Kembali Berwirausaha
Gigih Berusaha
Peluang Emas Industri Farmasi

Jiwa wirausaha telah terpatri dalam diri Bayu Setiadi sejak duduk di bangku kuliah semester 5. Bermodalkan ilmu yang dipelajari di Program Studi Farmasi Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS), Bayu memberanikan diri untuk memproduksi sejumlah produk pembersih, seperti sabun cuci piring, sabun cuci motor, hingga pembersih lantai. 

Dia menjadikan kamar kosnya yang berukuran 3 kali 3 meter sebagai tempat produksi. Bayu tidak sendiri dalam berdagang. Ia dibantu kekasihnya yang kini menjadi pasangan hidupnya. Keduanya pun berbagi tugas. Bayu bertugas memproduksi dan memasarkan produk, sedangkan kekasihnya bertugas mengumpulkan data mengenai komposisi bahan untuk produksi.

Kehidupan mahasiswa semester tua membuat Bayu memiliki banyak waktu luang. Sepulang kuliah, ia mulai mengedarkan barang dagangannya ke sejumlah bengkel sambil mengendarai sepeda motor dengan bronjong di belakangnya. Dirinya membanderol produknya seharga Rp10.000 per botol. 

“Pulang kuliah kalau ada stok banyak, ya, saya keliling ke bengkel-bengkel di Solo Raya, Jogja, Semarang, sampai Pekalongan,” ungkap Bayu, Rabu (20/11/2024). 


Bayu Setiadi. Humas UMS/Imam Safii

Usaha yang digeluti mahasiswa Farmasi angkatan 2003 itu berhasil menarik minat beberapa mahasiswa dari prodi Geografi dan Ekonomi untuk menjadi reseller produk kreasinya. Bayu mengatakan, para reseller akan meminta komisi sebesar Rp1.000 sampai Rp1.500 per botol. 

Dirinya menekankan bahwa menjadi pengusaha harus percaya diri. Dia mengaku sempat malu kala memulai bisnisnya. Seiring waktu, teman kuliahnya malah iri melihat Bayu yang sudah berpenghasilan. Omzet yang ia hasilkan saat itu berkisar antara Rp3 juta hingga Rp4,5 juta. Terbilang besar untuk ukuran tahun 2005-an. “Padahal uang kiriman ibu saat itu hanya Rp500 ribu,” kenangnya.

Menjadi seorang wirausahawan menuntut Bayu untuk pandai melihat peluang. Misalnya pada 2006 saat Bayu mempromosikan produknya pada perlombaan kreasi sepeda motor yang digelar di Stadion Manahan, Surakarta, Jawa Tengah. Hasilnya, dagangannya laris manis dan berhasil menarik minat Tabloid Otosport untuk meliput produk kreasi Bayu. 

Berkat liputan tersebut, Bayu mendapat tawaran kerja sama dari beberapa perusahaan besar di Bandung dan Semarang. Namun, tawaran tersebut urung dilakukan, sebab Bayu muda belum memahami konsep kerja bisnis manufaktur. “Tahunya hanya bikin dan jual,” selorohnya.

Namun, usahanya harus terhenti saat ia lulus kuliah. Sebelum melanjutkan kariernya, Bayu melanjutkan studi Profesi Apoteker di UMS. Ia lalu memutuskan berkarier di sejumlah perusahaan farmasi terkemuka. 

Bayu mengawali kariernya di PT Ferron Par Pharmaceuticals sebagai Executive Marketing pada 2008. Tugasnya, mengelola bidang pemasaran di area Solo Raya. 

Karier terakhir sebagai pegawai farmasi adalah Sales Manager di PT Mega Medica Pharmaceuticals selama 2012 hingga 2015. Kali ini cakupan area kerjanya berada di tingkat nasional. “Memang dimulai bertahap dari Solo Raya dulu, baru lanjut ke nasional di pusat (Jakarta),” terangnya.

Kembali Berwirausaha

Genap 7 tahun Bayu meniti karier di berbagai perusahaan farmasi terkemuka. Jiwa pebisnis tak lantas hilang dari benaknya. Medio 2015, Bayu mendirikan PT Sarana Medika Langgeng yang berfokus pada distributor alat kesehatan. Sayangnya, perusahaan tersebut bangkrut lantaran tertipu rekan bisnisnya. 

Ia tak menyerah pada keadaan. Pada 2018, Bayu memulai kembali bisnisnya. Kali ini ia membangun perusahaan produsen alat kesehatan dan antiseptik bernama PT Likuid Pharmalab Indonesia. Dia memulai bisnisnya dari rumah kontrakan seluas 100 meter persegi dan empat orang karyawan. Barang pertama yang diproduksi adalah alkohol 70 persen dan rivanol.

Modal PT Likuid Pharmalab Indonesia diperoleh dari hasil penjualan rumah milik Bayu. Berbeda dengan modal usaha perusahaan sebelumnya yang diperoleh dari pinjaman bank. “Pokoknya saya tidak mau hutang ke bank. Kalau punya uang, ya, beli cash,” tegas Bayu. 


Potret Bayu di kantor pusat Likuid Pharmalab Indonesia, Baki, Sukoharjo, Jawa Tengah, Rabu (20/11/2024). Humas UMS/Imam Safii

Memasuki 2020, pandemi Covid-19 ternyata membawa dampak tersendiri bagi Bayu dan usahanya. Sebab, permintaan alat kesehatan naik drastis di pasaran. Dia pun menggenjot produksinya dan merekrut seratusan karyawan baru untuk bekerja di pabriknya.

Alih-alih meraup cuan maksimal dengan menaikkan harga barang berkali-kali lipat, Bayu mengaku tetap menjual produknya dengan harga normal. Baginya, tidak etis jika meraup untung di saat masyarakat tengah berjuang memutus rantai penyebaran Covid-19.

Seiring waktu, produk yang dihasilkan kian bertambah. Likuid Pharmalab menghasilkan varian produk, seperti pembersih luka diabetes, cairan desinfektan, kain kasa, alat bantu berjalan atau kruk, sabun cuci tangan, obat vitalitas pria, hingga termometer. Bayu menaungi sejumlah jenama yang kerap ditemukan di berbagai fasilitas kesehatan di seluruh Indonesia, meliputi BayMedika, Medika, Fresmed, Sasklin, Medika Care, hingga BayMan. Bayu mengatakan, perusahaan yang ia dirikan itu berhasil mendapat omzet senilai Rp200 miliar per tahun.

Kerja keras Bayu telah membuahkan hasil. Likuid Pharmalab berhasil membuka pabrik berskala besar di kawasan Baki, Sukoharjo, Jawa Tengah. Pabrik tersebut berfokus pada produksi alat kesehatan, seperti masker, hand sanitizer, alkohol, hingga rivanol.

Bayu juga mendirikan dua pabrik baru, yakni pabrik plastik yang berjarak sekitar 100 meter dari pabrik utamanya dan pabrik besi di daerah Cuplik, Sukoharjo. 

Teranyar, Likuid Pharmalab membuka kantor baru di Shah Alam, Selangor, Malaysia, sebagai upaya membidik pangsa pasar luar negeri. “Kami sudah ekspor produk ke Singapura, Malaysia, Botswana, hingga Rwanda,” terang CEO Likuid Pharmalab itu. 

Komitmennya untuk meningkatkan kualitas produknya terus dilakukan melalui sejumlah sertifikasi, antara lain sertifikasi halal dari Majelis Ulama Indonesia, sertifikasi ISO, hingga sertifikasi dari Kementerian Kesehatan. 

Upaya menghadirkan produk berkualitas membuat Likuid Pharmalab diganjar penghargaan best product dari Indonesia Magazine Award Best Product Awards 2021 untuk dua produk: Medika Antiseptic Handrub dan Baymed. 

Capaian tersebut tak membuat Bayu diam di tempat. Sejumlah target telah disenaraikan. Paling dekat adalah pengembangan produksi latex yang direncanakan dimulai tahun depan. Dia melihat bahan mentah karet yang melimpah di Indonesia. Tahun lalu, Indonesia berhasil menduduki peringkat kedua penghasil karet terbesar di dunia sebesar 2,65 juta ton. “RnD sudah melakukan explore. Market-nya sudah siap,” jelas dia mantap.


Aneka produk alat kesehatan dan antiseptik yang diproduksi Likuid Pharmalab Indonesia. Humas UMS/Imam Safii

Gigih Berusaha

Lahir di Pekalongan, Jawa Tengah, 30 Mei 1981, Bayu Setiadi tumbuh dari keluarga sederhana. Ayahnya adalah broker jual-beli mobil dan ibunya adalah seorang guru sekolah dasar. 

Tak ada yang mengira jika pendiri perusahaan antiseptik dan alat kesehatan itu merupakan lulusan Sekolah Menengah Atas Negeri 1 Kedungwuni, Pekalongan, dari rumpun sosial. Bayu mengaku awalnya menaruh minat pada mata pelajaran sosiologi.

Usai lulus SMA, Bayu sempat melanjutkan kuliah di Jurusan Pendidikan Olahraga Universitas Negeri Semarang. Namun, dia belum mantap dengan pilihannya kala itu. Ia pun memutuskan banting setir dan mendaftar di Farmasi UMS. Alasannya karena melihat peluang menjanjikan dari rumpun studi farmasi.

Keputusannya saat itu terbilang menantang dan berisiko. Sebab, Bayu harus berjuang mempelajari beberapa pengetahuan dasar, mulai dari biologi hingga kimia. Kedua topik tersebut menjadi fondasi awal yang harus dikuasai sebelum mempelajari ilmu farmasi. 

Kegigihan Bayu dalam belajar akhirnya membuahkan hasil saat namanya tercantum sebagai mahasiswa baru Farmasi UMS angkatan 2003. “Alhamdulillah, bisa masuk padahal dulu namanya ada di daftar cadangan,” kenang Bayu. 

Bayu menyadari keputusannya melanjutkan studi di Solo memerlukan biaya besar. Anak tertua dari tiga bersaudara ini berupaya meringankan pengeluaran keluarganya dengan mencari usaha sampingan menjual aneka produk pembersih. “Waktu saya kuliah, adik saya yang pertama juga sedang kuliah. Sedangkan adik saya yang kedua masih SMP,” katanya. 

Berkat kegigihanya semasa kuliah, Bayu menamatkan studinya dan meraih gelar Sarjana Farmasi pada 2007. Dirinya berhasil lulus dengan predikat cumlaude dengan indeks prestasi kumulatif sebesar 3,59. Setelahnya, Bayu melanjutkan studi jenjang Profesi Apoteker di UMS selama satu tahun, sebelum akhirnya meniti karier di sejumlah perusahaan farmasi ternama.

Peluang Emas Industri Farmasi

Sejak SMA, Bayu menyadari bisnis farmasi sangat menjanjikan karena permintaan pasar terhadap produk farmasi tidak akan pernah habis. “Orang itu pasti butuh kesehatan,” kata pria 43 tahun itu.

Pernyataan tersebut bukan isapan jempol semata. Kementerian Kesehatan mencatat Indonesia memiliki potensi pasar kesehatan yang sangat besar, karena belanja sektor kesehatan mencapai Rp560 triliun hingga Rp580 triliun per tahun. Tidak heran jika industri farmasi dan alat kesehatan Indonesia menjadi salah satu yang berkembang pesat di Asia. Industri farmasi Indonesia berhasil memenuhi 90 persen kebutuhan obat-obatan dalam negeri. 

Perkembangan signifikan juga terlihat pada sektor alat kesehatan. Pada 2015, tercatat sebanyak 193 perusahaan memproduksi alat kesehatan di Indonesia. Angka tersebut meningkat menjadi 891 perusahaan pada 2021 atau meningkat 361,66 persen.

Pertumbuhan tersebut selaras dengan peningkatan serapan alat kesehatan dalam negeri (AKD). Penyerapan AKD mencapai 48 persen pada 2024, dibandingkan 12 persen pada 2019. 

Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin dalam Rapat Kerja Nasional Asosiasi Produsen Kesehatan Indonesia (ASPAKI) di Jakarta, Selasa (5/3/2024), mengatakan industri kesehatan dalam negeri telah mengalami peningkatan dan diprediksi akan terus berkembang. Saat ini, beberapa alat kesehatan sudah diproduksi di Indonesia, bahkan sebagian di antaranya telah diekspor ke luar negeri.

“Kalau industri dalam negeri kuat dan kualitasnya bagus, maka target pemerintah untuk mengamankan 50 persen suplai dari kebutuhan dalam negeri bisa tercapai, yang penting kualitasnya bagus,” jelas Menkes, seperti dilansir Sehat Negeriku. 

Akan tetapi, Bayu melihat industri farmasi dan alat kesehatan menghadapi sejumlah tantangan, seperti pengusaha nakal yang menghasilkan barang tidak sesuai standar medis. Tujuannya tak lain menekan harga sehingga laku di pasaran. “Di industri alat kesehatan, tidak ada yang namanya barang murah dengan kualitas bagus,” tuturnya. 

Tantangan juga datang dari kehadiran pemain asing dalam industri farmasi dan alat kesehatan di Indonesia. Pasar kesehatan Indonesia, kata dia, memiliki potensi yang besar sehingga memantik pengusaha alat kesehatan untuk membidik pengguna baru. Persaingan yang semakin ketat membuat lulusan Farmasi harus kreatif dalam mengembangkan dan memanfaatkan ilmunya di dunia kerja. 

“Farmasi itu ilmunya komplet. Anak-anak Farmasi sebenarnya kalau bikin apapun seperti sabun dan obat itu bisa. Tinggal kreativitasnya saja,” kata dia.


Penulis: Gede Arga Adrian

Editor: Al Habiib Josy Asheva

Desainer: Salsabila Kamila Wardah

Ingin membangun jejaring profesional dengan Bayu?

Karya Mahasiswa

image-featured
26 Mei 2026

DentAware karya mahasiswa FKG UMS diperkaya lima fitur skrining berbasis AI. Mendeteksi masalah gigi dan mulut secara cepat dan praktis.

sdgs-label
sdgs-badge
sdgs-badge
image-featured
17 April 2026

Tanaman belukar yang tumbuh liar rupanya dapat digunakan sebagai bahan pewarna alami pada wastra. Idenya lahir dari keprihatinan akan cemaran pewarna tekstil pada lingkungan.

sdgs-label
sdgs-badge
sdgs-badge
sdgs-badge
sdgs-badge
sdgs-badge
image-featured
12 Desember 2025

Degsalture menjadi detergen ramah lingkungan yang ditawarkan mahasiswa UMS. Menggabungkan bahan alami dengan formulasi pembersih yang aman bagi air dan kulit.

sdgs-label
sdgs-badge
sdgs-badge

UMS Newsletter

Tak ada yang lebih spesial dari membaca berita pilihan redaksi hanya untukmu.
Langganan gratis UMS Newsletter sekarang.

Baca sajian tulisan berkualitas dalam rubrik unggulan ums.ac.id

icon

Penelitian

Artikel ilmiah populer dari penelitian dosen UMS.

icon

Teropong Jagat

Artikel mendalam dilengkapi infografik.

icon

Kiprah

Biografi dosen dan mahasiswa berprestasi di UMS.

icon

Cerita Alumni

Cerita alumni UMS dalam meniti kariernya.