
MPQ UMS Ajak Generasi Muda Atasi Overthinking dengan Al-Qur’an
Di tengah dunia yang bergerak serba cepat, overthinking kerap menghantui sejumlah generasi muda. MPQ UMS mengajak pemuda kembali ke Al-Qur’an sebagai penyejuk jiwa.
Seminar dan Diskusi Pondok Transformasi Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) kembali digelar. Pada series ke-2 ini, diskusi mengangkat topik “Peluang dan Tantangan Artificial Intelligence bagi Pendidikan Tinggi,” dan bertempat di Gedung Auditorium Mohammad Djazman UMS, Rabu (10/5).
Seminar dan diskusi mengenai peluang dan tantangan dari hadirnya teknologi Artificial Intelligence (AI) ini disampaikan oleh Wakil Ketua Majelis Pustaka dan Informasi (MPI) PP Muhammadiyah sekaligus Founder Drone Emprit (sistem yang berfungsi untuk memonitor dan menganalisa media online yang berbasis teknologi big data), Ismail Fahmi, S.T., M.A., Ph.D.
Adapun sebagai penyelenggara kegiatan, Kepala Biro Perencanaan dan Pengembangan (Renbang), Munajat Tri Nugroho, S.T., M.T., Ph.D. mengatakan saat ini banyak kegiatan dan teknologi yang semakin berkembang dengan menggunakan AI. Kondisi ini yang tak bisa dihindari ini perlu dimanfaatkan untuk tujuan pendidikan yang positif.
“UMS memandang bahwa AI itu sebagai peluang untuk bisa dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya untuk pendidikan, pengajaran, penelitian, dan sebagainya. Intinya bertujuan positif,” terang Munajat.
Diharapkannya dengan adanya AI, UMS dan perguruan tinggi lainnya bisa membangun kesadaran kolektif bagaimana menggunakan AI dalam ranah pendidikan. Sehingga mampu menghasilkan pendidikan yang lebih efisien, efektif, dan berkualitas.
Rektor UMS, Prof. Dr. Sofyan Anif, M.Si. juga menyatakan bahwa AI memiliki peluang dan tantangan. Jika mampu menguasai AI, maka akan menjadi keunggulan dan nilai tambah bagi UMS.
“Dengan keunggulan dan tambahan bisa menerima kehadiran AI ini, kita tidak hanya sekadar menyesuaikan tuntutan zaman, tapi sekaligus menjadi peluang besar untuk bisa meraih berbagai prestasi,” jelas Prof. Anif.
Menurutnya, kehadiran AI menjadi terbatas, apabila kehadiran dari AI ini tidak diinternalisasikan ke dalam kehidupan kampus.
AI akan menjadi bagian dari program studi UMS yang segera dibuka di Korea Selatan. Di UMS, mahasiswa akan dikenalkan dengan AI terlebih dahulu, kemudian ketika di Tongmyong University akan lebih diperkuat.
“Saya yakin, karena di Tongmyong University sudah maju di bidang IT-nya,” tegas Rektor UMS itu.
Ismail Fahmi menegaskan kehadiran teknologi AI seperti ChatGPT itu tidak dapat dihindari. Di perguruan tinggi, dosen dan mahasiswa juga perlu mempelajari teknologi tersebut, sehingga bisa menjadikan ChatGPT sebagai alat bantu pembelajaran.
“Justru dengan hadirnya AI mampu meningkatkan kualitas, namun dengan cara yang benar dan bertanggung jawab,” ujar Ismail Fahmi.
Dia menyarankan bahwa pembelajaran tentang teknologi ini bisa diawali dari kampus terlebih dahulu. Namun, kampus sebaiknya juga membuat aturan, seperti : AI Policy (kebijakan terkait penggunaan AI) atau kode etik yang disesuaikan pada masing-masing ranah, sehingga teknologi tersebut dapat digunakan dengan bijak.
“Harus dimininalisir dampak negatifnya,” pungkasnya. (Maysali/Humas)




Di tengah dunia yang bergerak serba cepat, overthinking kerap menghantui sejumlah generasi muda. MPQ UMS mengajak pemuda kembali ke Al-Qur’an sebagai penyejuk jiwa.
Tak ada yang lebih spesial dari membaca berita pilihan redaksi hanya untukmu.
Langganan gratis UMS Newsletter sekarang.