Jalur Wanayasa-Banjarnegara merupakan akses utama yang menghubungkan kawasan dataran tinggi Karangkobar dengan pusat Kota Banjarnegara. Jalur ini pun dikenal rawan longsor. Setiap musim hujan, tanah di sepanjang lereng kerap mengalami pergerakan, menyebabkan longsor parah hingga terjadi kerusakan akses jalan.
Mojok.co melansir bencana tanah longsor di Karangkobar, 12 Desember 2014 telah menelan banyak korban jiwa. Dalam waktu singkat, sekitar 5 menit, material tanah dari Bukit Telaga Lele yang berada tak jauh dari permukiman warga nyaris menimbun keseluruhan dusun. Total ada 125 korban jiwa, 102 orang dinyatakan meninggal dunia dan 23 orang lainnya hilang.
Pengamat stabilitas lereng dan tanah tak jenuh Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) Gayuh Aji Prasetyaningtiyas, S.T., M.Eng., Ph.D., mengatakan, longsor yang terjadi di Banjarnegara sebetulnya merupakan isu nasional yang memang memerlukan perhatian besar.
“Longsor di Banjarnegara itu menahun. Bahkan kalau saya tidak salah membaca, Presiden ke-7 Joko Widodo pun pernah mengunjungi lokasi terdampak longsor,” kata Gayuh yang sudah meneliti zonasi longsor di Jawa dan Sumatera sejak 2016 silam.
Sebelum memasuki topik riset, dosen Teknik Sipil UMS itu juga membeberkan sejumlah fakta, seperti masalah dilema ekonomi, pembangunan ekonomi dengan alam, hingga keseimbangan alam yang membayangi Banjarnegara.

Gayuh Aji Prasetyaningtiyas, S.T., M.Eng., Ph.D. Humas UMS/Imam Safi'i
“Permasalahan ini bukan sekedar sifat tanah atau karakteristik hujan saja yang memicu longsor. Jadi, pemasukan ekonomi di Banjarnegara sendiri itu adalah pertanian, terutama pohon salak. Padahal itu akarnya serabut yang pendek, artinya si akar tidak cukup mampu untuk memperkuat tanah di sekitarnya,” jelas dia.
Merujuk pewartaan RRI, masalah longsor juga menjadi perhatian ilmuwan Jepang, Profesor Hayashi Takehiro dan Dr. Fujikawa Yoshinori. Setelah sepekan meneliti, terhitung tanggal 24-28 Februari 2025, keduanya menyimpulkan tanah di Banjarnegara sangat rentan longsor akibat curah hujan tinggi dan dominasi tanaman sayuran di lahan pertanian.
“Akar serabut tidak menyebar pada area yang cukup luas untuk menahan partikel tanah. Selain salak, beberapa lokasi juga ditanami kentang. Kentang apa lagi? Akarnya dangkal. Berbeda dengan pohon besar yang akarnya menyebar dan bisa menahan tanah lebih kuat,” ujar Gayuh jeli.
Tanah di Banjarnegara merupakan tanah vulkanik yang didominasi lempung karena lokasinya di kawasan pegunungan. Sifatnya mampu menyerap air dengan cepat, tetapi sulit melepaskannya.
Akumulasi air dalam tanah meningkatkan massanya secara signifikan, sementara akar tanaman yang lemah tidak cukup kuat untuk menahan beban tersebut. Akibatnya, lereng menjadi semakin rentan terhadap pergerakan, terutama saat hujan turun terus-menerus.
Dari aspek geoteknik, penelitian Gayuh yang berjudul “The Influence of Rainfall Variation on Slope Stability: Case Study of Wanayasa Street Slope, Banjarnegara, Indonesia” bertujuan mengungkap pola hubungan antara curah hujan dan kejadian longsor di lokasi tersebut. Dengan menganalisis data curah hujan selama 11 tahun (2009–2019), ia berupaya menentukan ambang batas hujan yang berpotensi memicu longsor di jalur Wanayasa-Banjarnegara.
Pengaruh Curah Hujan dan Durasinya
Temuan Gayuh menunjukkan, durasi hujan memiliki pengaruh lebih besar terhadap longsor dibandingkan intensitasnya. Hujan deras dalam waktu singkat belum tentu memicu longsor, tetapi hujan dengan intensitas sedang yang berlangsung lama dapat meningkatkan kejenuhan tanah dan mempercepat pergerakan lereng.
“Hujan dengan durasi lebih dari 8 jam dan curah hujan kumulatif 45,6 mm bisa menjadi ambang batas pemicu longsor di Banjarnegara,” katanya.
Dosen Mekanika Tanah itu mengelompokkan pola hujan yang memengaruhi kestabilan lereng menjadi tiga kategori utama. Pertama, hujan dengan intensitas tinggi dalam waktu singkat dapat memicu longsor, apabila tanah dalam kondisi kering dan belum jenuh air. Kedua, hujan dengan intensitas sedang yang berlangsung cukup lama meningkatkan risiko longsor ketika tanah mulai mencapai kejenuhan.
Ketiga yang paling berbahaya, hujan berkepanjangan dengan intensitas sedang membuat air terus meresap hingga tanah kehilangan daya hisapnya, sehingga aliran permukaan tanah semakin deras. Hal ini mengakibatkan gerusan pada permukaan tanah dan menurunnya daya dukung tanah, membuat lereng semakin rentan terhadap pergerakan.
Gayuh memvalidasi temuannya dengan menerapkan pemodelan numerik menggunakan metode back analysis. Ia dan tim riset saat itu memasukkan data historis curah hujan, karakteristik tanah, dan geometri lereng untuk menyimulasikan pengaruh hujan terhadap kestabilan lereng.

“Hasilnya menunjukkan bahwa semakin lama hujan turun, semakin besar kemungkinan longsor terjadi,” katanya. Menurut dia, jika pola hujan pemicu longsor dapat diidentifikasi lebih awal, sistem peringatan dini bisa diterapkan dengan lebih presisi.
Pendekatan Bio Engineering
Salah satu kendala utama penelitian ini adalah minimnya alat pemantau hujan di Banjarnegara. Stasiun hujan di Jawa Tengah umumnya hanya merekam akumulasi curah hujan harian, tanpa merekam perubahan intensitas hujan pada waktu-waktu yang lebih spesifik.
“Keterbatasan stasiun di Jawa Tengah itu tidak bisa mendeteksi hujan terjadi dalam sehari itu berapa jam, berhenti berapa menit, itu tidak bisa,” imbuhnya.
Untuk mengatasi keterbatasan itu, Gayuh memanfaatkan data satelit dan validasi berbasis statistik guna mempertajam akurasi prediksi. Salah satu pendekatan yang dapat dikembangkan adalah pemantauan kondensasi awan, seperti yang diterapkan dalam Tropical Rainfall Measuring Mission (TRMM).
Satelit ini mengandalkan radar, pencitraan gelombang mikro, dan sensor petir untuk memetakan presipitasi di wilayah tropis dan subtropis. Dengan teknologi ini, pola hujan di Banjarnegara dapat ia petakan lebih rinci.
Mitigasi longsor tak bisa hanya bertumpu pada sistem pemantauan. Gayuh menekankan pentingnya pendekatan bio engineering, pendekatan rekayasa yang memadukan aspek lingkungan dan pertanian untuk meningkatkan stabilitas tanah. Infrastruktur seperti dinding penahan tanah dan saluran drainase memang diperlukan, tetapi tanpa pendekatan berbasis ekologi, efektivitasnya tetap terbatas.
“Nggak bisa kalau cuma membangun tembok penahan tanah dan berharap longsor tidak terjadi. Alam itu punya pattern. Tanah akan tetap bergerak kalau sistem aliran air di dalam tanah nggak dikelola dengan baik,” gamblang dia.
Masalahnya, mitigasi longsor bukan hanya perkara teknis. Ada faktor sosial dan ekonomi yang ikut bermain, terutama bagi masyarakat yang menggantungkan hidupnya pada sektor pertanian. Alih-alih sekadar memberi edukasi satu arah, Gayuh memilih mengajak masyarakat berdiskusi untuk menemukan solusi yang seimbang.
“Kita tidak boleh bilang, ‘Jangan tanam ini, ini berbahaya!’ seolah-olah mengajari mereka dengan berpikir mereka ini tidak tau apa-apa,” kata Gayuh penuh kehati-hatian. Menjaga kestabilan lereng tak bisa dilepaskan dari realitas ekonomi petani. Mereka butuh lahan yang produktif, sementara tanah di lereng harus kokoh. Dua kepentingan ini harus berjalan beriringan.
Jalan tengah ditawarkan Gayuh adalah memadukan tanaman bernilai ekonomi tinggi dengan tanaman berakar kuat yang mampu memperkokoh lereng, juga melakukan drainase seperti riset yang sedang ia rampungkan saat ini.
Mengutip Kompas.id (14/3/2025), Kepala Dinas Pertanian, Perikanan, Ketahanan Pangan Kabupaten Banjarnegara Firman Sapta Ady menyoroti pentingnya diversifikasi tanaman di Banjarnegara, seperti alpukat dan durian, yang lebih bernilai ekonomis. Namun, para petani terpantau cenderung lebih suka menanam salak karena perawatannya mudah dan bisa dipanen sepanjang tahun.
Jika keseimbangan tercapai, stabilitas tanah membaik tanpa mengorbankan mata pencaharian petani. “Memang perlu keterlibatan semua pihak, dari perangkat desa mungkin ya bisa mengawali diskusi dengan mengajak kami bertemu masyarakat. Jika keseimbangan terwujud, longsor menahun yang datang tanpa apa-apa bisa diminimalisir pelan-pelan, dan petani bisa tetap produktif tanpa merasa mata pencaharian mereka direnggut,” harap Gayuh mengakhiri perbincangan.
Penulis: Genis Dwi Gustati
Editor: Al Habiib Josy Asheva
Mahasiswa Internasional
UMS Newsletter
Tak ada yang lebih spesial dari membaca berita pilihan redaksi hanya untukmu.
Langganan gratis UMS Newsletter sekarang.







