Keterbatasan penglihatan tidak menjadi penghalang bagi Zulfikar Setyo Priyambudi (26), alumni Pendidikan Teknik Informatika (PTI) Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS), untuk menapaki jalan sebagai pendidik sekaligus penggerak literasi kecerdasan buatan (AI) di sekolah. Lulusan yang akrab disapa Zul itu kini mengajar mata pelajaran Informatika di SMA Laboratorium Universitas PGRI Semarang (UPGRIS) sambil terus mengembangkan keahliannya di bidang teknologi.
Sejak lahir, Zul didiagnosis menderita nistagmus, gangguan penglihatan yang membuat objek di matanya terlihat bergerak sendiri. Kondisi itu membuatnya kesulitan melihat dengan fokus, bahkan tulisan di papan tulis sulit terbaca meski duduk di bangku paling depan.
“Saya tidak mampu melihat objek secara jelas, bahkan dengan kacamata. Sekarang di usia 26, naik motor malam saja sudah tidak bisa karena penglihatan menurun,” ungkap Zul secara daring, Jumat (22/8/2025).
Namun, keterbatasan tersebut tidak membuatnya menyerah. Sejak kecil, ia justru sudah tertarik pada dunia komputer dan gemar berbagi ilmu dengan teman-temannya. Saat menempuh pendidikan di SMKN 2 Semarang jurusan Rekayasa Perangkat Lunak, ia semakin yakin bahwa dirinya tidak bisa selamanya menjadi software engineer karena kondisi fisik.
Minat mengajar yang sudah tumbuh sejak SD akhirnya membawanya memilih PTI UMS. “Saya mantap memilih PTI, karena ingin belajar pedagogik dan menjadi guru yang paham teknologi,” kata laki-laki kelahiran Semarang itu.
Selepas lulus, Zul sempat berkarier sebagai Junior AI Engineer di Indonesia AI. Pengalaman praktis itu diyakininya penting sebelum benar-benar terjun ke dunia pendidikan.
Kini sulung dua bersaudara itu fokus mengajar sekaligus memperluas wawasan dengan mengikuti berbagai pelatihan, salah satunya program Laskar AI yang digelar Dicoding. Program ini mempertemukannya dengan instruktur profesional, materi berbasis daring, serta diskusi sinkron melalui Zoom.

Zul (baju coklat tengah) bersama siswa didiknya di SMA Laboratorium Universitas PGRI Semarang. Dok.Pribadi
“Di Laskar AI saya belajar mulai dari dasar AI sampai membangun sistem machine learning. Selain itu ada juga pembelajaran soft skill, seperti manajemen waktu dan public speaking,” jelas dia. Ia menilai pembekalan tersebut bukan hanya memperkuat kemampuan teknis, melainkan juga membentuk dirinya lebih terarah dalam bekerja.
Ilmu yang didapat tak hanya berhenti pada dirinya. Zul kini sudah menyiapkan kurikulum AI untuk siswa kelas 12 di sekolahnya.
Materi tersebut mencakup dasar-dasar analisis data, pemrograman, hingga penerapan sederhana kecerdasan buatan dalam konteks pendidikan. “Saya ingin siswa tidak hanya menjadi pengguna, tetapi juga pencipta teknologi. AI bisa jadi alat penting untuk pembelajaran yang lebih adaptif,” ujar Zul mantap.
Zul juga tengah mengembangkan proyek pembelajaran berbasis data untuk sekolah. Ia mencontohkan pemanfaatan data siswa, mulai dari kehadiran, nilai, hingga latar belakang keluarga agar guru dapat mengambil keputusan lebih tepat sasaran. Menurutnya, guru tidak cukup hanya sebagai pengajar, melainkan juga sebagai analis yang mampu membaca kebutuhan siswa secara personal.
Ke depan, Zul berharap kiprahnya sebagai pendidik dapat membawa perubahan nyata, khususnya dalam menjembatani dunia teknologi dan pendidikan. Dengan tekad kuat dan semangat berbagi, Zul ingin meyakinkan generasi muda bahwa keterbatasan bukanlah alasan untuk berhenti, melainkan pijakan untuk melaju lebih jauh.
Penulis: Genis Dwi Gustati
Editor: Al Habiib Josy Asheva
Berita Unggulan
UMS Newsletter
Tak ada yang lebih spesial dari membaca berita pilihan redaksi hanya untukmu.
Langganan gratis UMS Newsletter sekarang.







