Buku dan tulisan tidak bisa lepas dari sosok Muhammad Farhan alias Farhan Abadie. Sejumlah buku bergenre self-improvement atau pengembangan diri telah ia tamatkan selepas lulus SMA.
Buku bertajuk Grit karya penulis kenamaan Amerika Serikat, Angela Duckworth, menjadi buku pertama yang menggugahnya. Buku setebal 352 halaman itu mengemukakan gagasan bahwa usaha lebih berdampak dibandingkan bakat.
“Argumen Mbak Angela ini bilang kalau orang yang berbakat itu enggak sepiro (seberapa) dibandingkan orang yang terus berjuang dan berusaha,” ungkap mahasiswa Ilmu Komunikasi Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) itu. Dari buku itu, Farhan mulai mencoba mengembangkan kemampuan menulisnya.
Farhan menyadari tulisan pertamanya bukanlah tulisan paling baik yang pernah ia buat. Namun ia terus mencoba menuliskan setiap keresahannya dalam bentuk tulisan.
Platform Medium menjadi wadah Farhan untuk mengutarakan ide, gagasan, dan keresahannya dalam bentuk opini maupun esai. Tak jarang ia juga kerap menuliskan resensi film ke dalam blognya.
Pemuda asal Kulon Progo ini selalu membuat draf tulisan setiap kali ada keresahan yang terlintas di pikirannya. Terhitung puluhan draf tulisan mengendap di laptopnya.
Farhan mengaku dirinya membutuhkan waktu khusus untuk menyelesaikan draf tulisannya. Apalagi di tengah kesibukannya sebagai Pemimpin Umum Lembaga Pers Mahasiswa Pabelan (LPM) UMS. Praktis ia merampungkan tulisannya saat senggang. “Diselesaikannya bertahap,” selorohnya.

Hobinya menulis pun ia lakukan di mana saja. Misalnya saat menulis resensi film Ghost In The Cell karya Joko Anwar, Farhan mencatat beberapa poin penting dalam film itu sewaktu menonton di bioskop.
Ia juga mencari berbagai referensi tambahan untuk memperkaya tulisannya. Mulai dari scroll akun X Joko Anwar, hingga menonton siniar yang membahas film tersebut.
Selain mengunggah tulisan ke dalam blognya, Farhan juga menjajal mengirimkan tulisannya yang lain ke sejumlah media massa, seperti Mojok.co dan Tempo. Hasilnya, salah satu tulisannya yang berjudul “Populisme Semu Gibran Lewat Lapor Mas Wapres” terbit di Tempo pada November 2024 silam.
Pengalaman itu memberikan euforia tersendiri bagi Farhan. “Wih tenan opo ora iki (beneran apa enggak ini),” gumam Farhan saat menerima pesan dari tim redaksi Tempo ihwal penerbitan tulisannya.
Ia pun tak mau berpuas diri. Lagi-lagi ia menantang dirinya untuk meningkatkan kemampuan menulisnya dengan mengikuti sejumlah lomba menulis. Medio 2025 lalu, ia berhasil keluar sebagai jawara dalam lomba menulis opini tingkat nasional Vision yang digelar LPM Visi Universitas Sebelas Maret.
Teranyar, tulisan Farhan juga masuk ke dalam 15 besar tulisan terbaik dalam lomba menulis opini tingkat nasional yang digelar Arah Angin Institute. “15 tulisan terbaik ini nantinya akan dibukukan,” katanya.
Di Pucuk Pers Mahasiswa
Muhammad Farhan lahir di Kabupaten Kulon Progo, Yogyakarta, 2 Desember 2002. Ia memilih nama panggung Farhan Abadie sebagai bentuk penghormatan kepada mendiang ayahnya. “Nama bapak itu Abadie,” katanya.
Sebelum melanjutkan pendidikan ke universitas, Farhan sempat mengambil jeda selama dua tahun. Keputusan itu ia ambil lantaran sempat tidak ingin melanjutkan studi ke jenjang yang lebih tinggi.
Ia menghabiskan waktunya dengan bekerja di salah satu penerbitan majalah di Sukoharjo, Jawa Tengah. Pengalaman bekerja itu membuka pengetahuan Farhan mengenai strategi pemasaran, dasar-dasar copywriting, hingga desain grafis. Di sinilah Farhan mulai tergerak untuk melanjutkan kuliah.
Sebelum masuk ke Ilmu Komunikasi UMS pada 2023, ibunya sempat menyarankan untuk mendaftar di jurusan psikologi. Namun Farhan merasa kurang klop dengan rekomendasi itu. “Wah saya kok enggak terlalu suka mendengar curhat lalu memvalidasi gitu. Kayak agak berat,” kenangnya.

Begitu masuk kuliah, Farhan mencari cara untuk menyalurkan hobi menulisnya. Perhatiannya tertuju pada LPM Pabelan, yang saat itu mempromosikan diri sebagai wadah untuk menunjang bakat menulis. Walaupun pada akhirnya Farhan merasa kejeblos.
“Tak kira itu nulis apa, ternyata nulis berita. Saya enggak menyangka gitu. Wong saya saja membaca berita enggak pernah kok, lha sekarang malah jadi orang yang nulis berita,” canda Farhan.
Sejak itulah Farhan menghabiskan hari-harinya dengan aktif sebagai penulis maupun editor di LPM Pabelan. Jam terbang menulisnya pun bertambah. Farhan juga telah mencicipi setiap jenjang jabatan di organisasi pers mahasiswa itu. Mulai dari reporter, editor, redaktur, hingga redaktur pelaksana.
Awal 2026 lalu, Farhan dipercaya sebagai Pemimpin Umum LPM Pabelan. Posisi yang sebetulnya enggan ia lakukan. Di meja redaksi, Farhan bertanggung jawab pada sirkulasi berita dan penulisan. Di meja pemimpin umum, ia harus memegang kendali atas dua bilik LPM, yakni pemberitaan dan kesejahteraan organisasi.
Meski sama-sama “bernyawa”, Farhan mengaku lebih sulit mengendalikan orang ketimbang tulisan. “Cukup pontang-panting menyeimbangkan keduanya,” keluhnya.
Di sela-sela rutinitasnya kuliah dan berorganisasi, Farhan tetap meluangkan waktu untuk mencurahkan pikirannya lewat tulisan. Menuntaskan puluhan draf opini dan esai yang menumpuk di gawai miliknya.
Baginya, menulis adalah cara untuk menggugah kesadaran kolektif dan melegakan pikiran atas keresahan yang dialaminya. Soal pujian dari orang lain, itu bonus. “Ternyata tulisan itu bisa jadi terapi. Benar-benar bikin lega,” katanya mantap.
Penulis: Gede Arga Adrian
Editor: Al Habiib Josy Asheva
Karya Mahasiswa
UMS Newsletter
Tak ada yang lebih spesial dari membaca berita pilihan redaksi hanya untukmu.
Langganan gratis UMS Newsletter sekarang.








