Umar El Izzudin Kiat, S.Si., M.P.W.K., dosen Geografi Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS), berhasil mencetak prestasi gemilang dengan meraih penghargaan gold winner pada ajang bergengsi Anugerah Diktisaintek 2024. Pada penganugerahan yang berlangsung di Senayan, Jakarta Selatan, Jumat (13/12/2024) itu, Umar memenangi kategori Anugerah Prioritas Nasional pada bidang Penguatan Pariwisata.
Dalam proses seleksi, Umar mencoba membawakan presentasi tentang proyek kolaborasinya yang berfokus pada pengembangan agrogeo-tourism berbasis teknologi informasi geografi. Konsep proyek yang ia rancang ini menghubungkan Desa Maron, Larangan Lor, Mlandi, Tlogo, dan Menjer yang berada di sekitar Dieng, sebagai kawasan yang diharapkan menjadi pusat pariwisata berkelanjutan.
“Proyek kami ini dimulai dari Program Kedaireka Kemendikbudristek. Sebelumnya, saya sempat gagal tahun lalu, tetapi mencoba lagi tahun 2024 dengan dukungan dari LPMPP UMS,” ungkap Umar, Kamis (19/12/2024).
Lebih lanjut, dosen UMS itu menyebut proyek yang dikembangkan melibatkan kolaborasi intensif dengan Badan Usaha Milik Desa (BUMDes), pemerintah lokal, dan mitra swasta untuk memastikan inovasi yang diajukan benar-benar berdampak dan sustain bagi masyarakat.
“Melalui program ini, alhamdulillah berhasil mengangkat kawasan Margomarem sebagai salah satu lokasi prioritas nasional dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN),” imbuhnya menjelaskan.
Salah satu elemen utama dari inovasi karya Umar adalah pengembangan WebGIS Pariwisata Digital. Platform tersebut menyediakan informasi komprehensif untuk wisatawan, termasuk rekomendasi destinasi, paket wisata, serta data geografis yang relevan. Dengan pendekatan ini, wisatawan dapat merencanakan perjalanan mereka ke Dieng dengan lebih mudah, sekaligus memberikan peluang promosi digital bagi pengelola destinasi lokal.
Selain itu, Umar dan tim menciptakan Tourism Information Center (TIC) dan mengadakan pelatihan tata kelola pariwisata untuk masyarakat setempat.
“Kami ingin memastikan bahwa masyarakat di Margomarem tidak hanya menjadi penerima manfaat, tetapi juga pelaku utama dalam pengelolaan pariwisata. Mereka harus bisa mandiri, bahkan setelah program selesai,” tegas Umar.
Proses seleksi untuk penghargaan ini pun tidak mudah. Umar harus melalui berbagai tahapan, mulai dari penyusunan proposal, pitching, hingga evaluasi lapangan oleh panitia.
“Saat proses seleksi, kami juga diminta membuat video dokumentasi yang menunjukkan dampak nyata dari program kami terhadap masyarakat lokal. Alhamdulillah, sekali lagi justru disambut baik masyarakat di sana,” jelasnya.
Menurut Umar, yang membedakan inovasinya dengan peserta lain adalah pendekatan social engineering yang ia terapkan. Fokusnya bukan hanya pada produk fisik, tetapi pada pemberdayaan masyarakat secara sosial dan ekonomi. Demikian programnya tak hanya menghasilkan dampak jangka pendek, namun juga menciptakan ekosistem yang berkelanjutan.
Penulis: Genis Dwi Gustati
Editor: Al Habiib Josy Asheva
Cerita Alumni
UMS Newsletter
Tak ada yang lebih spesial dari membaca berita pilihan redaksi hanya untukmu.
Langganan gratis UMS Newsletter sekarang.







