Perbedaan kemampuan setiap generasi dalam menangkap masalah yang tengah berkembang seharusnya mendorong terciptanya inovasi yang unggul. Itulah yang disampaikan dalam Ultimate Talk Series 3, sebuah acara seminar yang berkolaborasi dengan Ikatan Keluarga Alumni (IKA) Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS).
Digelar di Auditorium Mohammad Djazman Kampus I UMS, Senin (9/12/2024), Ultimate Talk Series 3 mengangkat tema “Empowering Workers, Protecting Futures: Gender Equality and Child Protection in Global Labor Markets”. Narasumber yang hadir dalam acara tersebut, antara lain Ketua Dewan Pengawas Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan Prof. Dr. Abdul Kadir, Ph.D., sp.THT-KL(K)., M.A.R.S.; Ketua Umum Asosiasi Bisnis Alih Daya Indonesia (ABADI) Mira Sonia; Wakil Ketua ABADI Yoris Rusamsi; Pengurus Bidang Hubungan Antar Lembaga ABADI Eko Wasono; Dewan Pengawas BPJS Subchan Gatot dan Iftida Yasar.

Suasana Ultimate Talk Series 3 di Auditorium Mohammad Djazman Kampus I UMS, Senin (9/12/2024). Dok.Humas UMS
Dalam pemaparannya, Ketua IKA UMS sekaligus Dewan Pengawas Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Ketenagakerjaan Dr. M. Aditya Warman, S.Psi., MBA., mengatakan perbedaan antara generasi Z atau gen Z dengan generasi sebelumnya terletak pada kemampuan otak dalam memproses suatu masalah.
“Gen Z itu mempunyai kecepatan transfer korteks ke hipotalamus lebih cepat berkali-kali daripada kelompok yang merupakan gen X veteran atau baby boomer,” ujar Aditya.
Aditya menyatakan problem statement sebagai bahan baku untuk menciptakan solusi. Pola pikir generasi saat ini harus menjadikan solusi sebagai suatu income, profit, hingga sebuah nilai atau value.
Ketua IKA UMS itu mencontohkan bagaimana CEO Gojek Nadiem Makarim yang melihat permasalahan tukang ojek dan kebutuhan penggunanya. Nadiem lalu membuat toolset bernama Gojek. Nadiem memang tidak menyediakan SIM, motor, dan jaket, tetapi dia bisa menikmati 30 persen lebih uang hasil transaksi Gojek.
Menurut Aditya, kehadiran kolaborasi global job market membuat generasi muda harus memanfaatkan ruang ekosistem di dalam kampus. Sejauh ini, kampus-kampus telah membangun soft skill mahasiswanya termasuk skill set dan kemampuan mencari tool set.
“Karena kita hari ini tidak pernah menggunakan ruang ekosistem kampus untuk mencari tahu problem-problem besar apa yang ada di luar sana. Masuk ke kampus, dibangun soft skill, dibangun skill set, cari toolset-nya, ubah mindset-nya menjadi mentalset UMS, maka UMS akan mendunia karena inovasinya,” tuturnya dengan penuh semangat.

Rektor UMS Prof. Dr. Sofyan Anif, M.Si. saat memaparkan materi di acara Ultimate Talk Series 3. Dok.Humas UMS
Rektor UMS Prof. Dr. Sofyan Anif, M.Si. dalam sambutannya menyampaikan kegiatan seperti ini sangat sesuai dengan visi misi dalam setiap pidato Presiden Prabowo Subianto. Sofyan berujar, Prabowo selalu menyebut setidaknya kata-kata ketahanan pangan, makan gratis bergizi, dan entrepreneurship.
“Kegiatan ini tentu sangat relevan dengan kebutuhan bangsa. Karena visi presiden itu, 10 tahun ke depan pasti pelakunya adalah adik-adik,” ujar Sofyan.
Dia juga mengapresiasi alumni yang telah menaruh perhatian pada acara tersebut. Sebab, acara seperti ini menjadi bekal mahasiswa untuk berkompetisi di masa mendatang. Sofyan berkata persaingan kerja tidak akan lagi ditentukan oleh indeks prestasi, melainkan soft skill.
“Sukses di bidang entrepreneur atau bidang apapun itu yang pertama adalah soft skill. Maka sebetulnya pada hakikatnya kegiatan yang telah didesain adalah untuk meningkatkan soft skill untuk kalian semua,” tuturnya.
Menurut Rektor Sofyan, sejak lima tahun lalu UMS telah menyadari pentingnya mengajarkan soft skill, khususnya pada bidang entrepreneur. Kesadaran itu muncul manakala UMS baru saja meraih predikat unggul.
Capaian tersebut tak lantas membuat Sofyan berpuas diri. Terlebih dia mengaku miris manakala mendengar cerita alumni yang belum mendapat pekerjaan. Dengan keterlibatan alumni pada acara serupa, dirinya berharap dapat memperpendek masa tunggu alumni sejak lulus hingga mendapatkan pekerjaan.
“Syukur begitu lulus sudah dapat pekerjaan. Betapa senangnya seorang pimpinan ketika para alumni itu bisa menunjukkan seperti itu,” kata Rektor Sofyan.
Sofyan berpendapat tekad IKA UMS menjadikan mahasiswa sebagai future leaders merupakan kesempatan yang baik. Sebab, keterampilan untuk memimpin dalam perkembangan peradaban sangat dibutuhkan di bidang apapun. Kegiatan ini menjadi kolaborasi antara kampus, IKA, calon alumni, untuk membangun talenta unggul.
Pada kegiatan kolaborasi ini, dilakukan juga penandatanganan nota kesepahaman (memorandum of understanding/MoU) antara Kamar Dagang dan Industri, ABADI, IKA UMS, dan UMS. Penandatanganan MoU bertujuan agar calon alumni mempunyai lembaga hub internasional di beberapa negara yang membutuhkan tenaga-tenaga terampil.
Penulis: Maysali
Editor: Gede
Cerita Alumni
UMS Newsletter
Tak ada yang lebih spesial dari membaca berita pilihan redaksi hanya untukmu.
Langganan gratis UMS Newsletter sekarang.







