Merebaknya kasus demam berdarah dengue (DBD) akhir-akhir ini menggerakkan dosen Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) untuk memberikan edukasi mengenai penyebab, dampak, serta penanggulangan DBD secara dini agar mengurangi risiko dan menghentikan penyebaran kasus tersebut.

Dosen Kesehatan Masyarakat (Kesmas) Fakultas Ilmu Kesehatan (FIK) UMS, Anisa Catur Wijayanti, S.K.M., M.Epid., mengatakan DBD disebabkan oleh nyamuk Aedes aegypti. Nyamuk tersebut aktif di pagi dan sore hari.

Dosen Kesmas UMS itu membeberkan karakteristik dari nyamuk Aedes aegypti yang memiliki daya jelajah sejauh 100 meter. Jika ditemukan penderita DBD di suatu wilayah, harus segera dilakukan pemantauan atau upaya pencegahan penyakit dalam radius 100 meter dari tempat kejadian.

“Nyamuk tidak ada batasan wilayah. Oleh karena itu, upaya pemantauannya itu spesifik harus sesuai 100 meter. Dalam radius 100 meter dari tempat kejadian itu harus secara intensif dilakukan pemantauan,” ujar Anisa, Rabu (8/5/2024).

Anisa mengatakan, DBD dulunya merupakan penyakit musiman yang muncul pada masa peralihan musim kemarau ke musim penghujan.

“Tetapi karena sekarang kondisi musim itu kan enggak tentu, yang seharusnya musim kemarau tiba-tiba sudah hujan. Yang seharusnya musim hujan tiba-tiba sudah musim kemarau. Ini menyebabkan penyakitnya jadi sepanjang tahun, tetapi tetap ada kecenderungan penyebarannya terjadi saat perubahan musim,” jelas pakar epidemiologi UMS itu.

Untuk menanggulangi dan mencegah penyebaran DBD, Anisa mengimbau agar masyarakat lebih sering menguras bak mandi dan membuang genangan air.  “Hidup atau proses bertelurnya nyamuk Aedes aegypti adalah di genangan air walaupun (genangan air) terlihat bersih,” sambung dia.

“Tempat perlindungan nyamuk itu ada di tempat-tempat yang biasa menjadi tempat penampungan air. Berarti ketika di musim-musim seperti sekarang, tempat penampungan air ini harus segera dibersihkan,” imbau Anisa.


Salah satu upaya yang dapat dilakukan untuk menghentikan penyebaran nyamuk adalah Jumantik atau juru pemantau jentik. Jumantik lazim dilakukan setiap pekan oleh para ibu anggota Pemberdayaan Kesejahteraan Keluarga (PKK) dengan berkeliling kampung. Lewat kegiatan Jumantik, para ibu membuang benda-benda yang berpotensi menimbulkan genangan air tempat hidup jentik nyamuk.

“Contohnya di belakang dispenser, kulkas, di tempat air minum burung peliharaan, pot yang di dalam rumah, juga bak mandi,” kata Anisa. “Ketika masyarakat sudah melakukannya (membuang genangan air), artinya masyarakat sudah ikut membantu mengurangi risiko DBD.”

Upaya pencegahan DBD juga dapat dilakukan oleh mahasiswa UMS sebagai bentuk kepedulian terhadap lingkungan, sekaligus mempraktikkan apa yang sudah dipelajari di dalam kelas. Pada mata kuliah tertentu, mahasiswa melakukan praktik di wilayah sekitar kampus, dari mulai Jumantik sampai dengan fogging atau pengasapan.

“Untuk mempraktekkan ilmu yang sudah dipelajari di kelas sekaligus memberikan edukasi ke masyarakat,” tambahnya.

Anisa melihat salah satu penyebab DBD adalah kurangnya penerapan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS). Anisa dengan tegas menyatakan, walaupun dalam satu kampung hanya dua orang yang tidak menerapkan PHBS, dampaknya juga akan dirasakan oleh seluruh warga.

Tak lupa, Anisa menekankan kepada masyarakat agar tidak hanya mengandalkan fogging. Sebab, fogging hanya membunuh nyamuk dewasa bukan jentik-jentiknya.

“Cara paling efektif untuk menekan jumlah persebaran nyamuk dengan membunuh jentik-jentiknya dengan cara menguras bak mandi dan membuang genangan air,” tegas dia.

Permasalahan kasus kesehatan seperti DBD menjadi perhatian utama prodi Kesmas UMS. Hal tersebut dapat dilihat dengan hadirnya mata kuliah peminatan Epidemiologi yang mempelajari tentang penyakit dan upaya untuk mencegah dan mengendalikan penyakit.

“Selain mempelajari materi sesuai dengan kurikulum, kita juga mempelajari berbagai macam jenis penyakit yang sesuai dengan kondisi yang terjadi pada masyarakat,” pungkas dia.


Penulis: Tio, Yusuf

Editor: Gede

Sumber: News UMS

Tertarik belajar penanganan masalah kesehatan?

Berita Unggulan

image-featured
29 Juli 2026

Rakornas Fosma PTMA 2026 mendorong sinergi kampus Muhammadiyah dan 'Aisyiyah untuk fokus pada pengembangan talenta inovasi berdampak.

sdgs-label
sdgs-badge
image-featured
27 Juli 2026

Prof. Andri Nirwana, S.TH., M.Ag., Ph.D. merintis Magister Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir sebagai langkah awal memperkuat kajian Al-Qur'an di Muhammadiyah.

sdgs-label
sdgs-badge
image-featured
26 Juli 2026

Atlet pencak silat UMS sukses menyabet emas pada gelaran kesepuluh Asian Pencak Silat Championship 2026.

sdgs-label
sdgs-badge

UMS Newsletter

Nothing’s more special than reading curated news just for you.
Subscribe to the UMS Newsletter for free today.

Explore our newsworthy articles on ums.ac.id

icon

Research

Featured articles unpacking research by UMS lecturers.

icon

Global Pulse

In-depth articles featuring infographics.

icon

Academia Star

Profiles of outstanding UMS lecturers and students.

icon

Alumni Stories

Inspiring stories of UMS alumni building their careers.