Pergeseran Makna
Bisnis yang Mudah Dirambah
Bertahan karena Curiosity-Driven Demand
Sumbang Lapangan Kerja

Pergeseran Makna

Coffee shop atau kedai kopi kini menjelma menjadi pemandangan yang lazim di setiap kota. Tak terkecuali Kota Surakarta atau Solo.

Jalan Slamet Riyadi, Jalan Gatot Subroto, Laweyan, Kauman, bahkan di sejumlah titik di Solo seolah tak pernah kehabisan aroma kopi. Papan nama coffee shop hadir di pinggir jalan raya hingga gang kecil kota. Sebagian terus berekspansi hingga memiliki lebih dari satu gerai.

Salah satunya ialah kedai kopi 1956 yang berlokasi di Tipes, Surakarta, yang mengusung konsep slow bar. “Dari awal fokusnya di manual brew dan kopi filter. Kami menjual apa yang kami bisa dulu karena modalnya terbatas,” ujar pemilik kedai kopi 1956 saat ditemui, Sabtu (1/8/2026).

Modal yang dibutuhkan pemilik 1956 bisa dikatakan tak begitu besar. Karena sebagian besar peralatan telah dimiliki, dia hanya membutuhkan sekitar Rp15 juta untuk menyewa tempat usaha.

“Bisnis kami bisa dikatakan cukup nguripi (menghidupi). Biasanya paling ramai saat akhir pekan. Apalagi kalau long weekend, banyak orang dari luar Kota Solo yang datang ke sini,” ungkap pria berambut gondrong itu.

Tak hanya pelanggan lokal, kedai kopi 1956 juga kerap dikunjungi wisatawan mancanegara. Ia mengaku pernah menerima tamu dari berbagai negara, seperti Belanda, Jerman, hingga Jepang.

Menurut dia, menjamurnya coffee shop justru menjadi bukti bahwa industri kopi berkembang jauh lebih cepat dibanding perkiraannya. Banyak investor maupun pelaku usaha baru mulai melirik bisnis ini karena dinilai menjanjikan.

Coffee shop boleh dibilang sedang berada dalam masa keemasan. Namun, jauh sebelum istilah coffee shop populer. Masyarakat Indonesia sudah lebih dulu mengenal istilah warung kopi sejak era 90-an.

Yang berubah bukanlah kebiasaan minum kopinya, melainkan cara ruang itu dikemas. Warung kopi bertransformasi menjadi coffee shop dengan desain modern, fasilitas lengkap, dan pengalaman yang lebih personal. Bersamaan dengan itu, makna minum kopi pun ikut bergeser.

Dari kacamata Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Muhammadiyah Surakarta, Farid Adi Prasetya, S.Hum., M.M., konsumsi kopi kini telah melampaui fungsi dasarnya sebagai pelepas dahaga. Aktivitas tersebut berkembang menjadi budaya konsumsi kopi, yakni kebiasaan yang memadukan kebutuhan sosial, gaya hidup, hingga ruang produktivitas dalam satu tempat.

“Di warung kopi atau sekarang coffee shop, orang pada datang bukan untuk memenuhi kebutuhan fungsional saja. Ada nilai-nilai lain yang dicari di sana,” ujarnya, Sabtu (1/8/2026).

Menurut Farid, masyarakat Indonesia sejak lama mengenal warung kopi sebagai ruang berkumpul. Orang datang bukan semata untuk menghilangkan haus, melainkan membangun relasi, bertukar gagasan, hingga memperluas jejaring sosial. Konsep tersebut kemudian berevolusi menjadi coffee shop modern yang memadukan fungsi sosial dengan suasana nyaman, desain estetik, dan fasilitas penunjang produktivitas.

Transformasi itu pula yang membuat coffee shop menjadi pilihan banyak mahasiswa, pekerja, hingga komunitas. Rapat organisasi, mengerjakan tugas kuliah, bahkan bekerja secara jarak jauh kini kerap dilakukan di kedai kopi.

Bisnis yang Mudah Dirambah

Tak hanya dari sisi budaya, fenomena tersebut juga dipengaruhi pertimbangan bisnis. Farid menjelaskan, usaha coffee shop memiliki barrier to entry yang relatif rendah dibanding jenis usaha lain di sektor kuliner.

“Di coffee shop terdekat yang pernah saya riset. Biasa pemiliknya bilang teknologi yang dibutuhkan tidak rumit, peralatannya mudah diperoleh, tenaga kerja tidak harus memiliki pendidikan formal khusus, sementara proses perizinannya juga relatif sederhana,” jelasnya.

Perekonomian Indonesia turut menjadi faktor yang memperkuat optimisme pelaku usaha. Farid mengungkapkan konsumsi kopi nasional terus meningkat hingga menempatkan Indonesia sebagai salah satu negara dengan tingkat konsumsi kopi terbesar di dunia.

Pernyataan Farid sejalan dengan laporan United States Department of Agriculture (USDA) yang menyebut Indonesia sebagai salah satu negara dengan tingkat konsumsi kopi tertinggi pada periode 2024/2025. Konsumsi kopi domestik Indonesia diperkirakan mencapai 4,8 juta kantong, dengan setiap kantong berbobot 60 kilogram. Tahun ini, konsumsi kopi Indonesia diperkirakan akan naik tipis ke angka 4,81 kantong.

Merujuk data Point of Interest per Mei 2026, Indonesia jadi salah satu negara dengan jumlah kedai kopi terbanyak di dunia, mencapai 461.991 lokasi. Menempatkan Indonesia di atas negara-negara yang dikenal sebagai pusat budaya kopi maupun produsen dan pasar kopi terbesar dunia, seperti Brasil dan Vietnam.

coffee shop terdekat, coffee shop, kedai kopi, warung kopi, food and beverage, pertumbuhan ekonomi, perekonomian indonesia

Food and beverage jelas merupakan salah satu sektor yang paling diuntungkan dari tren ini karena coffee shop masuk di dalamnya. Ini karena meningkatnya konsumsi kopi mendorong bertambahnya jumlah pelaku usaha, terutama dari kalangan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM),” kata Farid.

Walhasil, pertumbuhan ekonomi di sektor kopi pun ikut terdorong seiring meningkatnya jumlah coffee shop di berbagai daerah. Seperti ungkapan Wali Kota Solo Respati Ardi kepada media beberapa waktu lalu, yang menyebut proyeksi Pendapatan Asli Daerah (PAD) Kota Solo dari menjamurnya coffee shop diperkirakan mencapai Rp20 miliar. 

“Kita sampaikan bahwa kontribusi dari pelaku usaha ini (pemilik coffee shop di Solo) sudah luar biasa. Sumbangan PAD hampir Rp20 miliar dalam 1 tahun dan ini pusat ekonomi baru,” ucap Respati Ardi, dikutip dari Instagram @soloinfo, Sabtu (1/8/2026).

Bertahan karena Curiosity-Driven Demand

Perilaku konsumen menjadi faktor yang menentukan apakah sebuah coffee shop mampu bertahan atau sekadar menjadi tren sesaat. Farid memperkirakan siklus hidup banyak coffee shop hanya berkisar 3-5 tahun. Setelah itu, sebagian tutup, berganti konsep, atau berpindah kepemilikan.

Penyebabnya bukan semata kualitas kopi yang kurang baik, melainkan ketatnya persaingan serta perubahan selera pasar yang berlangsung sangat cepat. Menurut Farid, pelaku usaha yang mampu bertahan umumnya memahami konsep curiosity-driven demand, yakni permintaan yang didorong oleh rasa penasaran konsumen.

“Dalam dunia bisnis, keinginan pelanggan untuk terus mencoba hal baru menjadi peluang yang harus dipelihara. Karena itu, strategi yang diterapkan pun perlu disesuaikan dengan target pasar yang dibidik,” jelas dosen UMS itu.

Farid berkisah tentang seorang rekannya yang mengelola coffee shop. Sang pemilik, kata dia, menyadari bahwa mahasiswa bukan lagi pasar yang paling menguntungkan.

Rekannya tersebut kemudian mengubah strategi dengan membidik keluarga sebagai target utama. Area bermain anak, ruang baca, hingga agenda komunitas rutin dihadirkan agar orang tua mau datang bersama anak-anaknya.

“Kalau keluarga datang, nilai transaksinya tentu lebih besar kan? Anak-anak pun palingan betah sampai 2 jam maksimal, lalu mereka cabut,“ ujar Farid.

Tak hanya itu, pelaku usaha juga dituntut peka terhadap fenomena fear of missing out (FOMO). Menurut Farid, tren yang digemari konsumen akan terus berubah sehingga coffee shop tidak bisa hanya mengandalkan konsep yang sama.

“Orang itu selalu ingin mencoba sesuatu yang baru. Hari ini mungkin ramai karena estetik, besok bisa karena ada photobox atau fasilitas lain,” katanya.

Bagi Farid, kemampuan membaca perubahan tren dan menerjemahkannya ke dalam strategi bisnis menjadi salah satu kunci agar coffee shop tetap relevan di tengah persaingan yang semakin ketat.

Cara serupa juga dilakukan kedai kopi 1956. Pemilik kedai kopi tersebut mengaku sengaja tidak mempertahankan satu jenis biji kopi untuk menu mereka. Tingkatan sangrai juga dibuat sesuai profil rasa yang diinginkan, mulai dari karakter yang lebih ringan hingga lebih pahit. Cara itu membuat kopinya bisa dinikmati oleh siapa pun, bahkan pemula.

Sumbang Lapangan Kerja

Perekonomian Indonesia turut merasakan dampak dari berkembangnya industri kopi. Menurut Farid, menjamurnya coffee shop membuka lapangan pekerjaan bagi barista, pramusaji, kasir, hingga tenaga operasional.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), lebih dari 90 persen produksi kopi nasional dihasilkan dari sekitar 1,8 juta petani kecil. Industri ini juga menopang penghidupan lebih dari 1,8 juta keluarga petani dan menyerap sekitar 50 ribu tenaga kerja nonpetani mulai dari pengolah, pengepak hingga barista.

Dilansir Kompas.id, BLK Jasa dan Pariwisata Jawa Tengah pun melihat pertumbuhan industri kopi sebagai peluang kerja yang menjanjikan bagi anak muda. Aditya Prabawa dari tim rekrutmen mengatakan, tingginya jumlah pendaftar menunjukkan besarnya minat generasi muda untuk masuk ke sektor tersebut.

Industri ini menjadi bagian penting dari sektor food and beverage yang terus bertumbuh dalam beberapa tahun terakhir. Namun, Farid mengingatkan bahwa besarnya penyerapan tenaga kerja tidak selalu diiringi dengan kualitas pekerjaan yang memadai.

Sebagian besar pekerja coffee shop masih berada di sektor informal sehingga belum seluruhnya memperoleh kepastian jenjang karier maupun perlindungan kerja yang memadai. Di sisi lain, kemudahan membuka usaha membuat persaingan semakin ketat sehingga keberlangsungan bisnis menjadi tantangan tersendiri.

Meski demikian, Farid optimistis tren minum kopi belum akan surut dalam 5-10 tahun mendatang. Baginya, kopi telah bertransformasi dari sekadar komoditas menjadi budaya. Yang akan terus berubah bukanlah minat masyarakat terhadap kopi, melainkan kemampuan pelaku usaha memahami perilaku konsumen dan memenuhi kebutuhan pasar yang terus berkembang.

 

Penulis: Genis Dwi Gustati

Editor: Al Habiib Josy Asheva

Mimbar

image-featured
31 Juli 2026

Aksi main hakim sendiri kepada pelaku pencurian tengah marak di Indonesia. Islam memiliki pesan penting dalam menjawab persoalan ini.

image-featured
25 Juni 2026

Di tengah euforia Piala Dunia FIFA 2026, praktik judi bola turut menjamur melalui berbagai platform digital maupun cara-cara konvensional. Bagaimana Islam memandang judi bola?

image-featured
12 Juni 2026

Badal umroh menjadi ibadah yang kerap dilakukan untuk mewujudkan bakti kepada orang tua dan memenuhi nazar. Bagaimana pandangan Muhammadiyah mengenai ibadah ini?

UMS Newsletter

Tak ada yang lebih spesial dari membaca berita pilihan redaksi hanya untukmu.
Langganan gratis UMS Newsletter sekarang.

Baca sajian tulisan berkualitas dalam rubrik unggulan ums.ac.id

icon

Penelitian

Artikel ilmiah populer dari penelitian dosen UMS.

icon

Teropong Jagat

Artikel mendalam dilengkapi infografik.

icon

Kiprah

Biografi dosen dan mahasiswa berprestasi di UMS.

icon

Cerita Alumni

Cerita alumni UMS dalam meniti kariernya.