Sekilas Program FIFA 11+
Peran Otot Kaki bagi Pesepak Bola
Pencegahan Cedera melalui Program FIFA 11+
Berbagai Kelompok Usia
Pertimbangan Waktu Latihan

Federation Internationale de Football Association (FIFA) resmi menunjuk Indonesia sebagai tuan rumah perhelatan Piala Dunia U-17 2023 yang berlangsung selama 10 November-2 Desember 2023 lantaran dianggap memiliki kelayakan sarana dan infrastuktur. Penunjukkan tersebut digadang-gadang menjadi penyembuh luka setelah drama pencabutan status tuan rumah Indonesia untuk Piala Dunia U-20 yang akhirnya dilaksanakan di Argentina. Para peserta Piala Dunia U-17 2023 dari 24 negara akan berlaga di empat stadion terbaik Indonesia, yakni Jakarta International Stadium (Jakarta), Stadion Si Jalak Harupat (Bandung), Stadion Manahan (Solo), dan Stadion Gelora Bung Tomo (Surabaya).

Olahraga yang digandrungi sejuta umat ini membutuhkan kebugaran fisik yang prima sehingga pemain mampu bersaing dengan intensitas tinggi dan konsisten sepanjang 90 menit pertandingan. Pada laga perdana Piala Dunia U-17 2023, fisik Timnas Indonesia U-17 nyatanya sempat kepayahan di seperempat akhir babak kedua melawan Ekuador. Hal itu disinyalir karena kematangan fisik dan jam terbang pemain Ekuador lebih baik dari punggawa Garuda muda.

Ketegangan yang dialami Timnas Indonesia U-17 kemarin mengingatkan kami pada penelitian yang dirampungkan oleh Dosen Program Studi Fisioterapi, Fakultas Ilmu Kesehatan (FIK), Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS), Dr. Mahendra Wahyu Dewangga, S.Fis., M.Biomed. dengan judul “Effects of FIFA 11+ program on speed, body balance and leg muscle power to prevent injury among football club university player”. Penelitiannya yang berhasil berjejer di barisan jurnal internasional Fizjoterapia Polska terindeks Scopus Q4 memuat poin penting bahwa program latihan fisik harus direncanakan dengan baik dan sistematis serta ditujukan untuk meningkatkan kebugaran dan pencegahan cedera atlet kala berlaga.

Sekilas Program FIFA 11+

Matahari yang tak begitu terik mengiringi langkah kami menuju Lapangan Sepak Bola Kampus 2 UMS untuk bersua dengan Pak Mahendra. Guyuran air hujan semalam yang tersisa di atas rerumputan mulai terasa membasahi sepatu. Kami berjalan pelan, menuju rumah kaca di sebelah timur lapangan untuk melakukan sesi wawancara.



Lelaki yang mengenakan jersei timnas sepak bola itu tersenyum ramah menyapa kami. Tak ada garis wajah tegas jadi penunjuk usianya yang masih muda.

“Penelitian ini cenderung masih baru, tetapi dampaknya akan sangat signifikan khususnya untuk pemain muda. Kebetulan saya juga mengikuti perkembangan atlet sepak bola muda, terutama putri,” ujar dosen muda itu, Senin (13/11).

Mengusung Program FIFA 11+ dalam penelitian, ia menjelaskan mayoritas pemain sepak bola indonesia muda masih kurang di beberapa aspek seperti keseimbangan tubuh, kekuatan otot kaki, dan lainnya. Ia berkata, “Kita sendiri melihat bahwa FIFA 11+ itu program latihan yang terstandar dengan tujuan menghindari kemungkinan cedera. Tahapannya mulai dari pemanasan umum, latihan inti berupa berlari, melompat, latihan penguatan otot dan latihan peregangan statis.”

Prolog yang diucapkan Pak Mahendra membuat kami sepakat bahwa cedera yang dialami seseorang saat olahraga dapat disebabkan karena kurangnya persiapan fisik, pemahaman dan pengawasan teknis. Dengan demikian, penting bagi kita untuk menyelaraskan rutinitas pemanasan yang baik, teknik olahraga yang benar, dan manajemen intensitas latihan agar dapat menghindari cedera yang tak diharapkan.

Peran Otot Kaki bagi Pesepak Bola

Dosen yang telah menyandang gelar Doktor Ilmu Olahraga itu menyampaikan otot bagian bawah, terutama pada kaki menjadi kunci emas para pesepak bola. Apabila pemain mengalami cedera pada otot-otot tersebut, kemungkinan sembuh membutuhkan durasi yang cukup lama, yakni 6 bulan hingga 1 tahun.

“Seperti otot kaki Bruno Fernandes (gelandang serang dari Manchester United), ia adalah salah satu pemain sepak bola terbaik yang tak pernah sekali pun absen bertanding karena cedera. Kenapa? Karena kedisiplinannya dalam berlatih menggunakan protokol yang terstandar dan pola tepat membuat otot kakinya menjadi sangat kuat,” terangnya.

Pencegahan Cedera melalui Program FIFA 11+

Kerumunan mahasiswa yang berlalu lalang turut mengiringi sesi wawancara kami dengan dosen berkaca mata itu. Pak Mahendra tampak anteng menyimak dan antusias menjawab pertanyaan demi pertanyaan yang kami lontarkan.

“Tak ayal kombinasi latihan-latihan Program FIFA 11+ dapat meningkatkan kondisi fisik dan teknis pesepak bola. Mereka akan matang secara fisik dan mengurangi kemungkinan cedera, baik saat latihan atau selama berlaga.”

Latihan-latihan dinamis yang termaktub dalam Program FIFA 11+ dirancang secara komprehensif oleh FIFA untuk membangun kestabilan sendi, meningkatkan kontrol motorik, dan meminimalisir risiko cedera otot dan ligamen.



“FIFA 11+ pun memuat unsur pendidikan. Atlet diberikan informasi tentang pentingnya pemanasan yang tepat, teknik pelaksanaan latihan, dan peran keseimbangan. Dengan menyatukan aspek fisik dan pendidikan, program ini bukan hanya sekadar rutinitas pemanasan, tetapi juga menjadi suatu pendekatan yang dapat secara efektif mengurangi risiko cedera pada para pemain sepak bola,” imbuh Pak Mahendra.

Terdapat perbedaan signifikan yang ditemukan oleh Dosen Fisioterapi itu terhadap pemain sepak bola Indonesia yang rutin mengimplementasikan Program FIFA 11+ dan mereka yang tidak. Ia berujar, “Sangat terlihat ya perbedaan performa pemain, terutama pada kekuatan hamstrings dan quadriceps.”

Usia-usia remaja seperti kelompok umur U-17 rentan mengalami cedera. Sangat disayangkan apabila di usia dini mereka harus menepi lantaran diterpa cedera otot, cedera kaki, dan macam-macam cedera lainnya. Cedera yang dialami di usia dini kemungkinan besar mempersingkat umur karier para atlet sepak bola.

Berbagai Kelompok Usia

“Meskipun penelitian yang saya lakukan berfokus pada atlet sepak bola muda, namun Program FIFA 11+ dapat diterapkan untuk berbagai kelompok usia. Hanya saja, ada beberapa adaptasi yang perlu dilakukan untuk mengakomodir perbedaan fisik pemain sepak bola di berbagai kelompok usia. Program ini juga dapat diterapkan untuk semua gender,” ujar Pak Mahendra.

Baginya yang telah lama menyelami dunia sepak bola, khususnya sepak bola putri, sempat ia menemui beberapa pelatih yang sama sekali tidak tahu tentang adanya Program FIFA 11+. Ia benar-benar menyanyangkan hal itu lantaran Program FIFA 11+ merupakan standar internasional dari FIFA dan teruji sebagai development stage seorang atlet sepak bola.

“Memang betul adanya kalau FIFA 11+ adalah program komplementer, tidak dapat dijadikan satu-satunya porsi untuk melatih. Namun, alangkah baiknya kalau semua klub sepak bola di Indonesia dapat mengimplementasikannya, baik profesional, semi profesional, bahkan lingkup akademi seperti tingkat SD, SMP, SMA, dan universitas,” harapnya.

Pertimbangan Waktu Latihan

Kami sebelumnya meyakini bahwa perbedaan cuaca di negara-negera Eropa dan di negara-negara tropis seperti Indonesia dapat memengaruhi keefektifan Program FIFA 11+. Namun Pak Mahendra berkata lain, pernyataan pamungkasnya mantap menyangkal adanya pengaruh cuaca terhadap program tersebut.

“Tak ada perbedaan signifikan antara negara-negara Eropa dan Indonesia, karena pada dasarnya Program FIFA 11+ sifatnya universal. Biasanya pelatihlah yang memerhatikan waktu-waktu latihan yang sesuai dan aman untuk para atletnya. Mereka menghindari jam siang waktu matahari sedang terik-teriknya, karena atlet bisa mengalami dehidrasi, dan tidak mungkin juga saat hujan badai. Kebanyakan pelatih menerapkan Program FIFA 11+ saat pagi dan sore hari.”

Penulis: Genis Dwi Gustati

Editor: Al Habiib Josy Asheva

Baca jurnal penelitian
Lebih dekat dengan peneliti

Berita Unggulan

image-featured
10 Juni 2026

Tim FEB UMS berdiskusi dengan perwakilan PPI Jepang. Bahas strategi branding destinasi wisata Indonesia agar semakin dikenal oleh masyarakat internasional, khususnya di Jepang.

sdgs-label
sdgs-badge
image-featured
9 Juni 2026

Menyambut World No Tobacco Day 2026, BEM FKG UMS mengampanyekan pentingnya menjaga kesehatan gigi dan mulut di car free day Slamet Riyadi, Solo.

sdgs-label
sdgs-badge
image-featured
8 Juni 2026

Keberadaan kaum homoseksual di ruang publik menimbulkan keresahan masyarakat. Menambah risiko penyakit menular, termasuk HIV dan berbagai infeksi menular seksual lainnya.

sdgs-label
sdgs-badge

UMS Newsletter

Tak ada yang lebih spesial dari membaca berita pilihan redaksi hanya untukmu.
Langganan gratis UMS Newsletter sekarang.

Baca sajian tulisan berkualitas dalam rubrik unggulan ums.ac.id

icon

Penelitian

Artikel ilmiah populer dari penelitian dosen UMS.

icon

Teropong Jagat

Artikel mendalam dilengkapi infografik.

icon

Kiprah

Biografi dosen dan mahasiswa berprestasi di UMS.

icon

Cerita Alumni

Cerita alumni UMS dalam meniti kariernya.