
Badal Umroh dari Kacamata Tarjih Muhammadiyah
Badal umroh menjadi ibadah yang kerap dilakukan untuk mewujudkan bakti kepada orang tua dan memenuhi nazar. Bagaimana pandangan Muhammadiyah mengenai ibadah ini?
Mungkin ia tak pernah menyangka akan terbang jauh ke Pulau Borneo, meninggalkan sanak saudara dan orang tua setelah pengumuman kelulusan SMK. Perjalanan jauh ia tempuh, saban hari mandi peluh, itu semua ia lakukan untuk mengenyam jam terbang sebagai seorang mekanik di Adaro Service.
Ia adalah Riky Prasetyo, alumni Teknik Industri UMS 2018. Narasi di atas adalah babak pertama karier seorang Riky sebelum menempuh pendidikan tinggi di kampus.
Saat itu, umurnya belum genap 18 tahun, tapi ia tak gentar untuk pergi merantau. Ia merasa harus segera “dewasa” karena keadaan membuatnya demikian. Tiga tahun lamanya ia berjuang di tanah orang, merasakan pengalaman yang tentu memiliki dampak besar bagi hidupnya.
“Wah, kalau diingat-ingat, luar biasa sekali manfaatnya, Mas. Sebelum terjun ke lapangan, kami mendapat pelatihan Basic Mechanical Course (BMC) selama 3 bulan untuk memantapkan ilmu teknik,” terang pria asli Surakarta itu.
Selain itu, Riky juga memberi kami gambaran bagaimana ia dan teman-teman seperjuangannya digembleng langsung oleh TNI Kodim wilayah setempat terkait materi Bintalsik (Pembinaan mental dan fisik). Ia mengaku tahap ini benar-benar menguji durabilitasnya di lapangan. Dua proses itulah yang membuat Riky dan 40 peserta terpilih lainnya merasakan rasa perjuangan dan kekeluargaan yang erat.
“Tidak boleh cengeng, tidak boleh sambat, semuanya harus totalitas. Bakoh dan penuh semangat meski kita diuji di tengah panasnya bumi Kalimantan,” imbuhnya.
Ia kemudian mengajak kami menarik waktu jauh ke belakang, saat Riky kecil masih duduk di bangku kelas 2 sekolah dasar. “Rik, wong tuwa ora isa ninggali bandha, isa ne mung ninggali kepinteran” begitulah ibunya dulu berpesan. Orang tua yang bahkan tidak tamat SMP dan SD ditambah tiada seorang pun lulusan universitas di keluarga besar membuat Riky sadar perjalanannya akan sukar. Sempat merasa ciut, tapi pria berkacamata itu percaya bahwa ilmu dapat merubah taraf hidup seseorang.
Meski sudah mencicipi rasanya mencari nafkah sendiri, api semangat Riky untuk meraih gelar sarjana tak pernah padam. Tekadnya lebur dalam pendirian yang ia tautkan pada sepotong ayat “Apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertakwalah kepada Allah.” (QS. Ali Imran: 159)
“Saya dulu nekat resign, Mas. Bekal tiga tahun hasil merantau saya kuras untuk melanjutkan studi. Awal 2014 ambil cuti lalu daftar di One Day Service (ODS) UMS. Alhamdulillah, anak penjual sayur keliling ini bisa lulus sarjana,” tuturnya saat kami wawancarai via Whatsapp.
Tak lama bagi Riky untuk mendapatkan pekerjaan pertamanya setelah ia bergelar Sarjana Teknik (S.T.). Pria yang lulus dengan predikat cum laude tersebut mencoba peruntungan baru dengan merintis karier sebagai purchasing staff di sebuah CV di Kartasura. Umur kariernya di CV tersebut terbilang singkat.
“Meski hanya bekerja selama 6 bulan, saya banyak belajar dan mendapat pengalaman yang berharga,” kata Riky saat bernostalgia dengan kami.
Setelah meniti karier di perusahaan swasta, babak kedua karier Riky kini berjalan di Ibu Kota. Tahun 2020 kemarin adalah tahun di mana dirinya mengambil sumpah janji ASN (Aparatur Sipil Negara) untuk mengabdi sebagai Perencana Ahli Pertama di Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) atau yang sekarang dilebur bersama empat lembaga riset lainnya menjadi Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN). Di sinilah ia dapat kembali menyuburkan ingatannya tentang salah satu materi mata kuliahnya dulu, yakni Quality Control.
“Salah satu tugas utama saya yaitu melaksanakan proses monitoring dan evaluasi terhadap suatu kegiatan. Terutama pada bidang pengkajian dan penerapan teknologi, yang menjadi output kinerja lembaga. Ketercapaian suatu kegiatan harus diukur dan diawasi agar dapat berjalan sesuai dengan rencana yang telah ditetapkan,” Riky gamblang menerangkan.
Kepiawaian Riky dalam mengeksekusi tugas-tugasnya terbentuk lantaran ia selalu serius belajar selama kuliah. Dia paham betul bahwa daily tasks-nya senada dengan konsep PDCA (Plan, Do, Check, Action) yang pernah ia pelajari di UMS sebelumnya.
Empat tahun belajar di UMS bukanlah waktu yang singkat. Selama itu pula Riky menelan banyak sekali suka duka bersama sahabat-sahabatnya. Dirinya selalu bersyukur karena di UMS, ia dipertemukan dengan orang-orang yang dapat menjadi support system sekaligus tempat untuk saling memaksimalkan potensi masing-masing.
“Alhamdulillah dipertemukan dengan sahabat yang bisa saling memberikan masukan dan saran untuk bisa menjadi pribadi yang lebih baik. Kami sering berdiskusi bersama, baik membahas materi perkuliahan maupun saling bertukar informasi mengenai banyak hal. Bahkan sampai saat ini silaturahmi pun terus terjalin meski posisi kami saling berjauhan,” ujarnya.
Sebelum sesi interview ini rampung, kami lontarkan pertanyaan tentang dosen favoritnya. Dia teringat sosok Dr. Etika Muslimah, S.T., M.M., M.T.
“Saya kagum dengan gaya bahasa dan cara penyampaian materi kuliah yang mudah dipahami oleh mahasiswa. Beliau juga sosok yang sabar dalam menghadapi mahasiswa yang mengalami kesulitan dalam mencerna materi, sehingga beliau berusaha untuk menjelaskan dengan telaten,” jelasnya.
Setelah semua yang telah dilewati, Riky tak berniat untuk berhenti bermimpi. “Rasanya masih ingin belajar lagi. Mencari beasiswa kemudian lanjut studi S-2,” tandasnya.
Penulis: Al Habiib Josy Asheva
Editor: Gede Arga

Badal umroh menjadi ibadah yang kerap dilakukan untuk mewujudkan bakti kepada orang tua dan memenuhi nazar. Bagaimana pandangan Muhammadiyah mengenai ibadah ini?
Tak ada yang lebih spesial dari membaca berita pilihan redaksi hanya untukmu.
Langganan gratis UMS Newsletter sekarang.