Desember 2020 menjadi salah satu perjalanan yang tak akan dilupakan Andri Nirwana. Pandemi Covid-19 masih berada di puncaknya ketika ia bertolak dari Aceh menuju Surakarta untuk mengikuti seleksi dosen Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS).
“Kalau memang jodoh itu pasti mudah,” ujar Andri pertengahan Juli lalu di ruang kerjanya. Keyakinan itu pula yang menguatkannya meninggalkan Serambi Mekkah.
Saat itu, Andri sebenarnya telah menjadi dosen di sejumlah perguruan tinggi di Aceh. Salah satunya, ia pernah menjabat Dekan Fakultas Agama Islam Universitas Serambi Mekkah pada 2015-2019. Sertifikasi pendidik, jabatan akademik, publikasi ilmiah bereputasi internasional, hingga ID Scopus telah ia kantongi. Namun, ia merasa ruang untuk berkembang mulai menemui batas.
“Karena suatu hal, saya memutuskan untuk menyudahinya (mengajar di Aceh). Bismillah begitu kata saya dulu, setelah diumumkan saya lolos menjadi dosen di UMS, saya bawa keluarga untuk pindah ke Surakarta,” katanya penuh syukur.

Jauh sebelum menjadi profesor, kehidupannya ditempa oleh Aceh yang tengah bergejolak. Pergolakan politik, konflik bersenjata, hingga ketatnya pemeriksaan aparat mewarnai masa kecil dan remajanya. Beruntung, kehangatan keluarga membuatnya tetap merasa aman, sehingga bayang-bayang konflik tak sepenuhnya merampas masa kecilnya.
Andri terlahir dari keluarga sederhana yang memeluk erat nilai-nilai keagamaan. Dari garis keluarga ayah, sang kakek merupakan ulama yang mengelola pesantren, sementara ayahnya sejak kecil gemar mengikuti musabaqah tilawatil qur'an.
Kecintaannya terhadap Al-Qur'an tumbuh alami di lingkungan keluarganya. Ketika hendak memilih jurusan kuliah, ia sempat tertarik mendalami fikih dan perbandingan mazhab.
Namun sang ayah memiliki pandangan berbeda. “Kalau memang ingin belajar agama, pilih saja Al-Qur'an dan hadis,” begitu pesan ayahnya yang masih ia ingat hingga kini. Pesan itulah yang membawa Andri menempuh sarjana Tafsir Hadis, kini Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir, di Universitas Islam Negeri Ar-Raniry, Banda Aceh.
Menimba Ilmu di Banyak Medan
Lulus sarjana, Andri tidak langsung meniti karier sebagai akademisi. Kehidupan justru membawanya melamar ke sebuah lembaga kemanusiaan internasional.
Pascatsunami Aceh 2004, banyak lembaga kemanusiaan dari berbagai negara berdatangan. Ia mencoba melamar ke organisasi kemanusiaan asal Belgia bernama Médecins Sans Frontières (MSF). Namun, Andri terpaksa pulang dengan kecewa lantaran kesulitan memahami bahasa Inggris yang diucapkan pewawancara dengan aksen Prancis yang kental.
Tak lama kemudian, ia bertemu sekelompok relawan asal Filipina yang mengadakan pelatihan bahasa Inggris. Selama tiga bulan ia berlatih bersama mereka. Siang hari digunakan untuk berbicara dalam bahasa Inggris, sedangkan malam hari ia mengasah kemampuan mendengar melalui siaran BBC London.
Upaya itu membuahkan hasil. Andri dengan penuh percaya diri kembali melamar ke MSF dan diterima sebagai staf administrasi.
Setelah kontraknya di MSF berakhir, ia melanjutkan karier di organisasi kemanusiaan internasional lain yang bergerak di bidang komunikasi radio, yakni International Federation of Red Cross and Red Crescent (IFRC). Di sana ia bekerja bersama tenaga profesional dari Kenya, dan sejumlah negara lain. Pengalaman tersebut memperluas cakrawala berpikirnya, sekaligus mengasah kemampuan berkomunikasi lintas budaya.
Meski menikmati karier di lingkungan internasional, cita-citanya menjadi dosen yang sejak awal mendapatkan dukungan dari sang ibu tak pernah surut. Karena itu, di sela-sela pekerjaannya ia kembali ke bangku kuliah.
Ia menempuh Program Magister Fiqh di almamaternya, UIN Ar-Raniry Banda Aceh, untuk menjawab rasa penasarannya yang sejak jenjang sarjana ingin mendalami fikih dan perbandingan mazhab.
Setelah meraih gelar magister pada 2009, ia sempat kembali mengambil Program Magister Tafsir di Institut Ilmu Al-Qur'an (IIQ) Jakarta. Namun studi itu tidak diselesaikannya karena merasa telah memperoleh perspektif keilmuan yang ingin dipelajari dari kampus sebelumnya.
Setahun kemudian, Andri bertolak ke Omdurman Islamic University, Sudan, melalui program beasiswa doktoral. Gelar doktor berhasil diraihnya pada usia 29 tahun. Sekembalinya ke Indonesia, ia mengajar selama hampir tujuh tahun di beberapa universitas di Aceh.
“Jadi memang ada semacam pengabdian begitu. Karena saya berangkat doktor ke Sudan dengan beasiswa dari pemerintah. Ada beberapa universitas yang saya ampu, salah satunya almamater saya sendiri UIN Ar-Raniry,” jelas Andri.
Hijrah ke UMS dan Merintis Magister IQT
Lambat laun Andri mulai merasa tak memiliki ruang untuk berkembang. Hingga suatu hari ia menemukan poster penerimaan dosen UMS yang beredar melalui WhatsApp.
Tak pikir panjang, Andri pun mendaftar sebagai dosen tetap Program Studi Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir UMS. Setelah resmi bergabung pada 2020, setahun kemudian ia dipercaya menjadi Ketua Program Studi Sarjana Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir.

Bersama para dosen Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir UMS, Andri pun dipercaya merintis Program Magister Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir. Pada 2024, program studi itu resmi berdiri. Andri kemudian diamanahi sebagai ketua program studi pertama Magister Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir.
Kehadiran program tersebut menjadi tonggak penting bagi UMS. Selain menjadi Program Magister Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir pertama di lingkungan Perguruan Tinggi Muhammadiyah-'Aisyiyah (PTMA), program ini juga memperoleh izin operasional dari Kementerian Agama dan dirancang dengan pendekatan interdisipliner yang mengintegrasikan kajian tafsir klasik dengan isu-isu kontemporer.
Bagi Andri, capaian itu menjadi pijakan awal untuk membangun tradisi keilmuan Al-Qur'an yang lebih kokoh di Muhammadiyah. “Kalau kita berbicara tentang Al-Qur'an dan sunah, idealnya kita juga memiliki pusat kajian yang kuat sampai jenjang doktor,” ujarnya.
Visi itu pula yang mendorong Andri menyusun langkah berikutnya. Ia berharap UMS suatu hari memiliki Program Doktor Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir sehingga lahir lebih banyak mufasir (ahli tafsir) yang mampu mengembangkan disiplin ilmu tafsir berbasis kaidah akademik, bukan sekadar menghadirkan penafsiran populer yang sering beredar di tengah masyarakat.
Pengalaman mengajar membuat Andri menyadari masih banyak kesalahpahaman dalam memahami Al-Qur'an. Salah satunya ialah anggapan bahwa kemampuan berbahasa Arab sudah cukup untuk menafsirkan ayat.
Ia mencontohkan Surat An-Nur ayat 26 yang kerap dipahami sebagai ayat jodoh dengan makna laki-laki baik pasti dipasangkan dengan perempuan baik. Pemahaman itu dinilainya kurang tepat.
“Dalam konteks turunnya ayat, firman tersebut justru berkaitan dengan pembelaan Allah terhadap Aisyah RA dari fitnah besar yang menimpanya, sehingga pesan utamanya berbicara tentang kehormatan dan kesucian martabat, bukan kepastian pasangan hidup,” jelas dia.
Bahasa Arab bagi Andri hanya salah satu alat. Tafsir bukan sekadar menerjemahkan. Tafsir berarti mencari bagaimana maksud yang Allah kehendaki terhadap ayat itu.
Karena itulah, ia ingin membangun tradisi tafsir yang berpijak pada metodologi dan kaidah ilmiah. Lantaran yang ingin ditinggalkan hanyalah warisan keilmuan melalui mahasiswa yang kelak diharapkannya menjadi penerus tradisi keilmuan Al-Qur'an di lingkungan Muhammadiyah.
Ikhtiar panjang itu akhirnya mengantarkan Andri pada puncak karier akademik. Dalam Sidang Senat Terbuka UMS yang terselenggara 20 Januari 2026, Andri resmi dikukuhkan sebagai Guru Besar UMS ke-70 di usia 42 tahun.
Penulis: Genis Dwi Gustati
Editor: Gede Arga Adrian
Karya Mahasiswa
UMS Newsletter
Tak ada yang lebih spesial dari membaca berita pilihan redaksi hanya untukmu.
Langganan gratis UMS Newsletter sekarang.







