Menjadi guru adalah kesempatan sekaligus tantangan untuk memerangi kebodohan. Itulah yang dirasakan oleh Dwi Setyono, seorang guru di SMP Negeri 46 OKU (Ogan Komering Ulu) yang terletak di Provinsi Sumatera Selatan. Kepada kami, ia berbagi pengalamannya menjadi seorang pahlawan tanpa tanda jasa yang kini menjadi pekerjaan yang amat dicintainya.
Berbeda Pilihan dengan Orang Tua
Pak Dwi, begitu biasanya para siswa memanggilnya, merupakan alumni Pendidikan Matematika, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP), Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) tahun 2009. Masih mengenakan batik yang nampaknya merupakan baju mengajar hari ini, Pak Dwi tersenyum ramah menyapa kami melalui pertemuan daring.
"Saya sebelumnya adalah lulusan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) jurusan Teknik Otomotif. Agak jauh memang, tiba-tiba berkuliah di UMS dengan mengambil Progam Studi Pendidikan Matematika. Karena pada awalnya pilihan saya dan orang tua berbeda, dan saat masuk SMK saya hanya menurut karena sudah diberikan ultimatum oleh bapak, "kalau tidak mau masuk SMK, tidak usah sekolah." Meski setengah hati, tapi saya tetap menjalaninya dengan penuh tanggung jawab. Sebagai salah satu bukti saya pernah mewakili sekolah dalam Lomba Kompetensi Siswa (LKS) di tingkat Keresidenan Surakarta," kata pria kelahiran Sragen itu.
Memasuki tahun terakhir di SMK, Dwi sempat mengikuti seleksi yang diselenggarakan Bursa Kerja Khusus (BKK) yang ada di sekolahnya untuk dapat melanjutkan kerja di beberapa perusahaan mitra, yang salah satu tujuannya adalah PT Musashi Auto Parts Indonesia (Astra Group). Kemudian menjelang beberapa minggu sebelum hari kelulusan tiba, Dwi dinyatakan lolos.
“100 lebih peserta dari Teknik Mesin dan Teknik Otomotif yang mendaftar di PT Musashi Auto Parts Indonesia, diambil 19 siswa saja. Bersyukur saya adalah salah satunya. Di sana saya bertanggung jawab sebagai Operator Mesin Produksi dengan gaji yang lebih dari cukup untuk membeli beberapa aset pribadi. Namun lambat laun ketika menjalani kesibukan di dunia otomotif, saya merasa banyak kegundahan.”
Di usianya yang menginjak 19 tahun, Dwi mulai melakukan refleksi dengan banyak membaca buku tentang pengembangan diri, salah satu buku favoritnya berjudul “The Magic Of Thinking Big” karya David J Schwartz. Dari buku itu, Dwi mulai mengenali dirinya dan apa yang hendak menjadi tujuan hidupnya.
“Punya banyak uang dan merasakan hiruk pikuk di Bekasi hingga Ibu Kota tidak menjamin kebahagiaan. Pekerjaan sehari-hari saya waktu itu juga selalu bergelut dengan mesin (benda mati), jadi tidak ada interaksi sama sekali. Sampai pada akhirnya saya mengenang kembali cita-cita saya waktu SMP, yaitu menjadi seorang guru matematika,” jelas Dwi dengan wajah sumringah.
Dwi pun mulai memberanikan diri untuk berunding dengan orang tuanya. Meski tetap berbeda pandangan hidup, Dwi akhirnya memutuskan untuk berkuliah di Pendidikan Matematika UMS dengan biaya pribadi. Semua biaya perkuliahan ia tanggung menggunakan aset yang telah ia miliki selama bekerja di PT Musashi Auto Parts Indonesia.
“Akhirnya saya memutuskan untuk resign dan melanjutkan kuliah. Kebetulan juga sudah tahu UMS sejak di SMK, karena saya pernah beberapa kali mengikuti kegiatan Temu Tegak Racana Ki/Nyi Ahmad Dahlan UMS Tingkat SMA/SMK yang menjadi agenda tahunan organisasi kepramukaan di UMS.”
Mengapa Harus Matematika?
“Padahal SMK jurusan Teknik Otomotif, mengapa tak memilih Program Studi Teknik Mesin tetapi malah Pendidikan Matematika?,” begitu pikir kami setelah menyimak prolog dari Dwi. Padahal, matematika sering dianggap sulit oleh beberapa siswa, banyaknya angka dan rumitnya rumus sering membuat mereka merasa putus asa
“Secara linguistik saya kurang begitu bagus, tapi secara numerik saya mahir. Selain itu, saya juga terinspirasi oleh guru matematika SD saya, meskipun terlihat garang dan tegas, tapi saya sangat suka sekali dengan kepiawaian dan keteraturan beliau dalam mengajar.”
Kami pun dengan spontan melontarkan pertanyaan, “Lalu apakah bapak seorang guru matematika yang tergolong killer atau fun di mata siswa-siswi SMP Negeri 46 OKU?.”
Dengan tertawa kecil, ia menjawab, “Saya rasa keduanya, tapi mungkin sebutan pertama jangan ‘killer’ ya, ‘serius’ mungkin lebih cocok. Menyenangkan ketika mengajari, serius ketika mengoreksi.”
Berdikari Merampungkan Kuliah
Menyandang title baru sebagai seorang mahasiswa di tahun 2009, pria yang hobi membaca buku itu berpikir bahwa dirinya harus mulai mencari pekerjaan sampingan untuk bisa bertahan melanjutkan kuliah. Mengingat keluarganya bukanlah kalangan berada, dan dirinya menyanggupi untuk berkuliah dengan biaya pribadi.
“Pernah juga bergabung di bimbingan belajar milik kawan sampai akhirnya saya berpikir untuk mendirikan bimbingan belajar (bimbel) sendiri khususnya untuk pelajaran matematika tingkat SD, SMP, dan SMA/sederajat,” ingat Dwi.
Masa-masa menjadi mahasiswa Dwi habiskan selama tujuh semester. Selama itu pula, ia menjadi mahasiswa "kura-kura" alias kuliah-rapat kuliah-rapat. Ia tergabung ke dalam Himpunan Mahasiswa Program Studi (HMP) Pendidikan Matematika selama dua periode, dan sempat menjadi Asisten Laboratorium Matematika.
“Selain sibuk kuliah dan membuka bimbel, saya pernah membuka warung makan juga. Dulu letaknya di belakang Fakultas Farmasi, namanya Spesial Ayam Kremes KYO waktu itu. Saya berpikir setelah lulus kuliah harus ada penghasilan sendiri. Dua bulan berjalan ada pemasukan yang lumayan, ternyata di bulan ketiga pegawai saya resign karena putus cinta. Sudah sempat ganti pegawai, tapi ternyata kurang cocok. Akhirnya di bulan ke empat warungnya saya tutup, karena ternyata saya mulai kewalahan dan kurang bisa memantau warung secara langsung.”
Dwi tampak menerima kegagalannya di usaha kuliner sebagai pelajaran, dan berpikir untuk kembali melanjutkan pekerjaan yang pernah ia jalani sebelumnya, yakni menjadi tutor. Sebab setelahnya, ia memutuskan untuk bergabung menjadi pengajar di Ganesha Operation Boyolali.
Pukulan Telak Menjadi Guru Honorer
“Setelah hanya tiga bulan di bimbel, saya memutuskan ikut istri hijrah ke Sumatera Utara untuk mengabdi sebagai guru,” sambung Dwi yang kini telah memiliki dua putra.
Dwi membuka babak baru dalam hidupnya sebagai guru honorer di Yayasan Pendidikan Subulussalam Sriwangi. Namun dirinya menyadari bahwa gaji yang diperoleh sebagai guru honorer tidaklah cukup untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Oleh sebab itu, ia harus bekerja keras mencari penghasilan tambahan. Pagi hari setelah subuh sebelum mengajar di sekolah, Dwi bekerja menyadap getah pohon karet di kebun milik mertua. Siang hari setelah pulang sekolah, Dwi membuka les privat di rumahnya.
“Di akhir tahun 2014, saya pamit dengan mertua. Bilang kalau tahun pelajaran baru nanti ingin kembali ke Jawa, karena kondisi ekonomi kala itu sangat sulit, bertahan saja terasa berat apalagi mau berkembang. Sembari menunggu waktu tersebut tiba, saya mencoba peruntungan dengan mengikuti tes CPNS. Formasi guru matematika hanya satu, alhamdulillah saya dinyatakan diterima dan tidak jadi pulang ke Jawa.”
Tak Berhenti Mengabdi untuk Negeri
Tepat sembilan tahun lalu, Dwi mengawali karier sebagai seorang Aparatur Sipil Negara (ASN). Ia ditugaskan menjadi guru matematika di SMP Negeri 46 OKU hingga kini.
“Di OKU, saya membutuhkan beberapa waktu untuk dapat beradaptasi, karena warga di sana terdiri dari berbagai suku dan bahasa yang berbeda. Di sana masih pelosok, desa berkembang, dan kesadaran orang tua untuk menyekolahkan anak masih rendah. Dari segi keamanan lingkungan pun masih rawan, jadi tidak disarankan untuk keluar malam-malam,” opini pria 35 tahun itu kala ditanyai pengalaman mengajar di Kabupaten OKU.

Potret SMP Negeri 46 OKU
Di tahun yang sama pula, ia mengikuti Uji Kompetensi Guru (UKG) yang merupakan sertifikasi wajib bagi seorang guru di dunia pendidikan. Berkat kejeliannya menuntaskan soal-soal ujian dengan skor di atas 80, Dwi berhasil memperoleh sertifikasi sebagai guru dan mendapatkan penugasan istimewa menjadi Instruktur Nasional Guru Pembelajar.
“Perjalanan karier saya terus berlanjut dengan baik. Tahun 2018, saya dipercaya untuk menjadi trainer Asesmen Kompetensi Siswa Indonesia (AKSI) for School, sebuah peran yang kemudian menjadi cikal bakal dari Program Asesmen Kompetensi Minimum (AKM). Selain itu, saya juga pernah berperan sebagai penulis soal Ujian Nasional (UN) mata pelajaran matematika tingkat SMP pada selama dua tahun, yakni di tahun 2018 dan 2019 yang waktu itu seleksinya dari Pusat Asesmen Pendidikan (Puspendik).”
Sebagai seorang guru, Dwi pun sempat melewati dinamika penghapusan Ujian Nasional oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) di tahun 2021. Kini pengganti Ujian Nasional disebut sebagai Asesmen Nasional, di mana soal-soalnya diambil dari Asesmen Kompetensi Minimum (AKM). Dengan kepiawaian yang dimiliki, Dwi kembali menjadi salah satu anggota tim penulis soal AKM Bidang Numerasi.
Tak heran jika Dwi mengaku sangat mencintai pekerjaannya sekarang. Beragam pengalaman menarik dan berkesan terus ia dapatkan selama berprofesi sebagai pendidik. Di tahun 2022-2023, ia berkesempatan menjadi pengajar praktik dalam Program Pendidikan Guru Penggerak Angkatan 5 dan berperan sebagai narasumber Berbagi Praktik Baik di Platform Merdeka Mengajar (PMM).
“Pengalaman tersebut menjadi landasan yang kuat bagi pencapaian saya selanjutnya, dari 33.000 guru yang mengikuti Program Pembelajaran Berbasis TIK yang diselenggarakan oleh Pusat Data dan Teknologi Informasi (Pusdatin) Kemendikbudristek. Saya kemudian dikukuhkan sebagai Duta Teknologi Kemendikbudristek Provinsi Sumatera Selatan tahun 2022. Terakhir, awal tahun 2024, saya terlibat sebagai Fasilitator dalam Program Pendidikan Guru Penggerak Angkatan 9. Semua yang saya lalui adalah bukti dari dedikasi saya dalam dunia pendidikan.”
Di akhir ceritanya, Dwi menyampaikan kepada kami bahwa ada satu kalimat motivasi yang sampai sekarang terus menginspirasinya, “Salah satu jalan yang akan mengubah nasibmu adalah pendidikan.” Kalimat sakti ini telah menjadi pendorong utama bagi Dwi untuk terus berjuang dan memberikan yang terbaik dalam setiap langkahnya sebagai seorang pendidik. Baginya, pendidikan bukan hanya sekadar memperoleh gelar akademis, tetapi juga menjadi kunci untuk membuka pintu kesempatan dan mengubah nasib seseorang menuju masa depan yang lebih baik.
Penulis: Genis Dwi Gustati
Editor: Al Habiib Josy Asheva
Berita Unggulan
UMS Newsletter
Tak ada yang lebih spesial dari membaca berita pilihan redaksi hanya untukmu.
Langganan gratis UMS Newsletter sekarang.








