Konferensi Dunia tentang Pengobatan Tradisional 2024 baru-baru ini terlaksana di Beijing, Rabu (4/12/2024). Acara tersebut jadi momentum penting para ahli dan praktisi dari berbagai negara untuk bertukar pikiran mengenai integrasi pengobatan tradisional ke dalam sistem kesehatan modern.
Wali Kota Beijing, Yin Yong, memimpin upacara penutupan, sementara Zeng Yixin, Wakil Menteri Komisi Kesehatan Nasional Tiongkok, menyampaikan pidato penutup yang menyoroti komitmen Cina untuk bekerja sama dengan negara-negara lain, terutama dalam mempromosikan penerapan WHO Global Strategy for Traditional Medicine 2025-2034 dan membangun komunitas kesehatan global.
Rudi Eggers, Direktur Layanan Kesehatan Terpadu WHO, turut memberikan pidato pada acara yang dihadiri lebih dari 1.200 peserta dari berbagai negara tersebut.
Dwi Linna Suswardany, S.K.M., MPH., Ketua Pusat Studi Penyakit Kronis Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS), menjadi salah satu peserta undangan dengan pendanaan dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), yang bekerja sama dengan Komisi Kesehatan Nasional Tiongkok, Administrasi Nasional Pengobatan Tradisional Tiongkok (NATCM), dan Pemerintah Kota Beijing. Kehadiran Linna juga didukung oleh Program Hibah Kerja Sama Internasional yang difasilitasi oleh Biro Kerja Sama dan Urusan Internasional (BKUI) UMS.
Dengan mengusung tema "Diversity, Inheritance, and Innovation: Traditional Medicine for All", konferensi tersebut bertujuan memperkuat upaya pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), khususnya dalam mendukung kesehatan global melalui Tujuan 3: Kehidupan Sehat dan Kesejahteraan untuk Semua.

Rapat pendahuluan 2024 World Conference on Traditional Medicine di Beijing (4/12/2024). Dok. pribadi
"Pembahasan pentingnya acara ini yakni untuk memastikan praktik pengobatan tradisional yang aman dan berbasis bukti, serta dapat diakses oleh masyarakat luas," ujar Linna.
Ia melihat peluang besar bagi Indonesia untuk berperan lebih aktif dalam memadukan pengobatan tradisional dengan pendekatan kesehatan modern.
Konferensi ini pun turut membahas sejumlah isu strategis yang relevan dengan pengembangan pengobatan tradisional. Pertama, integrasi pengobatan tradisional dalam kerangka layanan kesehatan nasional. Kedua, pemanfaatan teknologi canggih, termasuk kecerdasan buatan (AI) yang mendukung penelitian dan inovasi di bidang pengobatan tradisional. Ketiga, standardisasi dan jaminan keamanan obat herbal guna mendukung kesehatan masyarakat.
“Kolaborasi antara pengobatan tradisional dan modern bukan hanya tentang inovasi, tetapi juga tentang melestarikan warisan budaya yang membawa dampak kesehatan yang positif bagi masyarakat dunia,” imbuh dosen Kesehatan Masyarakat UMS itu.
Tak hanya hadir sebagai peserta, Linna juga menjadi salah satu pembicara dan founding member The Global Alliance of Traditional Integrative Medicine Societies. Aliansi ini bertujuan mengintegrasikan pengobatan tradisional dan modern melalui kerja sama internasional, pertukaran akademik, inovasi ilmiah, hingga pengembangan berkelanjutan sistem kesehatan global.
Kehadiran UMS dalam forum internasional tersebut mencerminkan langkah nyata untuk memperkuat peran akademisi Indonesia di tingkat global. UMS, sebagai lembaga pendidikan tinggi juga berkomitmen pada integrasi ilmu pengetahuan dengan pengamalan nilai-nilai luhur budaya, berharap dapat terus memberikan kontribusi signifikan dalam membangun sistem kesehatan yang lebih holistik, inklusif, dan berkelanjutan demi masa depan yang lebih baik.
Editor: Genis
Sumber: Pusat Studi Penyakit Kronis UMS
Berita Unggulan
UMS Newsletter
Tak ada yang lebih spesial dari membaca berita pilihan redaksi hanya untukmu.
Langganan gratis UMS Newsletter sekarang.







