Karakter Kim Sa-Bu alias Master Kim dalam serial drama asal Korea Selatan bertajuk Dr. Romantic dikenal sebagai sosok yang jenius. Julukan “hand of god” pun disematkan pada karakter ini. Dokter karismatik ini rupanya menjadi teladan bagi rekan sejawatnya.
Salah satu kutipannya yang cukup terkenal di kalangan penggemar serial Dr. Romantic, adalah “Di saat kamu menyerah, kamu akan mulai mencari-cari alasan. Di saat kamu memutuskan untuk bertahan, kamu akan mulai menemukan jalan keluar.”
Kutipan inilah yang menginspirasi Nadia Nur Imani sewaktu menempuh studi Keperawatan di Universitas Muhammadiyah Surakarta. Dara kelahiran Lampung, 11 Maret 2000, ini meyakini keputusan belajar Keperawatan akan membuka jalan yang lebih baik di kemudian hari.
Alasannya memilih Keperawatan pun terbilang sederhana: mewujudkan mimpi ibundanya. Misi yang mungkin dikejar pula oleh sebagian generasi muda sebayanya.
Nadia menuturkan ibunya sempat berkeinginan mendalami ilmu keperawatan. Namun sayang, ibunya terpaksa mengubur keinginan itu. “Makanya saya mau melanjutkan keinginan ibu,” ujarnya saat dihubungi akhir Juni lalu.
Penggemar serial drama Korea Selatan alias drakor ini rupanya menaruh minat pada keperawatan gawat darurat. Rumpun keilmuan ini, menurutnya, sangat menantang dan menggugah semangatnya. Ia berkelakar minatnya itu banyak terinspirasi dari sejumlah tajuk drakor bertema medis, seperti Dr. Romantic dan Trauma Code.
Menurut Nadia, setiap kasus gawat darurat membutuhkan langkah taktis agar kondisi pasien lebih stabil sebelum menjalani penanganan medis lanjutan oleh dokter. “Kadang kami balapannya sama malaikat Izrail,” seloroh Nadia.
Pengalaman merawat di instalasi gawat darurat rumah sakit pernah ia rasakan sewaktu belajar di Program Studi Profesi Ners UMS. Nadia berkesempatan praktik langsung di IGD Rumah Sakit Umum Pusat Dr. Soeradji Tirtonegoro (RSST) Klaten, Jawa Tengah.
Malam sebelum Hari Raya Iduladha, Nadia masih sempat menikmati tidur nyenyak. Manalah ia tahu bahwa besok paginya akan menangani sederet kasus dalam waktu yang berdekatan.
Seusai salat Iduladha, seorang pasien datang ke IGD RSST Klaten. Nadia bercerita pasien itu datang dengan keluhan sesak napas akibat tersedak daging berukuran besar. Nadia lantas memanggil dokter jaga untuk penanganan lanjutan.
Belum lama berselang datang pasien lain. Kasusnya beragam, mulai dari ketendang sapi sampai patah kaki, jari terpotong golok, hingga tertabrak sapi kurban saat mengendarai motor.
Nadia masih mengingat betapa sibuknya perawat dan dokter jaga pagi itu. “Ada saja pasiennya,” ujar dia.
Sekelumit pengalaman di hari itu menjadi momen paling berkesan selama belajar profesi ners. Dirinya pun berhasil menamatkan studi profesinya pada Desember 2023 lalu.
Panggilan dari Jazirah Arab
Masih segar dalam ingatan Nadia saat mendapatkan informasi mengenai agensi penyaluran tenaga kerja saat wisuda profesi. Agensi tersebut, katanya, memperkenalkan sejumlah peluang kerja dan membuka kesempatan bagi fresh graduate atau lulusan baru untuk berkarier di luar negeri.
Lantaran peluang tak datang dua kali, ia pun berpikir, “Kayaknya aku harus ke luar negeri dulu deh,” batinnya.
Proses panjang seleksi pun ia lalui sampai ke tahap wawancara user dari Rumah Sakit Dokter Sulaiman Al-Habib di Arab Saudi. Pihak rumah sakit menanyakan, “Kamu siap berangkat?”
Nadia pun tegas menjawab, “Saya siap.”
Dewi Fortuna rupanya tak melepas niat baik Nadia untuk menjadi perawat dan mewujudkan asa ibundanya. Ia berhasil mendapatkan kontrak kerja selama dua tahun pada Juni 2024 silam di RS Dokter Sulaiman Al-Habib di Riyadh, Arab Saudi.
Mulanya, kedua orang tua Nadia sempat keberatan dengan kabar itu. “Kok jauh sekali sampai ke Arab,” kata Nadia mengulangi protes sang ibu. Namun, seorang Nadia tidak akan menyerah begitu saja. Kegigihannya memohon restu rupanya mampu meluluhkan hati kedua orang tuanya.
Ia pun tak berangkat seorang diri. Setidaknya ada enam alumni Keperawatan UMS yang mendapatkan kontrak kerja di sejumlah rumah sakit di Arab Saudi, termasuk Nadia. Lima temannya yang lain adalah Sri Puji Lestari, Sakanti Maulida Firjatullah, Fatma Dwi, Derel Azizah, dan Sofi Aulianisa.

Kesabaran Berbuah Berkah
Pepatah lama mengatakan lain ladang lain belalang dan lain lubuk lain ikannya. Peribahasa ini terasa relevan dengan kondisi yang Nadia alami sewaktu menginjakkan kaki ke Negeri Penjaga Dua Kota Suci.
Perbedaan karakter adalah hal pertama yang membutuhkan adaptasi cepat. Nadia berkisah, karakter pasien di Arab Saudi seringkali tidak sabar, kerap melayangkan protes keras, bahkan sampai beradu mulut jika harus mengantre.
Soal bahasa, Nadia cukup beruntung sebab bahasa wajib selama bekerja adalah bahasa Inggris. Bahasa Indonesia pun masih sering ia gunakan sebab banyak diaspora Indonesia yang bekerja di Arab Saudi. “Kalau bahasa Arab itu menyesuaikan sih, kayak nanti lama-kelamaan juga pasti bisa kayak dasar-dasarnya,” ungkap dia.
Fasilitas medis di RS Dokter Sulaiman Al-Habib termasuk lengkap dan maju. Sistem kerjanya pun sangat teratur dan disiplin. Nadia tidak mengenal sistem operan jaga yang berlarut-larut seperti di sejumlah fasilitas kesehatan di Indonesia. Kelebihan jam kerja akan mendapatkan kompensasi lembur yang layak.
Nadia juga dituntut menjadi perawat mandiri. Artinya, ia harus mampu melakukan tindakan keperawatan dasar tanpa harus bergantung pada instruksi dokter.
Dua tahun hidup di Riyadh membuat Nadia mulai merasa nyaman hidup di Arab Saudi. Apalagi ia berkesempatan melaksanakan umrah di Kota Makkah. “Ini privilese banget buat saya,” katanya.
Meski terpaut jarak ribuan kilometer dari kampung halamannya, Nadia tak lupa untuk melepas rindu dengan orang tuanya melalui panggilan video. Ia pun telah berencana mengambil cuti pulang kampung November tahun lalu.
Namun, pihak rumah sakit mensyaratkan Nadia agar memiliki lisensi keperawatan terlebih dahulu sebelum pulang. Sebagai gambaran, lisensi itu sama dengan surat tanda registrasi di Indonesia. Nadia mengatakan, “Mungkin September nanti akan (cuti) pulang kampung.”
Bulan Juni ini menandai genap dua tahun Nadia berada di Arab Saudi. Kabar teranyar, dirinya kembali mendapatkan kepercayaan untuk bekerja di RS Dokter Sulaiman Al-Habib sampai dua tahun ke depan. “Alhamdulillah,” tandas Nadia.
Penulis: Gede Arga Adrian
Editor: Al Habiib Josy Asheva
Desainer: Muhammad Nur Haqqi
Kiprah
UMS Newsletter
Tak ada yang lebih spesial dari membaca berita pilihan redaksi hanya untukmu.
Langganan gratis UMS Newsletter sekarang.







