter
Tak ada yang lebih spesial dari membaca berita pilihan redaksi hanya untukmu.
Langganan gratis UMS Newsletter sekarang.






