Tim Electric Car Research Center (ECRC), Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS), baru-baru ini tengah mengembangkan mobil listrik generasi terbaru berbodi karbon. General Manager, Ferdi Fadli (mahasiswa Teknik Industri angkatan 2020) dan Manajer Prototype, Ridwan Aji Ardiansyah (mahasiswa Program Studi Teknik Mesin angkatan 2020) mengatakan bahwa mobil listrik terbaru tersebut nantinya akan dilombakan dalam Kontes Mobil Hemat Energi (KMHE) 2023 Oktober mendatang.
Ridwan menjelaskan bahwa riset akan terus dilakukan sebagai bentuk evaluasi berdasarkan hasil perlombaan sebelumnya. Menurutnya, ada satu hal krusial yang perlu diperbaiki agar dalam kompetisi berikutnya tim dapat mengalami peningkatan.
“Kalau di lomba kemarin kami terkendala pada bobot mobil. Ini yang jadi evaluasi agar kedepannya permasalahan bobot ini dapat diatasi. Kami berupaya semaksimal mungkin dalam riset yang kami lakukan sebelum kontes mobil pada Oktober mendatang,” ujar Ridwan.
Sekilas ECRC
ECRC merupakan komunitas mahasiswa yang berfokus pada riset dan pengembangan kendaraan listrik. ECRC hadir sejak tahun 2017 di bawah naungan Fakultas Teknik UMS. Hasil riset yang dilakukan ECRC adalah mobil listrik yang diberi nama Ababil Evo. Saat ini, Ababil Evo telah memasuki generasi ketiga dan akan terus melakukan penyempurnaan pada generasi mendatang.
Sepanjang kiprahnya, ECRC telah mengikuti berbagai kompetisi di kancah nasional maupun internasional. Salah satu lomba yang baru-baru ini diikuti adalah Shell Eco-Marathon Asia-Pasific and The Middle East 2023 di Sirkuit Mandalika, Nusa Tenggara Barat.
Ridwan mengatakan bahwa timnya berhasil menduduki peringkat dua belas di ajang Shell Eco-Marathon Asia-Pasific and The Middle East 2023. Tak hanya itu, Ridwan mengungkapkan adanya peningkatan yang signifikan dari mobil Ababil Evo III, yakni pada kemampuan akselerasi mobil tersebut.
“Di kompetisi itu, kami berhasil meningkatkan kemampuan akselerasi Ababil Evo dari yang sebelumnya 90 km/kWh menjadi 240 km/kWh,” jelas mahasiswa Teknik Mesin itu.
Mobil Generasi Terbaru
Jelang Kontes Mobil Hemat Energi (KMHE) 2023, ECRC UMS tengah mempersiapkan mobil dengan peningkatan kemampuan yang lebih baik dari kompetisi sebelumnya. Ridwan mengatakan jika fokus perbaikan kali ini ada pada bobot mobil Ababil Evo agar menjadi lebih ringan. Dia dan tim menargetkan bobot mobil dapat turun hingga 30 kg dari yang sebelumnya di kisaran 60 kg.
“Kita evaluasi dari lomba kemarin, rata-rata tim dari universitas lain mampu menghasilkan mobil berbobot 30-40 kg. Sedangkan mobil kami (Ababil Evo) baru mampu di angka 60 kg,” imbuh Ridwan.
Salah satu strategi untuk mencapai target tersebut adalah dengan mengganti bahan bodi mobil Ababil Evo. Ridwan mengungkapkan timnya saat ini akan mengembangkan mobil dengan bodi berbahan karbon. Menurutnya, penggantian bahan bodi tersebut dapat menurunkan bobot mobil hingga 50 persen.
“Sebelumnya kami menggunakan fiberglass. Rencananya kami akan ganti dengan bahan karbon sehingga bobotnya lebih ringan. Kami mau mengejar target bobot mobil, tentunya tanpa mengesampingkan sisi electrical-nya. Target bobotnya bisa turun sampai di angka 30-35 kg,” jelas Ridwan.
Tak hanya dari sisi bodi mobil, sisi electrical juga menjadi perhatian utama dari Tim ECRC. Baterai yang akan digunakan dalam KMHE 2023 masih sama dengan baterai yang digunakan dalam kompetisi sebelumnya. Menurut Ridwan, hal ini dikarenakan performa baterai tersebut sudah jauh lebih baik dibandingkan baterai generasi awal.
Baterai yang akan digunakan mempunyai spesifikasi bertegangan 48 V dengan kapasitas 17.5 Ah yang setara dengan 840 Wh. Ridwan menambahkan, mobil ini mempunyai beban motor sebesar 350 W. Sehingga, dengan kapasitas baterai yang ada, baterai mobil tersebut mampu bertahan 1.92 jam.
“Kami dapat memperkirakan bahwa mobil listrik dengan baterai 48 V dengan kapasitas 17.5 Ah dan motor 350 W dapat menempuh jarak sekitar 80 km, dan sekali pengisian daya bisa digunakan hingga enam kali percobaan atau 18 putaran,” papar Ridwan.
Dengan segala pembaruan yang telah dilakukan, Ridwan mantap menargetkan kecepatan hingga 500 km/kWh. Meskipun demikian, dirinya tidak memungkiri jika ada faktor lain di luar kemampuan mobil yang dapat mempengaruhi target kecepatan tersebut.
“Faktor aspal itu punya pengaruh buat mobilnya. Kalau treknya seperti Sirkuit Mandalika itu sudah standarnya Moto GP, jadi aspalnya bisa mempengaruhi efisiensi kendaraannya,” kata Ridwan.
Harapan dari Tim ECRC
Ferdi mengungkapkan bahwa ECRC mendapatkan dukungan, baik dari fakultas maupun dari universitas. Tak hanya dukungan dana, perwakilan Tim ECRC juga diberangkatkan ke Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) untuk studi banding.
“Saya dan beberapa teman ECRC akan studi banding ke UMM. Mengingat pada beberapa kompetisi nasional bahkan internasional, UMM sudah mengembangkan mobil hemat energi dengan berbodi karbon. Alhamdulillah, kami dapat kesempatan bagus dari universitas untuk belajar ke UMM,” ungkap mahasiswa Teknik Industri itu.
Lebih lanjut, Ferdi dan Ridwan berharap jika perbaikan Ababil Evo ini mampu membawa tim masuk peringkat tiga besar di KMHE 2023.
“Kami mengupayakan dan bersikeras agar Tim ECRC yang diberangkatkan ke kompetisi bulan Oktober nanti dapat membawa pulang prestasi tiga besar. Dengan segala evaluasi yang sedang tim benahi, semoga hasilnya juga baik,” pungkas Ferdi dengan optimis.
Penulis: Gede Arga Adrian
Editor: Genis Dwi Gustati
Berita Unggulan
UMS Newsletter
Nothing’s more special than reading curated news just for you.
Subscribe to the UMS Newsletter for free today.







