Eropa terkenal dengan sejarah panjang dalam mengembangkan arsitektur klasik yang khas. Mulai dari gaya klasik, gotik, tudor, renaisans, sampai art nouveau masih kokoh berdiri di seantero Eropa. Inilah yang menarik minat Nisrina Dayita Anggoro untuk mendalami ilmu arsitektur di Benua Biru.

Perempuan yang akrab disapa Nisrina ini adalah alumni Arsitektur Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS). Ia tengah melanjutkan studi magisternya di program Architecture for Society of Knowledge (ASK) di Warsaw University of Technology (WUT), Polandia. ASK adalah program studi internasional yang menekankan integrasi antara teknologi digital dan desain arsitektur kontekstual.

Hasrat untuk memperluas wawasan arsitektur dunia telah tertanam dalam benak Nisrina usai lulus pada 2021. Apalagi ia berhasil meraih beasiswa bergengsi Stefan Banach Scholarship yang membuka jalan meraih impiannya.

Nisrina melihat Eropa sebagai peradaban yang memiliki sejarah panjang dan transformasi arsitektur yang kompleks. Negara tujuan Nisrina, Polandia, memiliki rekam jejak dalam merekonstruksi kota Warsawa setelah Perang Dunia II. “Rekonstruksi tersebut berhasil menjaga identitas sejarahnya secara sistematis,” jelas Nisrina, Senin (14/7/2025). 

Orang bilang seribu jalan ke Roma dan satu jalan ke surga. Pun bagi Nisrina yang melihat banyak jalan untuk belajar ke Polandia. Namun, setiap jalan yang ia lalui bukan tanpa perjuangan. 


Nisrina (dua dari kiri) tengah mengikuti sesi kelas di Warsaw University of Technology (WUT), Polandia. Dok.Pribadi

Selama mengenyam studi sarjana di UMS, Nisrina berkesempatan menjadi asisten dosen dan terlibat dalam sejumlah penelitian. “Itu menjadi bekal penting bagi saya sebelum bekerja di konsultan arsitektur di Jakarta Selatan selama dua tahun,” tuturnya.

Pada 2023, Nisrina menjajal peruntungan dengan mendaftar beasiswa bergengsi Stefan Banach Scholarship. Ia pun berhasil lolos dan membidik program ASK di WUT, Polandia. 

“Menantang” menjadi kata yang Nisrina gunakan untuk menggambarkan program ASK di WUT. Mahasiswa dituntut untuk kritis terhadap konteks lokal dan global. Juga mengeksplorasi teori serta teknologi baru. 

“Program ASK membuka perspektif baru. Kuliahnya lintas disiplin, bahkan dosen tamunya berasal dari berbagai universitas di Eropa,” imbuh dia.

Meski sempat mengalami kesulitan adaptasi, terutama karena perbedaan teknologi dan sistem pembelajaran, Nisrina merasa terbantu oleh lingkungan akademik yang suportif. Sebut saja perangkat lunak BIM dan simulasi parametrik yang sudah menjadi standar di Polandia.

“Untungnya dosen dan mahasiswa di sini sangat terbuka untuk berdiskusi, bahkan di luar jam kuliah,” tambahnya.

Salah satu pengalaman yang paling berkesan bagi Nisrina adalah mata kuliah Design Studio dan Experimental Design. Mata kuliah ini menjadi inti kurikulum dan memiliki bobot sistem transfer dan akumulasi kredit Eropa (European credit transfer and accumulation/ECTS) tertinggi. Ia juga mengeksplorasi pendekatan arsitektur digital seperti digital fabrication, generative design, serta integrasi AI-assisted tools dalam proses desain.


Salah satu karya Nisrina yang dihasilkan selama studi S2 di Polandia. Dok.Pribadi

Nisrina menekankan pentingnya nilai lintas budaya dalam praktik arsitektur. Ia memandang arsitektur bukan sekadar bentuk, tetapi representasi nilai, identitas, dan cara hidup masyarakat. “Seorang arsitek harus bisa menjembatani perbedaan budaya dengan desain yang inklusif dan kontekstual,” kata Alumni UMS itu.

Nisrina mengamini jika sistem pembelajaran di Polandia sangat berbeda dari yang ia alami di UMS. Perbedaan inilah yang membentuk pola pikir Nisrina yang menanamkan pentingnya pondasi berpikir kontekstual dan sensitivitas sosial-budaya. 

Dalam beberapa kesempatan akademis, Nisrina juga memperkenalkan arsitektur dan budaya Indonesia kepada komunitas internasional. Bahkan, Nisrina mengangkat pemindahan ibu kota Indonesia menjadi topik tesisnya. 

“Ternyata banyak yang tertarik setelah mengetahui kompleksitas sosial dan geografis Indonesia sebagai negara kepulauan,” ungkapnya.

Menutup wawancaranya, Nisrina berpesan kepada mahasiswa UMS yang bercita-cita melanjutkan studi ke luar negeri untuk melakukan persiapan sedini mungkin. Tidak boleh ada kata ragu untuk mendaftar beasiswa internasional. 

“Pengalaman ini sangat berharga, tidak hanya untuk karier, tapi juga membentuk cara pandang sebagai arsitek global,” ujarnya menyarankan.

Nisrina berharap mahasiswa Arsitektur UMS semakin aktif mengembangkan budaya diskusi kritis, integrasi teknologi digital, dan kolaborasi lintas disiplin dalam merespons tantangan arsitektur masa depan.

“UMS adalah tempat saya bertumbuh. Di sanalah saya belajar pentingnya nilai kontekstual dalam desain dan dari sana pula saya memulai perjalanan menuju arsitektur global,” pungkasnya.


Penulis: Fika Annisa Solihah

Editor: Gede Arga Adrian

Cerita Alumni

image-featured
4 Juni 2026

Dharu Rendro Anom Prabowo menghabiskan hampir satu dekade hidupnya di dunia tambang. Kini mengawal pengoperasian sistem kelistrikan dan instrumentasi proyek tambang emas Gorontalo.

sdgs-label
sdgs-badge
image-featured
22 April 2026

Asri Hartati memulai konten daily vlog berbahasa Inggris dari keisengan semata. Viral ke penjuru Indonesia dan masuk televisi nasional.

sdgs-label
sdgs-badge
image-featured
28 Februari 2026

Singgih Eko Yudistiro berkecimpung di bidang pemasaran komunikasi lebih dari satu dekade. Kini sibuk mengakselerasi laju PT Laksana Bus Manufaktur di pasar domestik dan mancanegara.

UMS Newsletter

Tak ada yang lebih spesial dari membaca berita pilihan redaksi hanya untukmu.
Langganan gratis UMS Newsletter sekarang.

Baca sajian tulisan berkualitas dalam rubrik unggulan ums.ac.id

icon

Penelitian

Artikel ilmiah populer dari penelitian dosen UMS.

icon

Teropong Jagat

Artikel mendalam dilengkapi infografik.

icon

Kiprah

Biografi dosen dan mahasiswa berprestasi di UMS.

icon

Cerita Alumni

Cerita alumni UMS dalam meniti kariernya.